“Soal Listrik, Bicara Teknologi dan Ekonomi”

Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa MK, MT

Direktur Pengkajian Energi Universitas Indonesia

 

“Soal Listrik, Bicara Teknologi dan Ekonomi”

 Besar pasak daripada tiang. Konon demikian kondisi dunia kelistrikan Indonesia. Kebutuhan masyarakat akan listrik terus meningkat, angka pertumbuhan konsumsinya disebut mencapai 7% per tahun. “Dalam 10 tahun ke depan, kebutuhannya akan naik dua kali lipat,” jelas Direktur Pengkajian Energi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa MK, MT, ketika diwawancara Reporter Komunika, Dimas Aditya, Lida Noor, dan Frans Sembiring.

Sementara, soal pemenuhannya, guru besar Teknik Elektro Universitas Indonesia ini menyebutkan masalah pembangunan infrastruktur sebagai kendala utama. Padahal, kata dia, secara potensi, Indonesia punya semua jenis sumber energi listrik. Lantas apa yang seharusnya dilakukan agar listrik tak lagi byar pet? Berikut petikan wawancaranya :

 

Bagaimana potensi sumber energi listrik di Indonesia?

Di Indonesia, potensi sumber energi listrik, sangat beragam. Ada fosil dan nonfosil. Untuk fosil : batubara, gas, dan BBM. Sedangkan nonfosil, kita punya potensi besar, yaitu geothermal (panas bumi). Bayangkan, 40% retakan gunung dunia itu ada di Indonesia, dan di sana ada geothermal. Potensinya mencapai 27 GW, namun hanya bisa dieksplorasi 9 GW.

Kemudian ada energi air, PLTA. Sementara yang belum dikembangkan dengan baik adalah solar cell atau energi matahari dan samudra atau energi gelombang. Hak yang menggembirakan, Indonesia juga punya potensi untuk mengembangkan energi nuklir.  Indonesia punya Uranium, walau jumlahnya kecil. Namun, seluruh Bangka Belitung penuh dengan bahan galian yang namanya Torium. Bahan inilah yang akan menggantikan Uranium di kemudian hari.

Kemudian potensi juga bisa dikembangkan pada biodiesel. Ada kelapa sawit dan minyak jarak. Jadi, kalau kita bicara ketersediaan energi listrik, masyarakat tak perlu khawatir. Untuk ratusan tahun pun, Indonesia punya.

 

Lantas mengapa sering dikatakan Indonesia krisis listrik?

Kalau kita bicara listrik, akan terkait pada dua hal : teknologi dan ekonomi. Teknologinya apakah sudah mumpuni dan secara keekonomian harganya murah. Murah adalah berapa biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi listrik.

Sementara ini paling murah untuk fosil adalah batubara. Sementara paling mahal adalah minyak (BBM). Kita punya gas, celakanya, kita sudah punya perjanjian dengan negara lain. Semisal Tangguh di Papua.

Mengapa krisis listrik? Maka harus dibedakan antara sumber energi dengan energi listrik itu sendiri. Listrik adalah hasil konversi dari sumber-sumber energi tadi, ke energi sekunder. Jawabnya, tak lain tak bukan adalah infrastruktur. Butuh waktu lama dan teknologi. Yang terpenting adalah, apakah harganya bisa murah.

 

Infrastruktur?

Ya, ini juga bicara soal warisan lama. Dulu harga minyak dunia murah. Maka dibangunlah sebesar-besarnya infrastruktur untuk pembangkit listrik tenaga minyak. Pun dulu ada subsidi. Sehingga harga listrik bisa jadi sangat murah.

Beberapa tahun belakangan, harga minyak dunia naik, sementara harga listrik yang ditetapkan melalui aturan perundangan, tetap. Mulai kolapslah pembangkit listrik tenaga minyak tadi. Bahkan, kondisi sekarang, biaya produksi jauh lebih mahal dari pada harga jual. Yang paling sial adalah subsidi jadi membengkak, angkanya saat ini, Rp.50triliun.

Setelah itu, 5 tahun belakangan, dikembangkan secara besar-besaran pembangkit listrik tenaga batubara. Pemerintah membangun hampir ribuan instalasi baru. Dulu, batubara digunakan hanya sedikit saja.

