Meretas Masalah Klasik Sang Pemburu Ikan

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Kementerian Kelautan dan Perikanan

Prof. Ir. R. Sjarief Widjaja, PhD., FRINA

 

Meretas Masalah Klasik Sang Pemburu Ikan

 

Banyak yang bilang, sulit betul jadi nelayan. Tempat tinggal kumuh, sulit melaut, tangkapan nihil, ditambah pula resiko tinggi. Belum lagi masalah perubahan iklim yang terus menghantui perburuan rejeki di lautan lepas. Jerat kemiskinan seakan tak mau lepas dari para pemburu ikan ini.

Lantas apa sebenarnya masalah yang dialami para nelayan ini dan bagaimana program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan mereka ? Reporter Komunika, Dimas Aditya Nugraha berkesempatan mewawancarai Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Prof. Ir. R. Sjarief Widjaja, PhD., FRINA. Berikut petikannya :

 

Kondisi nelayan selalu dalam lingkaran kemiskinan. Apa masalahnya?

Nelayan kita kebanyakan masih hidup berbasis pada tradisi masa lalu. Melaut dengan mengikuti konsep para pendahulunya. Pakai kapal-kapal kecil. Sehari menangkap ikan, kemudian kembali ke daratan. Hasilnya, separuh dimakan, separuh dijual. Sesederhana itu. Masih memikirkan kebutuhan makan saja.

Kelompok nelayan juga terkadang kurang pandai dalam mengelola keuangan. Mereka melihat bahwa selama ikan di laut tidak habis, maka rejeki mereka tetap ada. Asal mau ke laut pasti dapat ikan, dapat rejeki, berapapun jumlahnya. Laut ada, ikan ada, uang juga pasti ada. Maka begitu ada ikan, biasanya tingkat konsumtifnya tinggi. Sehingga cepat sekali menghabiskan uang yang diperoleh. Mereka kurang terampil dalam bagaimana mengelola investasi di dalam hidupnya sendiri dalam keluarga. Akibatnya tidak ada peningkatan penghasilan.

 

Bagaimana pengaruh teknologi semisal motor tempel?

Awalnya memang bertujuan agar lebih cepat dalam perpindahan lokasi. Namun ternyata punya dampak lain kepada mereka. Pertama mereka kehilangan sense (rasa-red) bagaimana berlayar yang baik. Pengetahuan tentang arah angin, gelombang, ikan, dsb. Ini terjadi di setiap nelayan dan pengusaha perikanan yang menggunakan kapal tradisional. Ketika dulu mereka menggunakan layar untuk melaut, selain daya jangkaunya lebih luas, kepekaan tentang cuaca dan alam secara alami ada. Sekarang tren di dunia “kembali ke layar”.

 

Sense, penting?

Tentu. Terlebih sekarang ada masalah perubahan iklim, penebangan pohon bakau. Sudah abrasi, gelombang tinggi, angin kencang. Ditambah jumlah nelayan dan kapal yang terus bertambah, masalah jaring troll yang membunuh ikan-ikan kecil. Saat ini nelayan mengalami kondisi di mana sumber daya ikan yang ada di pesisir, habis.

Ikan lari ke tengah lautan. Sialnya nelayan tak bisa menangkap di sana. Kapal mereka kecil, gelombang tinggi, angin kencang. Parahnya melaut tanpa ada sense. Resiko kian tinggi. Akibatnya, jadi jarang melaut. Tentu tak ada penghasilan.

Perusahaan besar tentu tak masalah pada gelombang dan angin. Kapal mereka besar. Justru panen, di kala gelap, musim angin kencang, dan gelombang tinggi, malah banyak ikan. KKP ada program Kelompok Usaha Bersama (KUB). Ada bantuan pinjaman modal untuk pengadaan kapal ukuran besar. Kapal yang mampu berlayar ke tengah laut. Dengan berkelompok ada usaha bersama.

 

Banyak masalah?

Mereka juga ada ketergantungan terhadap bahan bakar. Subsidi bahan bakar nelayan dari pemerintah tentu tak sebesar kebutuhan di lapangan. Tak akan pernah cukup dan tentu bukan itu solusinya.

Bahan bakar sekarang mahal. Akibatnya, harga jual produk dengan biaya operasional mulai mendekat. Selisih keuntungan mereka sedikit. Hingga sampai pada satu titik, terlilit ketiadaan modal untuk melaut.

Begitu tidak ada modal, maka ada orang yang memberi pinjaman modal. Kemudian berlanjut dengan adanya hubungan emosional yang kuat dengan pemberi pinjaman tersebut. Maka begitu para nelayan ini mendarat dari laut, maka yang menangkap pertama adalah yang memberi pinjaman. Dalam posisi seperti itu, nilai tawar para nelayan menjadi rendah. Setelah berlangsung terus menerus, mereka tidak bisa lepas dari ikatan tadi. Ini problem klasiknya.

Masalah lain adalah pendidikan. Karena keterbatasan ekonomi, maka anak-anak nelayan ini akan mengikuti jejak orang tuanya, melaut. Begitu mengikuti jejaknya, mereka tidak bisa sekolah, biasanya sampai SMP sudah disuruh ikut melaut.

 

Lantas bagaimana upaya mengeluarkan mereka dari jerat kemiskinan?

