WWC Dirjen P2PL Depkes

orangnya asyik, janjian 2 hari langsung acc. wwc sama dia kayak dikuliahin..serba jelas…banyak dan panjang, sampe bingung dari mana mulainya, sampe pliket, heheheh 

Dr. I Nyoman Kandun, MPH Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan : 

 ”Kita Itu Bangsa Miskin dengan Prilaku Bangsa Kaya….” 

Masyarakat kita memang unik, setidaknya begitulah yang dikatakan oleh Dirjen P2PL Depkes, I Nyoman Kandun. Disebut sakit hanya bila sudah digotong ke rumah sakit atau bahkan kritis menjelang kematian.

Hingga tak aneh rasanya bila masyarakat baru teriak setelah wabah merajalela atau penyakit telah merenggut nyawa.Padahal, tak hanya pengobatan yang harus dilakukan. Pencegahanlah yang menurut dokter yang senang disebut jebolan Inpres No 5/1974 ini paling efektif untuk dilakukan.

“Ibaratkan saya ngepel tapi gentengnya bocor, tidak akan selesai ngepelnya. Gentengnya harus diperbaiki dulu. Salah besar kalau terus nyorot yang di hilir, perbaiki dulu hulunya,” dia membuat pengandaian.

Lantas bagaimana sebenarnya pencegahan itu harus dilakukan. KomunikA berkesempatan mewawancarai dia di kantornya di Jakarta, (20/02). Berikut adalah petikannya.  

 

Saat ini banyak sekali penyakit melanda Indonesia. Gejala musimankah? Atau seperti apa? Mengapa tidak tuntas pemberantasannya?

Sebagian besar penyakit yang kita berantas itu berbasis lingkungan. Jadi kalau lingkungan jelek dan semakin jelek, maka penyakit itu akan terus ada. Dulu, sungai Ciliwung itu bisa dipakai noni-noni untuk berperahu. Sekarang, pekat. Bermacam sampah dibuang ke sana, lingkungan jadi rusak. Bisa jadi sumber penyakit.

Sebetulnya banyak penyakit yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Dulu misalnya, ada sebuah penyakit yang hanya ada di hutan. Begitu orang masuk, merambah dan merusak, jadilah mulai terkena. Penyakit “masuk” kampung. 

Lantas apa yang dilakukan Departemen Kesehatan (Depkes)?  

gini, ibarat sungai, Depkes itu ada di muaranya. Ngurus yang sakit, ada yang mati, semua. Apa yang dibuang di hulu akan sangat mempengaruhi hilirnya. Kami itu anal, anal itu burit. Apa yang dimasukkan ke mulut, itulah yang menentukan apa yang besok dibuang di anus.   

Maksudnya?

Jadi begini, saya jelaskan dari dasar. Karena sampai saat ini banyak wartawan kesehatan masih belum tercerahkan. Ketika ada masalah kesehatan, melototnya ke Departemen Kesehatan. Lha yang mencemari sungai itu siapa, yang bikin penyakit siapa? Kami memang menguasai teori bagaimana penyakit itu terjadi, gejalanya seperti apa, bagaimana mencegahnya, dan mengobatinya. Tahu harus begini dan begini.Orang kesehatan itu ada di hilir, ibaratkan saya ngepel tapi gentengnya bocor, tidak akan selesai ngepel nya. Gentengnya harus diperbaiki dulu.

Salah besar kalau terus nyorot yang di hilir, perbaiki dulu hulunya. Kalau dipotong di hulu, dampaknya akan luar biasa. Memang untuk memperbaiki hulu tidak semudah dan secepat yang diinginkan. 

Masyarakat yang salah?

Bukan begitu. Kita juga aparat pemerintah, sampai RT dan RW kurang getol dalam menggerakkan masyarakat. Masyarakat dan pamong, dua-duanya salah. Pamong itu juga termasuk RT, RW, dan DPRD, mereka juga punya otoritas untuk menggerakkan masyarakat. Jadi kalau ada kasus demam berdarah yang disebabkan nyamuk yang ada di lingkungan kita, itu karena kita sendiri yang pelihara dengan menimbun sampah yang bisa menampung air.

