“Tidak Ada Anak yang Bodoh…”

Prof  Yohannes Surya, Pendiri Surya Institute:

 “Tidak Ada Anak yang Bodoh…”

Pendidikan di daerah, tertinggal jauh dengan pendidikan di kota. Kondisi tersebut harus diatasi dengan cara yang tidak biasa. Salah satunya adalah dengan membangun kepercayaan diri di kalangan anak didik. Dengan sistem pembelajaran intensif, guru dan metode yang tepat, anak-anak dari daerah dapat meraih prestasi di tingkat nasional dan bahkan internasional. Terkait hal tersebut, reporter Komunika Farida Dewi Maharani dan Dimas Aditya Nugraha menghadiri salah satu seminar Prof Yohannes Surya, pendiri Surya Institute. Berikut petikan yang kami sampaikan dalam format tanya jawab:

Dalam pandangan Bapak, bagiamana kondisi pendidikan di daerah tertinggal?

Ketika kita bicara pendidikan di daerah, akan terdengar miris sekali, karena ada gap (jurang—red) yang sangat besar antara pendidikan di kota dan daerah. Di suatu daerah di Tolikara, Wamena, Jayapura, jangan kaget, ada anak SMA di sana menjawab 8 + 8 saja belum bisa. Apalagi perkalian, pembagian atau pecahan, masih jauh dari jangkauan mereka. Akibatnya, kepercayaan diri mereka rendah. Ada label yang tertanam, bahwa mereka tertinggal. Dan sebagai bagian dari bangsa ini, kita patut menangis melihat hal tersebut.

Lantas, apa syarat untuk membangun Indonesia jaya ini?
Bicara inovasi pendidikan, di daerah tertinggal tidak bisa diatasi dengan cara biasa. Sebagai contoh Papua, puluhan tahun Indonesia merdeka, mereka tetap biasa saja. Kalau kita bicara Indonesia Jaya, Indonesia besar tapi tidak memperhatikan SDM terbelakang ini, jadi percuma saja. Karena mereka juga merupakan bagian dari bangsa yang besar ini, kalau mau membangun saya harap satu syarat, bangun semua secara merata. Bagimana? Bangun kepercayaan diri mereka!

Langkah apa yang diambil setelah melihat kondisi anak-anak di pedalaman Papua?

Nah, saya coba bawa anak-anak dari sana ke Jakarta, kira-kira mereka masih bisa diubah tidak. Kemudian di Jakarta selama beberapa bulan dilatih, ternyata hasilnya luar biasa. Anak-anak yang dianggap tidak bisa apa-apa, ternyata perubahannya drastis. Mereka mampu menyelesaikan pelajaran matematika dari kelas 1-6 SD hanya dalam waktu enam bulan.

Bagimana reaksi Pemda setempat?

Karena melihat hal tersebut berhasil, Bupati Wamena tertarik untuk mengirimkan kembali lima siswanya di beberapa daerah yang masih mengenakan koteka. Bahkan lebih ekstrem, pertama kita bawa anak yang paling bodoh di kabupaten tersebut. Anak ini selama empat tahun tidak naik kelas dua SD. Kedua, kita bawa anak SMA yang tidak bisa berhitung sama sekali, dan beberapa anak dari pedalaman yang sangat tidak bisa diatur dan diajar. Mereka semua kita bawa ke Jakarta dan kita latih dengan guru yang tepat dan metode yang tepat.

Sejauh apa kemajuannya?
Kita bisa bandingkan dari sorot mata anak-anak ini. Waktu baru datang mereka tidak berpengalaman, takut sama pelajaran, takut kalau ada guru datang. Sekarang mata mereka lebih cerah. Jadi ada satu harapan besar ketika mereka bisa menguasai matematika dalam waktu singkat. Ternyata mereka bisa berubah. Ketika otak mereka berubah, maka otomatis pancaran mata mereka juga berubah.

Prestasi apa saja yang telah mereka raih?