 

Mengapa beralih ke batubara, tidak langsung ke energi nonfosil saja? Nanti kalau batubara mahal atau langka, Indonesia kena krisis lagi?

Dua hal, teknologi dan harga yang murah. Batubara, secara teknologi sudah terbukti. Dan yang pasti bisa mencukupi kebutuhan listrik masyarakat Indonesia yang terus meningkat jumlahnya, dalam waktu yang relatif cepat.

 

Maksudnya?

Kebutuhan listrik kita, besar. Membangkitkan listrik secara besar-besaran, apalagi untuk memenuhi kebutuhan listrik hanya dalam hitungan hari, secara teknologi, yang sudah terbukti di seluruh dunia adalah : minyak, batubara, gas.

Mau mengembangkan tenaga air? Dulu waduk Kedungombo dalam pembangunannya harus mengorbankan dan menenggelamkan beberapa desa. Sekarang, apa ada yang mau seperti itu? Yang ada juga demo.

Mau tenaga matahari? Biaya teknologinya sangat besar. Secara keekonomian, harga per kwh- nya tidak kena. Batubara harga kwh-nya Rp.350-450. BBM Rp.2400/kwh. Gas sekitar Rp.800an/kwh. Kalau matahari bisa Rp.4000an/kwh. Ada geothermal sekitar Rp.800an/kwh.

Kondisi sekarang, biaya pokok produksi Rp.1180/kwh. Sementara harga jual / kwh ke masyarakat Rp.680, kemudian Juli kemarin naik menjadi Rp.800an/kwh.

Bingung bagaimana mengejarnya. Pertumbuhan kebutuhan listrik terus naik. Sementara yang gampang dibangun dan tambangnya jelas, adalah batubara, gas, dan minyak. Masalahnya mahal.

Pakai batubara, sebenarnya Indonesia dilemma. Bagaimana tidak, Indonesia sudah komitmen untuk menurunkan emisi karbon sampai dengan 26%. Lah ini pembangkitnya saja masih pakai energi fosil

 

Lantas?

Mau pakai geothermal? Celaka juga, tempatnya kebanyakan di hutan-hutan, terlebih hutan lindung. Apa mau dibabat?  Pastinya, butuh pembangunan infrastruktur dan tentu saja waktunya lama. Belum lagi masalah teknologinya yang mahal. Sementara masyarakat sudah protes byar pet.

 

Nuklir?

Nuklir memang sudah dikembangkan di Amerika Serikat, mereka punya 150 instalasi listrik tenaga nuklir. Jepang dan Korsel mayoritas listrik mereka dari nuklir, di Perancis, 80 % listrik juga dari nuklir. Di Indonesia? Wuih, penolakannya. Ampun deh.

Padahal, nuklir yang digunakan saat ini, sudah generasi yang keempat, secara teknologi, zero risk (bahaya nol). Nuklir ini teknologi masa depan. Memang investasi awalnya besar, tapi biaya produksi per kwh-nya, kecil. Mengapa murah? Karena bahan bakunya sedikit dan murah. Dan buangannya bisa jadi bahan baku lagi. Soal tempat saja, nuklir hanya membutuhkan 1/80 dari minyak dan batubara untuk menghasilkan daya yang sama. Ini adalah teknologi masa depan yang harus kita kuasai.

 

Tapi tetap ada limbahnya?

Saat ini, kalau sebuah negara ingin mengembangkan nuklir, yang mengawasi tak hanya internal negara tersebut. Tapi Anda akan berhadapan dengan dunia. Ada badan dunia yang mengawasinya dengan ketat. Kalau sudah diperbolehkan beroperasi oleh mereka, artinya aman. Lagipula, masa dari sekian banyak masyarakat Indonesia, tidak ada yang kerja dengan profesional. Yang benar saja.

 

Lantas?

Masyarakat kita, resistensinya masih sangat besar. Jangankan nuklir, di lingkungannya ada tempat pembuangan sampah saja, penolakannya luar biasa. Prinsipnya, asal jangan di lingkungan saya.

