Mengejar Tuna Sampai Jauh

Mengejar Tuna Sampai Jauh

 Posisi Indonesia yang diapit dua Samudera, Hindia dan Pasifik memberi keuntungan tersendiri terhadap potensi perikanan tangkap, semisal ikan tuna. Ikan bernilai ekonomis tinggi nan kaya protein ini hampir didapatkan menyebar di seluruh perairan Indonesia.

 Pada tahun 2008, di Indonesia, jika dilihat dari nilai ekspornya, tuna menempati urutan kedua setelah udang. Secara nasional, total produksi tuna untuk ekspor sampai Oktober 2008 mencapai 130.056 ton dengan nilai sebesar 347,189 juta dollar AS.

“Tuna merupakan salah satu dari komoditas perikanan yang paling banyak diperjualbelikan di dunia. Peluang investasi di bidang ini masih cukup besar. Seperti yang terjadi di Sumatera Barat dan Papua. Di Sumatera Barat, dari seluruh potensi yang ada, baru 42,6 persen yang telah dieksplorasi,” ujar  Ketua Komisi Tuna Indonesia Purwito Martosubroto beberapa waktu lalu.

 

Sentra Tuna Wilayah Barat

Potensi tuna Sumatera Barat merupakan yang terbaik di pantai Barat Indonesia. Sehingga lima tahun lalu, tepatnya saat pelaksanaan Hari Nusantara, 19 Desember 2006, provinsi ranah Minang ini ditetapkan sebagai sentra tuna untuk wilayah Barat Indonesia.

“Penetapan Sumbar sebagai sentra tuna tersebut harus disikapi dengan langkah kongkrit. Kita menggandeng berbagai pihak terkait untuk mengangkat potensi itu, mulai jajaran kabupaten/kota hingga kepada masyarakat nelayan dan investor. Mulai proses penangkapan di laut, pengolahan maupun pemasaran,” ujar Gubernur Sumbar H. Irwan Prayitno .

Berbagai hal sebagai kebutuhan dasar penunjang utama seperti Pelabuhan Udara Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dan Pelabuhan Umum Teluk Bayur sangat menunjang untuk mobilisasi alat, bahan dan perlengkapan lainnya.
Selain itu dibangun pula Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bungus, Teluk Kabung, Padang yang jaraknya dengan BIM hanya sekitar 20KM. Hal tersebut menguntungkan bagi kapal penangkap tuna karena letak fishing ground (daerah tangkapan) dengan tempat pembongkaran menjadi lebih dekat.

Tak jarang banyak nelayan memilih membongkar ikan di Bungus karena bisa menghemat waktu sekitar enam jam dibanding di Jawa yang butuh waktu lebih dari 20 jam. Selisih waktu tersebut akan sangat berdampak pada kualitas ikan.

Tak hanya itu, agar tuna ekspor lebih berkualitas, tahun 2010 lalu dibangun pula pabrik es kering (dry es) di Bungus yang secara signifikan kian mengurangi biaya produksi. Selain itu, pembuatan surat izin yang cepat, hingga pembebasan pungutan biaya bagi industri perikanan juga dilakukan.

Kini, usaha penangkapan tuna dilakukan oleh 40 armada kapal dan mempekerjakan banyak orang. Sejak Januari hingga 20 Juli 2011, ekspor tuna segar 332.356 kg atau 9.419 ekor, ekspor olahan 216.998 kg atau 8.902 ekor. Totalnya 549.354 atau 17.511 ekor.

 

Tak Luput Masalah

Berdasarkan data statistik, produksi Perikanan tuna yang dimiliki oleh Sumatera Barat sejak tahun 2008 menunjukan peningkatan yang sangat signifikan. Tahun 2008 provinsi ini membukukan produksi sebanyak 300 ton yang kemudian meningkat lebih dua kali lipat pada tahun 2009 yakni menjadi 735 ton.

“Saat ini bertahan di 700-an ton per tahun, ada lima masalah yang telah kami petakan. Transportasi, keamanan, pembangunan infrastruktur, umpan, dan yang vital Bahan Bakar Minyak (BBM),” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan  (DKP) Sumbar , Ir. Yosmeri.

Dia mengatakan, tak lagi beroperasinya perusahaan kargo swasta milik Jepang dengan rute Padang – Singapura – Jepang / Amerika membuat industri harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membawa tuna melalui Jakarta.

“Pembangunan ini harus total. Umpan tuna itu bandeng, selama ini kirim dari Jawa. Sama saja bohong. Kami mulai budayakan sendiri di daerah Pasaman. Untuk BBM, masih kami jajaki dengan Pertamina untuk buat stasiun di sini. Kalau sudah ada, kami siap lari,” kata dia.

Soal sumberdaya manusia, kata Yosmeri, Sumbar telah merintis SUPM Perikanan yang berada di Padang Pariaman guna meningkatkan kemampuan para nelayan. Ia mengatakan, pada akhir 2011, sekitar 60 alumni SUPM habis kontrak di perusahaan Jepang, Korea, dsb. Tenaga terdidik dan terlatih tersebut akan dipekerjakan di Sumatera Barat untuk berdayakan 83 unit kapal tangkap khusus tuna dan mengajari nelayan menangkap ikan di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE).

“Tuna itu kan di air dalam, dengan kapal dan ada yang mengoperasikan, kami harap psikologis nelayan lebih terangkat untuk berani menangkap tuna lebih jauh ke laut lepas,” kata Yosmeri. (dimasnugraha@mail.kominfo.go.id)

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Mengejar Tuna Sampai Jauh

  1. Pingback: PAGANG ISLAND ; LETS ROCK……!! | Achmad Rajab Afandi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s