Konselor, Jantung Pusat Rehabilitasi

Konselor, Jantung Pusat Rehabilitasi

 Dari yang mengabdi sampai penyembuhan diri.

 Menjadi konselor adiksi, bukanlah cita-cita Satrio Mandito (33). Dulu, untuk mengejar impiannya menjadi seorang pebisnis, ia jajaki pendidikan di Jurusan Ekonomi salah satu universitas swasta terbaik di Yogyakarta. Namun, “garis hidup” pria yang akrab dipanggil Dito ini, terpaksa harus berubah.

Foto: Dimas

“Saya dulu pecandu. Kuliah saya tidak selesai, semua berantakan. Sekarang, setelah rehab, adiksi adalah bidang saya, bidang yang saya kuasai. Saya mau professional di sini. Selain juga mau menolong kawan-kawan yang kecanduan,” kata Dito ketika ditemui Komunika di Balai Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Baddoka, Makassar, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu.

Dito kini mencoba menjajaki hidup barunya sebagai konselor adiksi. Dengan status sebagai mantan pengguna narkoba (recovering addict – red), membuatnya mendapat peran lebih dalam membantu para pecandu yang tengah direhabilitasi (biasa disebut residen – red). Selama hampir dua bulan lamanya, ia mendampingi enam konselor adiksi yang ada di Balai Rehabilitasi Baddoka dalam memandu residen dalam berkegiatan.

“Kelebihan kami para recovering addict adalah pernah mengalami apa yang dialami para residen. Pecandu itu punya seribu karakter, kami tahu persis. Namun bukan berarti kami sok tahu berusaha mencarikan jalan keluar, tidak. Konselor hanya memberikan opsi alternatif. Mereka yang putuskan,” jelas Dito.

Menjadi konselor, dikatakan Dito, sangatlah menyenangkan. Pasalnya, selain dapat membantu rekan sependeritaan, ia juga dapat belajar ilmu baru, psikologi. Ilmu yang disebutnya sebagai ilmu memanusiakan manusia. Di mana setiap residen disadarkan bahwa mereka hidup dengan pilihan sadar mereka sendiri.

“Saya memilih mengabdi menjadi konselor. Malah kalau boleh mau mengajukan menetap di sini (Baddoka, Makkasar – red),” ungkap Dito.

Sarana Penyembuhan

Lain halnya dengan Abdul Rozak (26), Recovering Addict asal Jakarta. Ia menganggap penugasan dirinya sebagai Konselor Adiksi di Baddoka adalah bagian dari upaya penyembuhan dirinya. Di Balai tersebut, ia mengaku bisa lebih berpikir dan bertindak positif dibanding bila hidup di tengah masyarakat. Banyak kegiatan, mulai dari berbagi dengan residen sampai pelatihan konseling bagi para konselor, yang membuat dirinya bisa melupakan keinginan kuat untuk kembali menggunakan narkoba.

Ia merasa belum siap untuk kembali berbaur di masyarakat.  “Entah sudah berapa kali saya relaps. Sampai orang di Lido bosan lihat saya. Kemaren saya sombong. Paska keluar dari Lido, saya coba langsung ke masyarakat. Ternyata saya kalah. Saya niatkan di sini dulu, sampai kuat. Saya tahu tidak bisa terus sembunyi dari masalah. Saya harus keluar, kembali ke masyarakat. Doakan,” kata Ojak.

Agar tak kembali ke jerat narkoba, pria yang biasa dipanggil Ojak ini mengatakan, ia langsung bergabung dengan Fan Campus, salah satu pusat rehabilitasi pecandu narkoba di Bogor, Jawa Barat. Di sana ia membantu penanganan rehabilitasi residen dengan status magang selama empat bulan lamanya. Setelah itu, dipercaya sebagai “Intern Staff” atau Staff Induction” selama dua bulan, membantu menangani klien namun dengan pendampingan.

“Ternyata saya dapat sertifikat untuk tiap tahapan yang saya lalui. Sekarang intern staff, setelah bersertifikat, saya mau coba jadi konselor,” kata Ojak.

Bagi mereka yang belum mengenal narkoba, Dito dan Ojak berpesan, “Jangan pernah kenal narkoba. Jangan ada kata sekali. Karena kalau ada sekali, pasti ada kedua, keempat, dan seterusnya,” tutup mereka, kompak (dimas_a_n@yahoo.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s