Fasilitasi Perantau Dalam Membangun Daerah

Kepala Biro Administrasi Pembangunan dan Kerjasama Rantau, Provinsi Sumatera Barat

Suhermanto Raza:

 Fasilitasi Perantau Dalam Membangun Daerah

 Belum banyak pemerintah daerah yang melirik potensi besar dari para perantau. Namun di Sumatera Barat, sejak 2007 ada satuan kerja tersendiri setingkat eselon II yang mencoba memfasilitasi manfaat perantau bagi kemajuan daerah. Bagaimana kiprahnya? Komunika mewawancarai Kepala Biro Administrasi Pembangunan dan Kerjasama Rantau, Provinsi Sumatera Barat, Suhermanto Raza. Berikut petikannya :

 

Bagaimana upaya Pemprov Sumbar menarik potensi perantau ke daerah?

Dalam membangun nagari, dalam sejarah dan kebisaaan, orang minang itu suka merantau, baik dalam atau luar provinsi bahkan luar negeri. Dan kalau dia merantau, tidak akan lupa kampung halamannya. Secara filosofis, setinggi-tinggi terbang bangau, kembalinya ke kubangan jua. Sejauh-jauh merantau, kampung halaman terbayang jua. Sehabat-hebatnya orang Minang di rantau, setinggi apapun jabatan dan kedudukannya, mereka tetap saja memerlukan pengakuan dan eksistensi di kampung halaman atau negeri asalnya.  Bukti kesuksesan merantau dia buktikan dengan kemauan dan kemampuan untuk turut serta untuk membangun nagari.

 

Bagaimana kontribusinya?

Saat zaman orde baru, Sumatera Barat kerap mendapat penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha karena dinilai berhasil dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tetapi setelah diteliti, ternyata nilai pembangunan yang paling besar adalah dari perantau. Kalau dulu terlihat melalui wesel di kantor pos.

Bahkan, sampai kini partisipasi para perantau di daerah, diprediksi melebihi investasi yang diberikan pemerintah daerah untuk membangun. Artinya partisipasi dari para perantau, sangat kami akui dan akomodasi dalam bentuk struktur pemerintahan.

Tugas kami adalah bagaimana mengakomodasi kepentingan para perantau itu. Kemudian bagaimana kepentingan ranah (orang yang di kampung) kepada para perantau.

 

Bagaimana menyinergikannya?

Di sinilah fungsi pemerintah. Bagaimana memfasilitasi bagaimana menggerakkan faktor modal yang besar ini. Tentu bicara modal bukan sekadar kita minta uangnya, tapi apa yang bisa dia berikan untuk kampung halamannya. Dia tidak ada dana tapi punya kecerdasan, kita kasih ruang untuk kasih pelatihan. Kalau punya networking, tolong ajak agar berinvestasi ke Sumatera Barat.

Nilai manfaatnya, waktu orde baru kami membangun tiga kali lipat, dana investasi yang diberikan perantau disbanding yang diberikan pemerintah pusat.

Bahkan, kami pernah melakukan survey di beberapa nagari, malah lima kali lipat manfaat yang diperoleh mereka dalam pembangunan ketimbang yang dana yang diberikan pemerintah. Ada program padat karya di sana. Bentuk bantuan tersebut sulit kita lihat wujudnya, tapi terlihat dari kehidupan warga di sana. Terlebih ada kebisaaan kami yang malu bila dikatakan sanak saudara di kampung tidak makan. Yang malu, bisa satu kaum, satu suku.

 

Apa manfaat untuk pemerintah daerah? 

Yang paling santer tentu saja keterbatasan dana pemerintah. Pemerintah tentu tidak bisa memenuhi sendiri tanpa ada kerja sama dari masyarakat. Kalau DAU, berapalah jumlahnya DAU itu. Dari APBN, kami dapat Rp.13,44triliun. APBD Rp.2,4triliun. Sedangkan PAD kami hanya Rp.750miliar, itupun sudah ngos-ngosan.

Dikaitkan dengan kebutuhan 4,8 juta penduduk Sumbar yang ada di kampung, tak bisa kita membangun dengan angka segitu. Karenanya butuh bantuan perantau. Karena prediksi kami angkanya mencapai 3 kali jumlah penduduk.Tentu kami akan ringan dalam membangun kampung. Lebih cepat dalam menuntaskan kemiskinan. Asalkan kami sigap dalam memfasilitasi potensi mereka dalam membangun daerah.

Manfaatnya, luar bisaa. Mulai dari pemikiran dalam membangun kampung halaman. Banyak ide yang kami serap dari mereka. Networking luas yang difasilitasi para perantau ini. Terlebih pasca gempa. Terus terang, belum ada bantuan pemerintah turun ke kami. Baru tim fasilitasi yang turun. Tapi bisa lihat sendiri, sejak 2009 sudah banyak rumah yang terbangun. Siapa lagi yang bangun kalau bukan bantuan sanak saudara para perantau itu. Hal tersebut memang tidak dilaporkan ke pemerintah. Saya pribadi, dibantu oleh sanak saudara, sekian puluh juta untuk bangun kembali rumah yang hancur.

 

Apa saja yang telah dilakukan?

Kami sudah buat peraturan gubernur No. 39/2009 tentang teknis penyelenggaraan kerjasama pemerintah daerah dengan perantau. Tujuannya, pembangunan daerah dari para perantau yang tadinya hanya bicara insidentil dan parsial, sekarang kami bisa bicara lebih teknis lagi.

 

Apa saja yang difasilitasi?

Kami memfasilitasi mereka dalam bidang sosial budaya, semisal kembali menyosialisasikan adat budaya minang yang kini kian pudar, terutama pada anak muda yang tinggal di rantau. Kemudian di bidang investasi, bisa melalui kredit lunak belalui BPR yang dibentuk oleh para perantau. Kami upayakan agar di tiap nagari ada BPR. Efeknya tenaga kerja di nagari tersebut akan terserap.

Kemudian di bidang fisik, sarana prasarana. Ada sharing dan penyesuaian anggaran APBD dengan dana mereka. Dan bidang pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Semisal pemberian beasiswa atau pelatihan oleh para perantau itu sendiri.

Kami juga jaring melalui website, tak hanya info saja, tapi juga fasilitasi forum antara pemda, ranah, dan rantau. Bisa diakses di kerjasamarantau.sumbarprov.go.id/forum. Kami sinergikan dengan data potensi daerah, sampai ke nagari.

 

Bagaimana ke depan?

Pekerjaan rumah kami sekarang adalah membuat data base para perantau itu. Kami data mulai dari pekerjaannya, jumlah keluarga, sampai pada asal nagari. Kasarnya, akan kami sensus untuk diberdayakan. Kalau data tidak ada, bagaimana kami bisa menjalin komunikasi.

Inventarisasi jumlah perantau dan organisasi “urang awak” di perantauan, sampai menyurati mereka, dari yang di Indonesia sampai di luar negeri. Kemudian, kami gagas forum silaturahmi yang lebih membumi, agar tak elitis atau dimanfaatkan pihak yang mencoba mengambil keuntungan, semisal silaturahmi pedagang sate, silaturahmi pedagang kain, dsb. (dimasnugraha@depkominfo.go.id)

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s