Masalah Kereta Api

 

Naik kereta api tut.. tut.. tut..Siapa hendak turut?Ke Bandung Surabaya…Bolehlah naik dengan percuma… 

Masih ingat penggalan tembang kereta api di atas? Lagu yang amat melegenda dan mungkin menjadi senandung wajib bagi anak-anak. Dengan ceria bergandeng tangan dan mungkin sambil berlari-lari kecil, anak-anak menyanyikan lagu ini.

Sepintas mengajarkan kepada mereka tentang sebuah alat transportasi massal bernama kereta api. Ular baja yang mampu membawa ratusan orang dengan biaya yang relatif lebih murah,

Tapi perlahan namun pasti. Kereta yang dulu amat sangat sekali diharapkan sebagai moda transportasi yang efektif, nyaman, bebas macet, dan dapat menjadi moda penghubung antar daerah, pupus. Harapan yang tinggal harapan. Kereta api memang masih tetap mengangkut banyak penumpang, 625.000 per hari (khusus Jabotabek), atau mengambil kira-kira 2,5% pangsa angkutan kota. Namun dengan sebuah standar kenyamanan yang jatuh hingga ke titik nadir. (halah..parah amat bahasanya).

Dan tak disangka, tak dinyana, semua berawal dari pendidikan sebuah lagu kepada anak-anak. Dan hal tersebut dilakukan sejak dini serta intensif (biar hiperbolis). Coba saja perhatikan baris keempat larik lagu tersebut. Cerna baik-baik…sungguh sebuah pelajaran yang mangakar dan berusaha untuk dibudayakan sejak dini.

Sadar atau tidak, budaya ”naik dengan percuma” sudah benar-benar tersosialisasi dan terinternalisasi dengan baik. Bahkan, sangat baik. Lihat bagaimana berjejalnya penumpang memadati hampir setiap jenis kereta api. Mau lihat kereta rel listrik (KRL) ? Mungkin yang didapat tak hanya sekadar berjejal, tapi terjejal alias bisa terombang-ambing dalam lautan manusia dan kemudian terjatuh.

Atau mau juga naik kereta lokomotif kelas ekonomi. Gak jauh beda. Bahkan, bisa bergelimpangan di dalam gerbong. Bebas tidur seenaknya bila tak mendapat kursi. Plus aroma terapi yang tidak ter”plush” sebagai bonus perjalanan.Kelas Bisnisnya, gak mau kalah. Walah masih agak nyaman dan bisa menjadi pilihan kedua, bila kelas eksekutif tak mampu terjangkau. 

Masalah, Lagi-lagi MasalahSebagai moda transportasi massal, tentu saja, kereta api punya masalahnya sendiri. Setidaknya tak kurang lima masalah pokok yang harus segera dibenahi oleh pemerintah. Mulai dari jumlah pengguna jasa kereta api yang jauh melampaui kapasitas angkut, keterbatasan armada, kapasitas lintas yang mendekati jenuh, tarif kereta api kelas ekonomi yang sangat murah bahkan bisa ”naik dengan percuma”, stasiun yang masih sangat terbuka (tidak steril), hingga disiplin pengguna jasa kereta api yang masih kurang.

Sebenarnya semua masalah tersebut bisa dengan mudah diperbaiki, bila saja semua mengerti posisinya. PT KAI ibarat sebuah perusahaan yang harus bergulir, mencari untung, berkompetisi, dan membayar biaya rutin serta berinventasi. Dan semua itu tentu membutuhkan modal, berupa dana segar slah satunya.

Bayangkan saja berapa dana, katakanlah sebagai perbaikan kualitas kereta api kita, dan yang tentu saja akan sangat berdampak pada kenyamanan kita dalam berkereta. Perhatikan! Jumlah kereta api adalah 525 pada 2005, naik menjadi 1.125 pada 2007, 2.500 pada 2009 dan 3.200 tahun 2012. Sedangkan jumlah kereta api listrik (KRL) yang beroperasi : 233 (tahun 2005), 500 (tahun 2007), 1.111 (tahun 2009) dan 1.422 (tahun 2012).

Lihat juga trip se Jabotabek per hari pada 2005, 25.000.000, naik menjadi 27.000.000 pada 2007. Dan diperkirakan meningkat lagi menjadi 30.000.000 pada 2009 dan 32.000.000 tahun 2012.

Dan yang terakhir, perhatikan daya tampung penumpang kereta api Jabotabek per hari yang mencapai 630.000 penumpang pada 2005, 1.350.000 menjadi tahun 2007, 3.000.000 tahun 2009 dan 3.840.000 tahun 2012.

Sekarang, tinggal kalikan saja. Secara sederhana, gak usah muluk-muluk. Saya rasa uangnya bisa buat perbaikan sana dan sini. Dan tentu saja kenyamanan para penumpang dapat dengan mudah didpat.

Jadi, ganti pengajaran tak mendidik itu. Lupakan ”naik dengan percuma” !Dan ”Bayarlah Dengan Tarif Pertama” !!!   

Naik kereta api tut.. tut.. tut..Siapa hendak turut?Ke Bandung Surabaya…Bayarlah Dengan Tarif Pertama … (week susah nyari nadanya) 

Ayo, bayar tiket kereta api Anda !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s