Mereka itu Sakit, Bukan Kriminal !

Deputi Bidang Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional

Dr. Kusman Suriakusumah, SpKJ

Mereka itu Sakit, Bukan Kriminal !

Angka kambuhan para pecandu di Indonesia bisa dibilang cukup tinggi. Menurut Dr Iskandar Irwan Hukom MA dari Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), pada tahun 2008,  9 dari 10 orang pecandu narkoba akan kembali menjadi pecandu (relaps / kambuh – red) setelah di rehabilitasi. Angka yang tak jauh beda dengan data Profesor George Koob MD seorang ahli neurofarmakologi dari Amerika Serikat (California), bahwa rata-rata dunia, 8 dari 9 pecandu akan relaps.

Lantas bagaimana upaya pemerintah dalam menanggulangi hal tersebut. Reporter Komunika, Dimas Aditya Nugraha mewawancarai Deputi Bidang Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional, Dr. Kusman Suriakusumah, SpKJ beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Foto : Dimas

Angka kambuhan tinggi, ada apa?

Satu hal yang harus dipahami bahwa kecanduan itu penyakit. Bahkan tahun 2010 di Viena WHO (World Health Organization – red) mendeklarasikan bahwa kecanduan ini adalah termasuk “penyakit kronis kambuhan” (“chronic relaps disease”). Artinya banyak diantara mereka yang setelah ditolong dan berhenti dari kecanduannya namun pada akhirnya banyak yang kembali memakai narkoba.

Namun, biasanya penyakit itu hanya merugikan diri sendiri. Tapi penyakit kecanduan ini beda, tak hanya merugikan diri sendiri tapi juga orang lain. Banyak juga yang menyebut penyakit masyarakat.

Bagaimana upayanya?

Kalau dulu, lima tahun belakangan, memang pendekatannya adalah pencegahan, pengobatan, perawatan, dan rehabilitasi. Nmun ternyata itu tidak cukup. Akhirnya disadari bahwa kita butuh penanganan paska rehab (after care).

Supaya jalannya lebih tertata kita dukung dengan Peraturan Pemerintah. Keluarlah Inpres No. 12 / 2011.

Inpres ini membuka perubahan baru dalam penanganan para pecandu narkoba. Bahwa mereka harus didampingi sampai bisa berdiri sendiri. Harus di paska rehab untuk menjaga agar tidak relaps. Semua bertanggung jawab, tak hanya pemerintah saja, masyarakat juga.

Caranya?

Pertama kali, pecandu akan masuk proses rehabilitasi, lamanya enam bulan. Di sana ada detoksifikasi atau pengobatan fisik. Kemudian masuk ke rehab sosial untuk merubah perilaku, proses pikir, dan emosi. Dulu, prosesnya hanya sampai sini saja.

Tapi dengan Inpres 12 Tahun 2011, ada program paska rehab. Di sana mereka kami kasih keterampilan agar bisa kembali produktif di masyarakat. Kalau ingin sembuh, obatnya dua: tobat dan kerja. Kalau tidak begitu, relaps lagi. (Lihat halaman 11 – red)

Program Paska Rehab ini ada yang berbasis kehutanan dan ada yang kelautan. Kami ada kerjasama dengan Kementerian Kehutanan serta Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kami diberi lima taman nasional: Bukit Barisan, Kepulauan Seribu, Batimurung, Wakattobi, dan Ciremai. Kami baru mulai di Tamling, Bukit Barisan dan Kepulaun Seribu. Kemudian di di Bengo-bengo, Sulawesi Selatan dan Wakattobi. Semoga tahun depan akan  tambah lagi.

Di sana mereka diharuskan untuk mengenal, mencintai, dan belajar dari alam. Supaya apa? Supaya secara fisik bisa sembuh. Karena mereka kan yang terserang otaknya. Dan satu-satunya obat untuk otak adalah oksigen. Di hutan dan laut, kadar oksigennya tinggi. Jadi ada pemulihan.

