Tingkatkan Kesadaran Masyarakat

Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional, Yappi Manafe:

Tingkatkan Kesadaran Masyarakat

Penyalahgunaan narkoba kian marak. Pencegahan dan pemberantasan harus digalakkan. Seiring dengan itu, kesadaran masyarakat harus terus ditingkatkan. Tanpa partisipasi seluruh komponen masyarakat, angka penyalahgunaan narkoba akan melonjak. Terkait masalah tersebut, berikut wawancara reporter komunika Yosua Sihombing dan Dimas Aditya Nugraha dengan Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional, Yappi Manafe:

 

Foto : Dimas

Angka penyalahgunaan narkoba meningkat. Benarkah demikian?

Dari sudut pencegahan, permasalahan narkoba di tanah air harus digambarkan dulu dengan angka prevelansinya atau rata-rata penyalahgunaan di Indonesia. Sekarang sudah mencapai 2,2 % atau setara dengan 3,8 juta orang. Angka tersebut angka riil. Dibandingkan dengan angka prediksi yang mencapai 2,3 %, atau setara 4 juta orang. Memang ada peningkatan, tapi apabila dilihat dari angka prediksi sudah ada penekanan-penekanan. Kedua, dijelaskan juga bahwa proyeksi kita pada tahun 2015, apabila seluruh komponen bangsa dan seluruh komponen masyarakat tidak ikut berpartisipasi untuk melakukan upaya-upaya pencegahannya, diprediksi angka tersebut akan melonjak menjadi 5,1 juta atau 2,8 %.

Presiden pada 26 Juni 2011 mencanangkan Indonesia negeri bebas narkoba, dan tanggal 27 diikuti dengan dikeluarkannya instruksi presiden No. 12 tahun 2011. Di situlah dicanangkan Indonesia Bebas Narkoba 2015. Pengertian Indonesia bebas narkoba perlu dipahami oleh masyarakat, karena selalu ada salah persepsi bahwa pada tahun 2015 Indonesia tidak akan ada narkoba sama sekali. Itu salah, karena apabila kita buka peta dunia, di seluruh dunia tidak ada satu negara pun yang bebas narkoba. Semua negara sedang bergelut dengan masalah narkoba termasuk Indonesia. Jadi yang dimaksudkan dengan bebas narkoba 2015 adalah kita mampu menekan pertumbuhan angka rata-rata penyalahgunaan narkoba di bawah 2,8 %. Jadi di 2015 kita berusaha mati-matian mencegah angka tersebut mencapai 5,1 juta orang pada tahun itu.

 

Bagaimana upaya penanganannya?

Mengenai maraknya peredaran narkoba, pendekatan yang dilakukan tidak bisa hanya pemberantasan saja, tapi juga termasuk pengobatan atau demand reduction harus dilakukan, yang secara keseluruhan disebut integrative approach untuk menyeimbangkan antara supply dan demand. Tadi dikatakan  rata-rata penyalahgunaan narkoba di Indonesia 2,2%, berarti 97,8% yang belum terkena narkoba harus kita beri edukasi dan informasi dan bantuan advokasi pada mereka tentang bahaya narkoba, karena bahaya narkoba ini tidak hanya mengancam pengguna, tetapi juga orang lain. Narkoba ini ada kaitannya dengan kekerasan, ada kaitan dengan kejahatan lain seperti misalnya pencucian uang, human trafficking, dan terorisme. Oleh karena itu, pemberantasan harus terus digencarkan, dan juga yang belum terkena narkoba harus diusahakan menjadi imun dan bisa menolak penyalahgunaan narkoba.

Alasan lain perlunya penanganan integratif adalah Indonesia sekarang sudah menjadi produsen narkoba, dari yang dahulu hanya menjadi tempat transit dan pasar, terutama untuk narkoba-narkoba sintetis. Kalau narkoba alami seperti ganja  produksi terbesar di Aceh. Tapi narkoba sintetis ini yang paling sulit dikendalikan dan banyak diproduksi di Indonesia karena bahan bakunya bisa dibeli, seperti bahan-bahan kimia di pasar Glodok. Dan cara meramu bahan baku tersebut untuk menjadi narkoba bisa dibaca di internet. Untuk tempat pembuatannya juga tidak perlu ruangan yang besar, cukup 2 x 2 meter. Jadi di tempat tidur di rumah bisa menjadi laboratorium pembuatan narkoba. Produksinya juga bisa mencapai ribuan. Hal ini yang membuat sulit dideteksi keberadaannya.