Lha membersihkan rumahnya sendiri saja, depan dan belakang, susah sekali. Jadi harus ada gerakan masyarakat. Sejak zaman kuda gigit besi kami sudah selalu upayakan. 

Selalu gagal?

Bukan masalah gagal, tapi belum menjadi suatu gerakan. Lihat sendirilah lingkungannya. Tidak usah diterangkan lagi. Lihat bagaimana comberan, orang buang sampah sembarangan, bahkan orang kaya sekalipun. Itu adalah common sense yang ada di depan mata. Dulu ada semacam gerakan disiplin nasional, gerakan jumat bersih, ada santri raksa desa, macam-macam lah. Kemudian ada lagi adipura, pendekatan healthy cities atau kota sehat.

Ada satu pepatah di Sulawesi Selatan, ”lele bulu la lele adiyasang”. Memindahkan gunung itu sulit, tapi mengubah prilaku itu lebih sulit lagi. Makanya di dalam skema Blum, status kesehatan masyarakat itu dipengaruhi oleh empat hal, keturunan, lingkungan, prilaku, dan layanan kesehatan atau rumah sakit. Yang paling besar pengaruhnya bagi kesehatan adalah prilaku dan lingkungan. Kalau keturunan itu kan yang disebut orang sebagai bibit, bebet, bobot.

Misal bapak diabetes, ibu diabetes, pasti anaknya diabetes. Banyak kemungkinan-kemungkinan untuk mengindari atau mencegahnya. 

Jadi, bagaimana solusinya?

Jadi ada the rule of F, aturan feces atau dikenal dengan tinja. Penyakit itu ditularkan melalui empat cara. Pertama dengan finger (jari), flies (lalat), field (lahan/tanah), dan fluid atau air tanah.Untuk yang pertama, sejak zaman Pak Harto (Mantan Presiden RI – red) sudah ada Inpres No 5 tahun 74 yang  bunyinya SAMIJAGA, sarana air minum jamban keluarga.

Jadi buat program untuk bagaimana caranya memasukkan air bersih ke perkampungan-perkampungan kumuh, miskin. Kalau air masuk dengan mudah, orang disuruh cuci tangan ya gampang saja. Nah ini air tidak ada, mau sentor di jamban, tidak bisa. Ya sudah ke kali saja, langsung ngalir 

Kongkretnya?

Pada tahun ini target kami di 111 kabupaten bisa menjangkau. Water sanitation in low income community. Kami punya proyek-proyek yang dibangun di masyarakat miskin. Tapi mereka harus siap untuk menerima proyek itu. Kalau tidak siap, tidak akan kami berikan. Jadi masyarakat harus kontribusi 20 persen, 4 persen cash dan 16 persen bantuan lain semisal tenaga. Ini untuk mendidik, memberdayakan masyarakat. 

Kriteria daerah yang akan dibantu?

Daerah yang sulit sekali air, namun masih ada mata air walau jaraknya cukup jauh dari masyarakat. Nah programnya untuk mendekatkan sumber air tersebut. Kami bekerja sama dengan PU, bisa dengan membangun reservoir memanfaatkan grafitasi. Tapi masyarakat diajak urun embug tentang penanganan di desa itu. Kami hanya memberikan fasilitator yang menunjukkan kebutuhan riil-nya, dan bukan apa yang dibutuhkan. Jadi kalau punya uang sekian, apa yang bisa dibuat. Berproses pembangunannya, kalau mereka sudah mantap, baru dibantu. Kami berikan pancingnya saja.

Masyarakat yang berdaya itu cirinya tiga. Harus bangun sense of belonging atau rasa memiki. Selanjutnya managed by the people atau dikelola oleh masyarakat. Dan tingkatan terakhir itu funded by the people. Contoh di desa kenongo, lumajang itu bagus. 

 Jadi kuncinya adalah penyediaan air bersih?