Soal gempa, Jepang itu negara gempa. Tiga bulan sekali. Keamanannya, tergantung konstruksi. Makanya di Jepang yang sering gempa biaya, harga jual listriknya lebih mahal dibanding Korsel yang jarang gempa. Karena pembangunan konstruksi di Jepang lebih rumit dan mahal. Karenanya investasinya jadi mahal. Harganya pun lebih mahal dibanding di negara yang jarang gempa.

Ada keuntungan lain jika mengembangkan nuklir, soal ketahanan negara. Yang punya dan menguasai teknologi nuklir akan sangat berwibawa di mata dunia. Negara tetangga kita, Malaysia, sudah mulai membangun, mereka cepat paham bahwa nuklir adalah masa depan.

 

Solusinya?

Kita tidak boleh mengandalkan satu jenis sumber energi saja. Harus ada bauran atau mix energy. Dalam rangka menguasai teknologi untuk ke depan. Ingat, listrik itu bukan hanya untuk generasi sekarang dan bukan cuma untuk generasi yang akan datang. Batubara, 5 tahun lalu masih diprediksi mampu bertahan 150 tahun. Setelah dieksplorasi ternyata cuma bertahan 100 tahun. Bagaimana dengan anak cucu kita?

Cara berpikir kita saya pikir sangat salah. Prediksi masih 100 tahun lagi habisnya, ya sudah kita pakai saja dulu, kan masih lama. Sehingga kita telat dalam mengantisipasinya. Sekarang kita balik saja pikiran itu. Nah kalau tinggal 100 tahun, kita sayang dong, orang Jawa bilang eman-eman (irit – red) Pakainya sedikit-sedikit. Agar anak cucu kita juga ikut merasakan.

 

Bagaimana agar listrik dapat dinikmati seluruh masyarakat?

Untuk menjawabnya, maka harus menentukan, listrik itu komoditas atau infrastruktur. Kalau komoditas, hitung berapa biaya produksi, berapa harga jual. Tapi kalau infrastruktur, maka harus disubsidi untuk mempercepat pengembangan pembangunan. Listrik sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Ada listrik, ada pabrik.

Dan saya pikir, di Sumatera dan Jawa, kita harus berpikir listrik adalah komoditas. Sementara di pulau lain adalah pembangunan infrastruktur yang harus dapat subsidi.

 

Subsidi?

Kondisi saat ini, baru 65% masyarakat Indonesia yang dapat menikmati listrik. Garis bawahi, listrik yang disubsidi. Sudah dapat listrik disubsidi pula. Sementara 35% masyarakat, belum menikmati listrik.

Harusnya lebih bijak dalam memberikan subsidi. DPR mempertahanankan bahwa subsidi harus tetap ada, alias harga listrik tidak boleh naik dengan alasan banyak masyarakat yang tidak mampu.

Tapi mana yang lebih butuh subsidi, masyarakat 65% yang sudah dapat listrik, atau yang 35% yang tidak menikmati listrik? Kalau saya, mending subsidi tersebut kita kasih ke 35% penduduk Indonesia. Bangun untuk mereka. Sudah tidak dapat listrik, tidak dikasih subsidi pula. Yang 65%, sudah dapat listrik, eh dikasih subsidi bayar murah. Kalau mau berkeadilan, kasih yang 35% itu uang. Tidak dapat listrik okelah, menunggu waktu. Tapi kalau subsidi harus merata ke seluruh Indonesia.

Masyarakat Indonesia itu cenderung konsumtif. Berasa murah bayar listrik, jadinya royal. Lampu tidak dipakai saja, tetap nyala. Matikan dong. Harusnya tahu bahwa itu subsidi. Ingat masyarakat yang tidak dapat listrik.

Memang kalau soal subsidi, di setiap negara ada. Tapi harus berjenjang. Rumah saya daya listriknya 3300 watt, tapi saya dapat subsidi. Padahal saya merasa mampu. Yang perlu dapat subsidi sebenarnya kan hanya yang dayanya 450 W atau katakanlah 900 W. Harus ada struktur subsidi yang jelas. Yang mampu jangan kasih subsidi lagi. (dimasnugraha@depkominfo.go.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s