Mengapa narkoba sangat berbahaya?

Dari segi medis, khususnya rehabilitasi dan terapi, tidak ada kata sembuh total, dalam arti sehat sedia kala sebelum menggunakan narkoba. Sewaktu-waktu dia bisa kambuh atau menggunakan lagi. Oleh karena itu perlu pendampingan terus. Karena itu, apabila semakin banyak korban dan kapasitas untuk perawatan tidak mencukupi, dalam jangka panjang akan terjadi ancaman lost generation atau satu generasi akan hilang. Sekarang ini menunjukan bahwa para pemakai adalah orang-orang pada umur produktif di atas 29 tahun. Mereka tulangpunggung bangsa. Apabila otaknya telah dirusak narkoba, bagaimana mereka bisa diandalkan. Padahal di negara kita, kapasitas ruang perawatan baru mampu menampung sekitar 20.000 orang. Oleh karena itu, sekarang BNN sedang banyak membangun pusat-pusat rehabilitasi. Masyarakat juga dihimbau ikut membantu dalam membangun pusat rehabilitasi, dan nantinya akan diberikan sertifikasi oleh BNN dan kementerian kesehatan. Ini untuk mempercepat agar kapasitasnya mampu menampung semua orang yang sudah menjadi pecandu.

 

Bagaimana tingkat kesadaran masyarakat?

Masyarakat sudah paham bahwa narkoba berbahaya. Apabila hanya diberi ancaman hukuman mati, menurut UU No 35 Tahun… Tentang ……, membawa narkoba diatas 5 gram diancam hukuman mati. Pemakaian  terdiri dari dua, dari dalam dan dari luar. Dari dalam adalah orang-orang yang hanya ingin coba-coba. Dari luar karena ada pengaruh salah pergaulan atau pemaksaan. Jadi semua itu tergantung dari kita. Kalau kita kuat, kita punya daya tahan dan bisa menolak. Banyak yang setelah direhabilitasi pun melakukan hal-hal yang positif. Jadi awareness atau kesadaran itu sudah ada, hanya saja masalahnya narkoba ini bersifat adiksi. Jadi walaupun sudah sembuh, di otaknya keinginan untuk coba-coba masih ada. Banyak yang sudah direhabilitasi kembali menggunakan narkoba lagi. Awareness dari masyarakat sudah juga terbangun, karena BNN menggunakan media-media seperti elektronik dan cetak untuk mengkampanyekan antinarkoba.

 

Bagaimana upaya kampanye bersama masyarakat dengan BNN?

Pada Instuksi Presiden No. 12 Tahun 2011 terdapat keterangan bahwa semua komponen bangsa termasuk sektor swasta bisa bekerjasama misalnya dalam bentuk nota kesepahaman atau MoU. Masyarakat bisa membuat semacam dialog, yang undangannya ditanggung masyarakat atau LSM, sementara BNN menjadi narasumbernya. Dari bulan Januari-April 2012 saja, BNN sudah memenuhi sekitar 20.000 undangan untuk menjadi narasumber dengan audiens mencapai 50.000 orang. Penyuluhan tersebut dilakukan dalam segmen pelajar, mahasiswa, karyawan swasta, dan organisasi masyarakat.

 

Apa hambatan yang paling besar?

Hambatan yang paling besar adalah karakteristik adiksi. Kalau sudah dinyatakan sembuh, perlu pendampingan sekian lama karena masih bisa kambuh lagi. Kedua, dari sisi pemberantasan, Indonesia terdiri lebih dari 17.000 pulau, dan kita baru bisa membaca 200 pintu masuk narkoba baik dari dalam maupun dari luar. Banyak pintu masuk “jalan tikus” yang masih belum terdata oleh BNN. Yang ketiga, harga narkoba disini sangat mahal, sehingga orang-orang menjadi tergiur untuk memakai.

Oleh karena itu, pemberantasan narkoba harus dibarengi juga dengan pencegahan dan penyembuhan, agar bisa berjalan bersama-sama. Untuk pencegahan sampai 2015 ada dua segmen, yaitu pada siswa atau pelajar agar mereka imun. Segmen kedua fokus pada tempat kerja, instansi pemerintah maupun swasta, agar para pekerja bebas dari penyalahgunaan narkoba serta menciptakan suasana kerja bebas narkoba. Tetapi selain itu juga ada segmen masyarakat umum yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s