Mengenal Lautan, Melindungi Daratan

Mengenal Lautan, Melindungi Daratan

 Laut, sejatinya adalah sahabat bagi masyarakat Korong Manggopoh Dalam, Nagari Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Kendati tak banyak yang berprofesi sebagai nelayan, warga Manggopoh Dalam kerap berinteraksi dengan laut karena wilayahnya yang berada tepat di bibir pantai.

 “Rumah kami menghadap ke laut. Kapal yang merapat di pantai, ibarat rumah dengan tempat parkirnya. Pohon di tepi pantai, kami tebang karena mengganggu kapal bersandar,” kata Erkeli (42).

Namun semua berubah pada Desember 2006. Setelah tsunami meluluhlantahkan pesisir Aceh dan melumat hampir seluruh kehidupan yang ada, laut tak lagi jadi sahabat. Banyak warga yang khawatir bahwa tsunami akan menimpa mereka. Terlebih, kabar para nelayan yang bercerita tentang gelombang yang kian tinggi dan angin yang berhembus kuat.

“Walau khawatir, hanya satu warga yang akhirnya pindah ke daerah yang lebih tinggi, itupun pendatang. Yang lain, bertahan karena penghidupan mereka di sini. Sawah, lapau, dan kapal mereka ada di Ulakan,” kata Erkeli.

 

Kelompok Siaga Bencana

Adalah Zulkifli (38) yang menyambut ajakan salah satu NGO (Non Government Organization, LSM – red) nasional yang datang ke daerah-daerah rentan, paska tsunami Aceh. Nagari mereka yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, pun tanpa kesiapan yang cukup dinilai rentan bila terjadi bencana.

“Kami belajar mengenal lautan melalui Pekkerti (Penilaian Kerentanan dan Kapasitas Secara Partisipatif). Kami lakukan mulai dari mempelajari ekosisten pantai, identifikasi sumber benih, sampai pemetaan daerah rentan. Warga yang buat. NGO tersebut latih saya selama tiga bulan untuk jadi pemandu,” kata Zulkifli.

Sebagai pemandu, tugas Zulkifli bukan berceramah mengajarkan warga apa yang harus dilakukan, melainkan menanyakan kebutuhan warga, tahu apa yang diperbuat, manfaat, dan modal yang dipunyai ketika laut mengancam. Ada lima hal yang harus dijawab dan dicari solusinya oleh warga untuk menilai kerentanan nagari mereka, yaitu : sumber daya manusia, alam, sarana fisik, sosial, dan finansial.

“Masalah yang ada kami jawab sendiri. Ini kalau tsunami datang, harusnya bagaimana. Kalau tidak bisa ditahan, pecah saja gelombangnya. Bagaimana caranya? Tanam pohon. Seperti apa? Pelajari ekosistemnya. Bibitnya dari mana? Belajar membibit. Apalagi? Lari. Ke mana? Buat jalur evakuasi. Terus bagaimana kalau kelaparan, bantuan belum datang? Tanam pohon produktif. Kami siapkan semua. Hebatnya, kalau di daerah lain sulit melakukan pembebasan lahan, di sini warga malah kasih tanah mereka untuk jalur evakuasi. Karena mereka tahu peruntukannya. ” kata Zulkifli.

Setelah memetakan masalahnya, warga pun mengadakan sosialisasi pada masyarakat yang lebih luas. Dengan swadaya mereka buat berbagai macam pelatihan. Narasumbernya, ya dari mereka sendiri. Mulai dari pembibitan tanaman multiguna, lumbung pangan hidup, dan lainnya. Informasi lain juga mereka dapat dari Pemerintah Kota dan NGO yang kerap memfasilitasi kebutuhan yang ada.

Fasilitas tersebut, dikatakan Zulkifli bukan berbentuk uang, melainkan ilmu. Semisal bakau yang harus ditanam dengan pola segitiga, bukan berbanjar. Info tentang tanaman produktif yang cocok di 0 – 400 dpl (di bawah permukaan laut) dan lainnya.

“Kata mereka yang kami lakukan adalah kesiapsiagaan bencana. Selama ini mereka akui kalau anggaran banyak di tanggap darurat, padahal seharusnya sebelum, saat, dan sesudah bencana. Saat gempa Padang 2009, apa yang kami lakukan diuji. Terlihat bagaimana tingkat trauma antara Korong dalam satu Nagari yang sudah mendapat informasi dan yang belum. “Yang sudah belajar biasanya lebih tenang dan tahu apa yang diperbuat. Mengenal lautan itu penting,” tutup Zulkifli. (dimasnugraha@mail.kominfo.go.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s