“Kemarahan” Yang Produktif

“Kemarahan” Yang Produktif

Mencermati konflik Indonesia – Malaysia yang terjadi beberapa waktu belakangan, kiranya perlu bijak dalam menyikapi hal tersebut. Terlebih mengingat “software” dua negara serumpun ini saling bertolak belakang. Indonesia dikenal sebagai negara yang tengah berjalan dalam rel demokrasi. Di mana kondisi sosial politik sangat memungkinkan untuk menyampaikan protes, kritik, dan segala bentuk unjukrasa lainnya di muka umum.

Sehingga tak jarang kita temui pembakaran foto pejabat, maupun aksi teatrikal yang kerap dinilai tak pantas dan menyinggung perasaaan. Namun selama disampaikan secara benar, maka bukanlah sebuah hal yang dilarang di negeri ini. Harus disikapi dengan arif.

Akan tetapi, tentulalah berbeda bila demonstrasi di negara ini disikapi oleh negeri tetangga, Malaysia yang masih tergolong “ketat” dalam menyikapi berbagai bentuk demokrasi. Kita pun harus arif dalam melihat perbedaan ini.

 

Manajemen Amarah

Amarah anak bangsa tentu saja timbul melihat kapal-kapal Malaysia masuk melewati perbatasan Indonesia. Terlebih kian tersulut kala mendengar perlakuan negara tetangga terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang kerap diberitakan teraniaya. Media pun gencar mengangkat berita seputar kepedihan para TKI itu. Hingga tak pelak menimbulkan energi emosi yang besar dan menuntut tempat untuk diluapkan. Perang fisik dengan angkatan perang kerap digembar gemborkan.

Hal yang perlu dicermati adalah energi kemarahan bila tidak disalurkan dengan benar akan menjadi tidak produktif. Terlebih perang, yang justru akan sangat merugikan bangsa Indonesia sendiri. Harus ada management of anger (Manajemen Amarah) atas kasus konflik Malaysia.

Pemerintah, baik pusat maupun daerah, harus mampu menyalurkan energi kemarahan yang meluap dalam bentuk yang lebih produktif. Dengan mencoba membangun harapan masyarakat ke depan. Jika dilakukan dengan baik maka akan menjadi momentum dari kebangkitan Indonesia terhadap Malaysia. Terlebih bila mendapat dukungan media yang terus mengangkatnya ke hadapan publik, agar suara positif tersebut lebih terdengarkan.

 

Buka Lahan Pekerjaan

Menurut saya, mari luapkan energi kemarahan kita yang berlebih, dengan “perang” melawan Malaysia. Bagaimana caranya? Dengan membuka lapangan kerja di Indonesia seluas-luasnya dan panggil saudara-saudara kita untuk mengurus lahan sawit kita sendiri.

Kita jadikan Malaysia sebagai “musuh” dalam hal persaingan ekonomi. Mari kita bangkitkan agar kebun-kebun sawit yang ada di Sumatera bisa dikuasai oleh para pengusaha lokal. Hingga akhirnya menjadi lebih produktif dan mampu menyerap lapangan kerja lebih banyak.

Gerakan “melawan” terhadap Malaysia adalah dengan menciptakan lapangan kerja. Semisal, dengan gerakan membangun pabrik-pabrik ikan di setiap wilayah-wilayah strategis yang berbatasan dengan Malaysia.

Hal tersebut juga menjadi keinginan para TKI di Malaysia. Kebanyakan mereka menginginkan untuk kembali bekerja di tanah air. Namun, pertimbangan ekonomi semisal jumlah keluarga yang menjadi tanggungan, serta tidak adanya lapangan pekerjaan, membuat mereka tetap bekerja di sana. Padahal, menurut informasi yang saya dapat, banyak di antara mereka yang rela mendapat upah yang minim atau tidak sesuai dengan yang dijanjikan akibat pemotongan upah, dsb.

Mungkin katakanlah kita baru mampu membangun sepuluh pabrik ikan di perbatasan. Kemudian media secara bersama-sama mengangkat hal tersebut dengan judul “Indonesia Melawan Dengan Perekonomian”.

Atau buat pula gerakan yang memanfaatkan energi para pengusaha lokal yang juga risau dengan banyaknya intervensi pengusaha luar di Indonesia. Menantang para pengusaha lokal tersebut dengan ada “musuh” bersama yang harus ditaklukan. Hal tersebut tentu akan menjadi tantangan bagi para pengusaha untuk meningkatkan kapasitas mereka untuk bersaing.

Provokasi yang demikian yang menurut saya produktif. Walaupun memang masih bernada kemarahan, tak mengapa, namun marah yang produktif. Bukan malah memilih jalan perang dan semisalnya yang justru merugikan diri sendiri.

Karenanya media juga penting dalam mengangkat nilai-nilai yang produktif dari gerakan ini, semisal dengan memilih narasumber program yang membawa pesan “kemarahan produktif”. Bukan malah membuat kemarahan yang tidak terarah.

Saat ini perintahkan semua kementerian, koordinasikan mana lahan yang bisa digarap dalam “perang” ini. Mengapa kita bisa ketika dulu membangun Timor-Timor sehingga saat itu, di sana setiap orang mendapat pekerjaan. Mengapa Batam juga bias menjadi daerah khusus perekonomian? Mengapa tidak di daerah perbatasan?

Terlebih semua bupati bergerak menciptakan lapangan pekerjaan untuk warganya sendiri.

Itulah “perang” yang paling produktif, menurut Saya. Tidak ada perang fisik. Kerja pemerintah memang membuka lapangan pekerjaan kepada rakyatnya. Namun, semangat itu akan lebih hidup bila didorong oleh energi kemarahan yang meluap dan menuntut untuk disalurkan.

Kalau kita mau, pasti bisa.

Imam Prasodjo, Sosiolog Universitas Indonesia  (diolah dari hasil wawancara – dimas dan taofik)

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s