Saat ini jumlah pelaku usaha di sektor perikanan sekitar 6,7 juta terdiri dari : 2,7 juta nelayan; 2,5 juta pebudidaya; serta 1,5 juta adalah pedagang, pengumpul, dan pengolah. Dari angka tersebut tidak semuanya miskin. Namun memang nelayan hidup dalam sistem kelompok masyarakat. Ketika pendapatan nelayan turun, maka akan memengaruhi ekosistem di sekitarnya. Ada multiplayer effect ke komunitas yang lain.

 

Bagaimana solusinya?

KKP punya dua target : menggenjot produksi sehingga menjadi yang terbesar di dunia pada 2015 dan meningkatkan kesejahteraan nelayan. Pertama kita harus buat pusat-pusat pertumbuhan atau disebut minapolitan. Di sana dikembangkan perikanan tangkap, budidaya, dan industri garam secara terintegrasi. Pusat inilah yang nantinya diharapkan dapat berdampak pada daerah sekitar. Akan menarik nelayan ke sana. Di beberapa daerah sudah berjalan, yang tradisional ada di Bagan Siapi Api, Muncar, Jepara, Pekalongan. Sedangkan untuk meningkatkan kesejahteraan, ada program yang disebut PUMD (Program Usaha Mina Pedesaan). Misalnya mina padi, sawah disanding dengan ikan lele atau ikan patin.

 

Setelah produksinya banyak, apa yang dilakukan?

Kita harus yakin, ada yang makan ikan. Jadi harus kampanye, bahwa protein tidak hanya daging. Semisal kita bicara ketahanan pangan : ada beras, jagung, kedelai, daging, dst. Tapi ikan tidak masuk. Ini yang sedang diperjuangkan. Produksi kita tingkatkan, konsumen ada.

Karena konsumsi ikan kita masih rendah, hanya 28kg/orang/tahun. Di Jepang sudah 54kg/orang/ tahun. Padahal harga ikan jauh lebih murah dibanding ayam dan daging. Ini masalah kebiasaan. Di Jawa memang sebutannya makan iwak (ikan-red bahasa Jawa). Tapi ya itu, iwak tahu, iwak tempe, iwak ayam. Hahaha. Tahun ini kita dorong menjadi 31 kg dan dinaikkan lagi menjadi 37 kg.

Kemudian secara lebih detil lagi, harus ditunjang dengan benih unggul, pakan ikan, antisipasi penyakit, teknik pengolahan ikan yang benar harus disosialisasikan kepada mereka. Misal ikan Tuna, cacat sedikit ketika proses pengolahan, maka dianggap rusak, tidak bisa dieskpor lagi.

 

Bagaimana agar nelayan lepas dari tengkulak?

Mereka terikat dengan tengkulak dikarenakan tidak ada akses pasar, akses modal, akses teknologi, dan akses jaringan. Ini yang harus dibangun oleh pemerintah pusat dan daerah. Kalau mau mereka baik : dilatih, dikasih modal, kemudian didampingi. Jangan hanya latih dan modal saja. Justru bagaimana membina mereka agar punya ketahanan, itu yang penting. Ini masalah kebiasaan, merubahnya butuh waktu. Kemudian bentuk kelompok-kelompok supaya ada penetrasi yang cukup bagi lingkungannya.

 

Butuh waktu?

Ya, bimbing agar tahu bagaimana mengelola keuangan. Maksudnya ketika punya uang banyak tidak langsung dihabiskan. Bisa dpakai buat nyekolahkan anak, nambah modal industrinya, bisa beli kapal. Dia tahu caranya bagaimana hidup sejahtera. Ini caranya bagaimana memutus rantai kemiskinan di kalangan para nelayan.

Selain itu harus ada pendekatan sosiokultural. Mereka ikatannya lebih dekat dengan keluarga, pesantren. Penyuluhan kami mendorong adanya role model. Masyarakat kita adalah masyarakat patronis. Jika ingin masyarakat berbuat baik, maka beri contoh dengan orang yang baik. Inilah yang coba kita bangun. Agar orang-orang sukses dapat dikenal orang, dapat menjadi contoh bagi orang lain. Sehingga orang lain mencoba berlomba-lomba menjadi baik.

 

Mengapa KUR sukar diakses bagi nelayan?

Problem bagi nelayan, mereka itu tidak punya jaminan. Tanah mereka rata-rata tidak punya surat tanah. KKP bekerjasama dengan Badan Pertanahan Nasional coba membantu nelayan untuk mempercepat proses sertifikasi tanah tambak. (dimasnugraha@depkominfo.go.id)

 

 

Biodata

Nama                          : Prof. Ir. R. Sjarief Widjaja, PhD., FRINA

Tempat, Tanggal Lahir: Surabaya, 20 Juli 1963

Pendidikan                  : a. S1 Naval Architecture, ITS Surabaya, 1982 – 1987.

b. Master Course in Ship Production Management, Department of

Ship and Marine Technology, University of Strathclyde, Glasgow,

UK, 1988-1989.

c. Doctor of Philosophy, (PhD) in Computer Aided Ship Production,

Department of Ship and Marine Technology, University of

Strathclyde, Glasgow, UK, 1989-1992.

Karir                            : a. Dosen di Fakultas Teknologi Kelautan, ITS Surabaya 1987 – sekarang.

b. Kepala Divisi Produksi Kapal, ITS Surabaya, 1999-sekarang

c. Kepala Pusat Kajian Bisnis Maritim, ITS Surabaya, 2007 – sekarang

d. Tenaga Ahli Teknis, National Ship Design and Engineering Centre

(NaCDEC), Kementerian Perindustrian, 2007 – 2008.

e. Kepala Biro Perencanaan, Kementerian Komunikasi dan Informatika,

2008 – 2010.

 

.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s