Anak yang tidak naik kelas selama empat tahun tersebut kita latih matematika dalam waktu enam bulan, dan kemudian latihan membuat robot. Kemudian mereka mengikuti INAICTA dan mendapat mendali perunggu. Juara satu dan dua adalah mahasiswa, dan juara tiganya adalah anak SD yang empat tahun tidak naik kelas itu. Bahkan kalau tidak salah, mereka terpilih juga sebagai tim favorit.

Bagaimana dengan anak didik Papua lainnya?

Ya, anak-anak tersebut juga mendapatkan special award dari perlombaan sains tingkat internasional. Anak-anak yang dianggap tidak bisa apa-apa tersebut, ternyata bisa mendapat juara dalam lomba matematika dan fisika sains tingkat Asia. Mereka mendapatkan empat medali emas, lima perak dan tiga perunggu. Bayangkan, anak-anak bodoh dan tidak bisa diajar tersebut ternyata bisa juara tingkat Asia. Menjadikan mereka juara merupakan momen penting untuk membangun kepercayaan diri mereka. Bahkan mampu meletakkan satu beban berat yang selama ini ditanggung masyarakat Papua, yaitu stigma negatif bahwa anak Papua itu bodoh, terbelakang, pemabuk, dan lain-lain. Dengan perubahan itu, mereka siap membangun suku-suku mereka.

Bagaimana strategi mengatasi suatu daerah tertinggal?

Segala sesuatu tidak ada yang tidak mungkin, jadi kita bisa merubah bangsa ini. Kuncinya mendapatkan guru yang tepat dan metode yang tepat. Nah, kalau kita mau bangun bangsa ini, yang perlu kita lakukan adalah meningkatkan kepercayaan diri baik di daerah-daerah maupun perkotaan, sehingga mereka bisa lebih kreatif. Kemudian, mencetak guru yang baik dengan metode yang tepat.

Guru yang baik seperti apa?
Permasalahan saat ini, baik yang saya temukan di daerah tertinggal ataupun perkotaaan, adalah (kualitas) guru. Jangan kaget kalau bertemu guru ditanya 15 : 5 ada yang jawabannya 1. Itu masih terjadi di daerah tertinggal. Nah, kalau mau membangun bidang apapun, intinya harus mempunyai guru yang berkualitas. Minimal bisa mengajar sampai level Olimpiade selevel SD, SMP, SMA. Ini yang masih dan akan terus saya lakukan, mengumpulkan guru-guru dari daerah tertinggal dan mengembalikan mereka ke daerah asal setelah di-upgrade (ditingkatkan kualitasnya—red) selevel dengan level Olimpiade. Jadi tidak perlu takut lagi dengan Ujian Nasional. Jika ini bisa dilakukan bersama, maka 10-20 tahun ke depan Indonesia akan berubah secara drastis.

Metode yang benar seperti apa?

Metodenya adalah bagaimana menjadikan belajar itu menyenangkan, sehingga siswa tidak seperti belajar tapi seperti bermain. Jika metode mengajar menyenangkan, belajarpun menjadi cepat. Buat belajar menjadi gampang dan menyenangkan. Untuk belajar matematika kelas satu sampai kelas enam SD tidak perlu enam tahun, tapi cukup enam bulan. Untuk kelas satu SMP hingga kelas tiga SMA cukup 150 jam. Jika belajar satu hari empat jam, maka satu setengah bulan sudah selesai. Kurikulum kita sering mengulang-ulang sehingga waktu tempuhnya jauh lebih lama.

Dari pengalaman tersebut apa yang anda simpulkan?
Ketika anak-anak Papua dibawa ke sini, dilatih, dan menunjukkan hasil yang sama bahkan lebih, artinya orang tersebut bisa berubah. Otak manusia bisa berubah, karena otak manusia itu elastis dan bisa berubah tepat dengan cara yang tepat. Lantas saya berpandangan sesungguhnya tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah tidak ada kesempatan belajar dari guru yang baik dengan metode yang tepat. Akhirnya saya berfikir, inilah tantangan kita bersama. (faridadewi/dimas)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s