Kalau untuk yang penularannya oleh finger, kuncinya ialah SAMIJAGA, tidak ada yang lain. Cuci tangan, jelas harus ada air. Dengan cuci tangan, 40-60 persen penyakit yang melalui tangan dan mulut bisa kita cegah, cukup cuci tangan saja. Tidak usah bicara yang muluk-muluk. Apalagi kalau ditambah factor lain-lain, tentu akan naik upaya pencegahannya.

Kalau untuk faktor flies, hulunya di mana?

Sampah. Tidak ada sampah, tidak ada lalat. Sampah itu harus dirawat dan ditutup, jangan dibuka. Saya pernah disuguhi sashimi di salah satu hotel bintang, tapi saya tidak mau makan. Karena saya tahu, walau hotel mewah seperti itu, tapi sashiminya telah kotor dalam perjalanan. Dirubung lalat hijau sebelum sampai ke hotel. Jadi walaupun makan di tempat mewah atau pejabat sekalipun, kalau makanannya tidak bersih, ya sakit juga. Selama lingkungan kita tetap gitu.

Siapa yang jamin makanan yang saya konsumsi di restoran dengan pelayan berdasi, bisa dijamin sterilnya. Tidak ada.Waktu saya di Tokyo, sebelum saya makan yang mentah-mentah, saya coba ke pasar ikan. Gak ada lalat seekor pun, padahal tahu sendiri bagaimana pasar ikan itu. Karena tidak ada tempat dia berkembang biak, ya sampah itu. 

Memang seperti apa pengelolaan sampah?

Saya pernah pergi ke Australia untuk studi lingkungan. Di rumah tangga itu sudah dilakukan penyortiran sampah. Ini kertas daur ulang, bangga sekali mereka berkata itu. Kita ini kan negara miskin dengan prilaku kaya. Main buang aja kertas yang tidak terpakai. Nanti yang kais-kais pemulung. Nah mereka itu, Negara kaya tapi perilakunya miskin, semua di daur ulang. Jadi ketika di rumah tangga sudah dipisahkan sampah organiK dan anorganik. Dulu DKI Jakarta sudah pernah ada. 

Tapi malah hilang tempat sampahnya?

Hahaha. Ya, hilang semua dicuri. Di samping memang karena pendekatannya proyek, bukan program. Itu kritik saya lah. Di situ sampah yang bisa dijadikan kompos diurus swasta. Pemulungnya mungkin di ban berjalan kali. Kalau ada yang salah tempat, bisa diambil. Besi jadi besi lagi, kertas jadi kertas lagi.Yang diurus pemerintah itu, sampah pasar. Campuran dari plastiK, sampah, sayur-sayuran jadi satu. Memisahkannya sulit dan mahal. Diangkut ke tempat transit untuk disemprot, dkelembabannya baru ke tempat pembuangan akhir. Tempatnya yaitu tanah kritis yang tidak produktif. Bawahnya dikasih alas dulu, plastik yang tebal. Bahan-bahan kimia yang keluar dialirkan ke tempat pembuangan agar tidak mencemari lingkungan. Ketika sampah dituang, langsung ditimbun tanah. Tidak kelihatan sampah lagi.

Terus dilapisi sampai beberapa tahun, nantinya dibuat untuk lapangan golf, misalnya. Tidak boleh buat pemukiman, karena dapat berpengaruh terhadap kesehatan. Ini saya bicara di negara maju. Saya memang bukan ahlinya untuk bicara ini, tapi sebagai orang kesehatan yang ada di hilir, bisa kasih pendapat. Jadi kalau membangun itu harusnya dengan pendekatan kawasan, tidak terkotak-kotak. Dan memperhatikan lingkungan. 

Lantas apa yang harus dilakukan saat ini?

Yang paling utama adalah promotion of health. Hidup sehat, prilaku sehat, lingkungan sehat. Makan makanan bergizi seimbang, tidak merokok, tidak begadang, lingkungan bersih, rumah bersih, ventilasi sinar cukup, masyarakat masuk. Dan juga pikiran tenang. Proteksi yang spesifik, semisal imunisasi. Diberi polio untuk melindungi dari polio, campak dari campak. Kita pakai helm untuk melindungi diri dari penyakit. Kemudian diagnosis dini dan pengobatan dini. HIV positif misalnya, langsung obati. Dan andaikanpun sudah kena sakit upayakan pembatasan efek, dirawat dia supaya tidak cacat. Diobati. Dan jika sudah terjadi cacat, maka adakan rehabilitasi, jangan sampai dia menyusahkan orang lain.  

