“PKL, Pedagang Pasar dan UMKM Juga Investor!”

Walikota Solo, Joko Widodo:

  “PKL, Pedagang Pasar dan UMKM Juga Investor!”

 

Foto: Dimas

Nama Walikota Solo, Joko Widodo, mendadak menjadi perbincangan nasional pasca kebijakannya melakukan penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) dengan cara yang manusiawi. Tidak hanya itu, kebijakan Pemerintah Kota Solo dalam memberikan perlindungan terhadap pasar-pasar tradisional, meningkatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan, serta upaya pemberantasan korupsi, membuat pria yang akrab disapa Jokowi ini dianugerahi penghargaan sebagai  Walikota terbaik se-Indonesia April 2011 lalu.

Apa dan bagaimana kebijakan prorakyat kecil ini dijalankan di Kota Solo? Reporter komunika, Dimas Aditya Nugraha mewawancarai Jokowi di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

 

Anda menolak permohonan pendirian mal di Solo dan lebih memilih membangun pasar, mengapa?

Di Solo, dalam lima tahun, dari 15 mal (pusat perbelanjaan-red) yang mengajukan permohonan, hanya satu yang kami beri ijin. Mini market yang minta 140, yang kami kasih hanya 12. Sementara pasar tradisional, dalam lima tahun kita bangun 15 pasar. Sejak 40 tahun lamanya, tidak ada satupun pasar tradisional yang dibangun di Kota Solo.

 

Mengapa?

Pemerintah harus mengendalikan, manajemen ada di kita. Kalau kita buka semua, Solo bisa jadi hutan mal. Saya kira ekonomi rakyat kita ya itu sebenarnya, pasar tradisional. Jangan sampai hanya mal, supermarket, dan hipermarket diberi ruang. PKL tidak pernah diberi ruang di sebuah kota. Pasar tradisional banyak yang tidak dibenahi, dibiarkan begitu saja. Dia akan mati dalam sebuah kompetisi global yang seperti ini.

 

Anti investasi?

Yang mau buat mal, silakan. Tapi tidak banyak-banyak lah. Di kota lain sampai 15 – 20 mal. Di Solo, masyarakat saya ya pasar tradisional. Kita itu selalu bicara tentang ekonomi kerakyatan, tapi dalam tindakan konkret, saya lihat belum. Kita selalu bicara harga saham, ini dan itu. Itu dilakukan tapi gaungnya jangan sampai mengalahkan rakyat kecil yang jumlahnya 42 juta. Itu yang harus diurus dengan intens dan khusus, sehingga menggerakkan ekonomi kita. Ekonomi kita itu ya di situ saja.

Seharusnya?

Pertama, mereka kita tata. Setelah ditata, dipromosikan. Artinya publikasikan di teve, koran laiknya promo mal, proses manajemen bisnis harus dilakukan. Kemudian ada koreksi-koreksi, yang kurang apa, diperbaiki terus. Kemudian juga mereka diberi pelatihan, tapi yang real. Contoh, bagaimana menata barang, ini penting sekali. Kemudian bagaimana membangun sebuah jaringan atau networking, mengenai manajemen keuangan. Sangat sederhana, tapi mereka harus tahu agar bisa berkompetisi. Tentang entrepreneurship. Kita bentuk agar mereka bisa mandiri dan bersaing. Saya yakin mereka bisa bersaing karena mereka lebih efisien. Wong pajak saja mereka tidak bayar. AC juga mereka tidak pakai. Yang membebani kan yang seperti itu. Sewa ruang juga tidak terbebani. Seharusnya mereka menang berkompetisi, tapi tidak pernah diberi perhatian yang amat sangat oleh pemerintah. Sehingga mereka takluk.

Menata PKL konon sulit dilakukan, kerap terjadi konflik di berbagai daerah?

Yang sulit di awal, tujuh bulan kami 54 kali bertemu, masih belum bicara penataan. Sekadar bicara, dari hati ke hati. Maumu apa sih, keinginanmu apa, kok nggak mau pindah kenapa? Mereka menjawab, mau pindah pak, tapi trayek angkutannya ke arah sana. Pak, kiosnya jangan bayar ya, gak mampu kami. Ya, kita gratiskan. Padahal ya sebenarnya tidak gratis, wong setiap hari kita pungut Rp 2.600 selama 8 tahun, lunas. Tapi karena cicilannya kecil, ya ringan saja untuk mereka.

Proses selanjutnya, cukup tiga sampai empat kali bertemu. Karena sudah ada kepercayaan bahwa walikota akan membawa ke arah yang lebih baik, maka tidak ada masalah. Kita menata 15 pasar, melokalisasi pedagang kaki lima di Solo dalam 23 lokasi, dan merelokasi 5.000 kepala keluarga penghuni bantaran kali tanpa keributan.

Saya pikir itu hal yang semua orang bisa lakukan. Kita hanya ingin memberikan inspirasi pada daerah lain bahwa yang namanya penanganan Pedagang Kaki Lima (PKL) dan pasar tradisional bisa ditangani secara partisipatoris. Mereka kita ajak untuk mempersiapkan dan merencanakan seperti apa ke depannya. Karena bukan lagi jamannya melakukan hal tersebut dengan cara represif. Ada yang namanya ilmu intervensi sosial, komunikasi yang baik, menanyakan kepada mereka butuhnya apa, inginnya seperti apa, kekhawatiran mereka apa?  Kalau kita bisa menjawab itu, saya pikir persoalannya akan selesai.

 

Pasar Klithikan, Solo
Foto: Dimas

Kebanyakan investor dimaknai investasi asing?

Ya, ada kecenderungan kalau bicara investor selalu investasi asing. Jangan keliru, bahwa yang namanya investor itu tidak harus orang asing yang bawa uang triliunan. PKL juga investor, pedagang pasar juga investor, usaha kecil mikro (UMKM) juga investor, tapi ya memang skalanya kecil sekali. Persepsi ini yang seringkali salah. Mind set (pola pikir) seperti itu harus diubah.

 

Apa yang harus dilakukan Pemerintah Daerah lain dalam membangun ekonomi kerakyatan?

Semua infrastruktur yang berkaitan dengan pasar, PKL, UMKM, disiapkan. Pasar tradisional becek, bau, kotor, siapa yang mau datang. Bangun dan bersihkan. Agar tertata, rapi, ada tempat parkir. Ibu-ibu datang dengan nyaman walau tidak pakai AC.

 

Investasi dan ekonomi kerakyatan, tidak bertentangan?

Tidak, asalkan anggaran dan bujet diarahkan ke ekonomi rakyat kecil. Sekarang sepertinya anggarannya ada. Kemudian soal kesehatan, bisa kami anggarkan sampai Rp 9 miliar, dulu hanya Rp 1,4 miliar. Dulu lebih ke infrastruktur yang tidak memberikan dukungan ke rakyat kecil. Sekarang kita coba arahkan untuk hal-hal yang langsung bersentuha dengan rakat kecil.

 

Masyarakat masih mau pergi ke pasar?

Mau. Silakan saja kalau pagi ke pasar di wilayah manapun di Solo, pasti uyel-uyelan (berdesakan-red). Karena di pasar barangnya fresh, harganya lebih murah, ada tawar-menawar dan interaksi, itu kan tradisi kita. (dimasnugraha@mail.kominfo.go.id)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s