Harus dikasih keterampilan?

Ya, pecandu itu mampu kok. Mereka itu sakit bukan kriminal. Pecandu itu jangan dikasihani, dikasih juga mereka gak mau kok. Yang penting empati. Mereka itu harus kerja. Mereka juga bisa sekolah, bisa ini dan itu. Masyarakat harus lebih empati. Jadi yang harus digalakkan adalah Peduli Korban Narkoba.

Apa saja yang dilakukan pemerintah?

Kami ada tiga program pencegahan di BNN yang dikembangkan di masyarakat. Pertama adalah One Stop Centre (OSC), pusat penanganan terpadu untuk menangani perilaku, proses pikir, dan emosi para pecandu. BNN punya dua: di Lido, Bogor dan Baddoka, Makassar yang akan diresmikan 26 Juni mendatang. Ke depan kami akan bangun juga di Samarinda. Semoga dananya ada, sehingga akan kita bangun terus di wilayah-wilayah lainnya.

Kedua, kami ada Outreach Centre (ORC), kerjasama dengan Puskesmas dan LSM. Tugasnya menjangkau para pecandu untuk direhab. Kalau secara medis masih bisa ditangani di Puskesmas, ditangani langsung, bila tidak, maka dirujuk ke OSC.

Siapa yang menjangkau? Akan lebih baik kalau pecandu yang sudah pulih atau juga disebut konselor. Agar dia bantu teman-temannya yang sembunyi untuk direhab.

Ketiga adalah Community Based Unit (CBU), ini murni berbasis masyarakat, misal di tempat kerja, di rumah ibadah, sekolah, dsb. CBU membutuhkan ketahanan diri masyarakat atau komunitas tersebut. Karena awalnya tempat periksa kesehatan sederhana saja, tapi mencoba menjaring informasi dari masyarakat tersebut.

Bagaimana akses ke tempat-tempat tadi? Tampaknya masih jarang orang bisa ke sana?

Ada lima alasan yang membuat orang enggan ke tempat-tempat tersebut. Pertama, malu  atau stigma. Ini yang susah untuk dibenahi. Dan bisa hilang karena dua hal: tobat dan kerja. Dia harus produktif. Kalau tidak, rentan. BNN juga ada program bagaimana menyalurkan mantan pecandu ini untuk membuka lapangan kerja. Ada pelatihan.

Kedua, takut dihukum. Namun dengan adanya UU 35 / 2009 tentang Narkotika yang mengatakan pecandu wajib diobati. Apalagi ada PP 25/2011 mengenai Pelaksanaan Wajib Lapor Bagi Para Pecandu Narkoba. Semoga banyak yang terinformasi dengan aturan ini, sehinggga banyak yang akhirnya mau direhab. Secara hukum, lebih manusiawi.

Kemudian?

Ketiga, mahal. Pemerintah ada dana untuk itu. Datang ke BNN, semua gratis. Keempat, bosan. Ya jelas bosan, nah namanya juga penyakit kambuhan, ya kambuh lagi, kambuh lagi. Jangan bosan. Kalau ini memang harus ada dorongan, baik diri sendiri, keluarga, dan lingkungan terdekat. Bantu mereka.

Kelima, akses. Sekarang setiap Puskesmas harus bisa terima pecandu karena tenaga medisnya sudah dilatih untuk menerima pecandu. Semoga pecandu yang mau direhab makin bertambah.

Yang harus dipahami masyarakat adalah bahwa para pecandu ini adalah penyakit kambuhan kritis. Jadi pemakluman dan ketabahannya harus luar biasa. Saya harapkan ke depan, para tokoh agama jangan hanya membahas masalah dan dampak buruknya saja, tapi yang penting mereka bisa membantu meringankan bebannya. (dimas_a_n@yahoo.com)

One thought on “Mereka itu Sakit, Bukan Kriminal !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s