Promosi kesehatan sudah dilakukan?

Ya sudah. Tapi lebih gencar lagi promosi rokok. Kami ingin masyarakat sehat. Itu selalu jadi mimpi kami.  

Lantas bagaimana dengan “Indonesia Sehat 2010”?

Ya tapi bukan berarti seluruh masyarakat Indonesia itu sehat semua. Masyarakat Indonesia hidup dengan perilaku sehat, lingkungan sehat, dan punya akses terhadap pelayanan kesehatan. Mau sampai kiamat juga, pasti selalu ada orang sakit, tidak mungkin nol.  

Bagaimana dengan akses pelayanan kesehatan, sudah merata?

Kalau di daerah terpencil dan wilayah Timur Indonesia, masih belum merata. Tapi kemajuan kita ini sudah cukup pesat dibanding masa-masa lalu. Terlebih Indonesia itu luas. Kemajuan pembangunan kesehatan sudah terlihat dengan meningkatnya angka harapan hidup orang
Indonesia menjadi 67 tahun, Jepang 75 tahun.
Angka kematian balita dan ibu hamil sudah sama seperti negara maju. Dulu tahun 70an di satu kabupaten paling hanya 1-3 dokter, sekarang ratusan dan mungkin ribuan. Tapi tetap kita tidak puas, ingin mencapai yang terus lebih baik.    

Target untuk ”Indonesia Sehat 2010”?

Sejak tahun 1974 kan sudah ada 1 Puskesmas untuk 1 kecamatan. Dikirim dokter ke seluruh pelosok-pelosok daerah. Sekarang agak susah cari dokter yang bersedia ke ditempatkan ke pelosok. Undang-undang wajib sarjana didemo, kemudian diubah. Sekarang dokter merdeka, tidak mau dia ke daerah. Kecuali pemda kasih bayaran tinggi untuk mereka. 

Bukannya ada program pengabdian dokter?

Memang, tapi tidak wajib, dia bisa milih. Kalau dulu perintah, intruksi. Kalau zaman saya, pengabdian 3 tahun di luar jawa atau 5 tahun di Jawa, baru boleh spesialisasi. Sekarang, mau langsung juga boleh.

Pengertian sehat, menurut masyarakat Indonesia?

Sehat berarti tidak dibawa ke rumah sakit. Hahaha. Yang sakit itu yang dibawa ke rumah sakit. Padahal masyarakat kita itu antara sehat dan sakit. Baru kerja sebentar sudah lemas. Setealh di cek darahnya ternyata mengandung malaria, plasmodium kronis. Tapi karena bisa bergerak, dibilang sehat. Setelah terbaring, baru sakit. Manusia itu harus hidup dalam keadaan sehat dan harmoni dengan lingkungan. Sudah tidak ada lagi. Terjemahkan sendiri. ***(dan) 

3 thoughts on “WWC Dirjen P2PL Depkes

  1. saya juga gak begitu paham dengan code html ataupun bahasa lainnya. tapi saya suka coba coba sambil baca baca😀. banyak kok artikel untuk memperbagus blog. pokoknya yang penting ada usahanya aja.

    blog ini juga udah bagus kok, postingannya keren keren.

  2. saya setuju…..kesehatan tidak hanya urusan depkes tapi urusan kita semua…..

    btw, dimana bisa saya dapetkan referensi peraturan per-UU- an tentang RS ??? saya lagi nyusun thesis “Pengelolaan Limbah B3 di beberapa RS baik swasta maupun pemerintah…

    terimakasih !

    Nyoman Relana

  3. ok, menurut saya penyakit itu datangnya dari diri kita sendiri, sehat dari kita sendiri, saya punya saran kalo ingin sehat, “jangan sekali-kali kalau kita punya penyakit anggaplah kita itu sehat walau memang kita sedang sakit”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s