Belajar Cinta Budaya dari Abdi Dalem

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Belajar Cinta Budaya dari Abdi Dalem

Yudho Piranti
Foto: Dimas

Banyak yang masih sulit memahami kehidupan para abdi dalem kraton Yogyakarta. Bukan soal kehidupan harian mereka yang masih menggunakan baju tradisonal kain peranakan berwarna biru tua bergaris tiga dan empat (telupat), kain, keris, dan blankon. Namun tak mampu mencerna, bagaimana kerelaan hati para abdi dalem untuk mengabdi kepada kraton Yogya, hanya dengan bayaran Rp.37.500,- per bulan. (Kraton menyebutnya sebagai kekocah, yakni sebagian uang sultan untuk para abdi dalem atas jasanya mengabdi- red)

 

Ya, mereka rela mengabdi, entah menjadi penjaga keamanan, mengurus administrasi, atau sekadar menjadi pengurus rumah tangga kraton. Usah Anda bicara angka rupiah yang tak bisa dibilang besar itu. Uang yang jangankan untuk biaya hidup keluarga sebulan. Dihitung dengan standar garis kemiskinan yang ditetapkan Biro Pusat Statistik (BPS) saja, hanya mampu memberi makan satu keluarga selama kurang dari satu minggu.

Namun, bagi Yudho Piranti (68), mengabdi di kraton Yogya merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Bukan soal nominal rupiah yang ia terima tiap bulannya. Namun, soal ketenangan dan ketentraman hati melihat budaya Yogya masih ada sampai saat ini. Bahkan, bangga bahwa Kota Gudeg tempat kelahirannya, masih dikenal dunia internasional sebagai kota budaya.

Bupati Kliwon
Foto: Dimas

“Yang membanggakan, saya berada sebagai salah satu pengawal budaya ini. Budaya kraton yang masih ada sampai sekarang. Ini kartu abdi dalem saya. Kalau tidak ada kartu ngaku abdi dalem, pasti bohong,” kata pria yang bernama asli Suranto ini, bangga.

Hal yang sama diraskan oleh Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Condrobroto (67) yang sudah mengabdi di kraton selama 44 tahun. Menjadi abdi dalem merupakan panggilan jiwanya sejak belia. “Di kraton ini, dari nama gelar bisa ketahuan jabatan, kesatuan, dan lamanya mengabdi. Saya mulai dari bawah sekali, dari abdi dalem magang. Kemudian naik menjadi jajag, bekel anom, bekel sepuh, lurah, kliwon, wedono, wedono anom, bupati anom, bupati. Dan sekarang bupati kliwon, jabatan tertinggi rakyat biasa. Di atas saya adalah bupati nayoko dan pangeran kencono, mereka berasal dari cucu Sultan Hamengkubuwono ke-8,” kata dia.

Mengayom Kepada Sutan

Dan ternyata, tak sedikit jumlah warga Yogya yang juga merasa terpanggil hatinya untuk turut menjadi bagian dari barisan penjaga budaya ini. Angka abdi dalem yang tercatat sampai saat ini, menurut Bupati Anom kraton, Raden Rio Kusumodiningrat, (67) angkanya mencapai 4500 orang. Bandingkan dengan jumlah total penduduk Yogya yang menurut sensus penduduk 2010, berjumlah 388.088 jiwa.

“Lebih dari satu persen penduduk Yogya adalah abdi dalem kraton. Angka ini sudah termasuk 1200 punokawan (abdi yang mengabdi di kraton dari rakyat biasa dan mendapat honor – red) dan abdi dalem keprajan (mengabdi namun hanya mendapat gelar tak mendapat honor) yang bertugas setiap tanggal 10, 20, dan 30 setiap bulannya. Serta 150 orang yang mengurus administrasi kraton dan bertugas setiap hari,” kata dia yang juga pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta.

Foto: Dimas

Bahkan, setiap tahunnya, banyak yang mengantri, baik sekadar magang ataupun berkeinginan menjadi abdi dalem kraton. Dalam setahun, kraton Yogyakarta membuka dua kali kesempatan pendaftaran. Setiap tahun hanya 100 orang yang dilantik menjadi abdi dalem.

“Syaratnya mudah saja, cukup dengan ketekunan dan mengikuti pendidikan kraton. Tidak ada yang merintah, hanya kemauan sendiri. Kalau di bagian administrasi hanya setahun magang lalu dilantik menjadi abdi dalem. Sementara di caosan, magangnya dua tahu,” kata dia.

Dia yang juga masih menantu Sultan Hamengkubuwono ke-8 ini mengatakan, para abdi dalem dengan penuh kesadaran mengayom pada sultan. Bahkan banyak di antara mereka yang justu lebih memilih ijin dari tempat kerja asal, bila kebetulan kraton menggelar acara di tanggal yang bertepatan dengan hari kerja mereka.

“Di sini tak ada yang saling menganggap rendah atau remeh. Semua orang, termasuk Sultan sekalipun, menyebut nama seseorang dengan ‘co’, maksudnya ‘konco’ (kawan-red).  Kami sama-sama penjaga kraton ini. Penjaga budaya Jawa ini,” kata dia menjelaskan.

Menyebar Tata Krama Kraton

Kalangan istana pun menyambut antusiasme warga Yogya yang ingin menjadi abdi dalem keraton dengan memberi pawiyatan abdi dalem atau pelatihan hal-hal yang berkaitan dengan keraton, mulai dari ajaran budaya, sejarah, tata krama, dan keharusan-keharusan yang harus dilaksanakan di dalam keraton. Ini sebagai langkah awal dalam rangka membentuk abdi dalem agar sadar budaya.

”Setelah kami melakukan penelitian pada zaman Sultan Hamengku Buwono VIII dan sebelumnya, abdi dalem itu masuk magang setelah dibina para Pangeran. Waktu itu pangeran wajib membina masyarakat di sekitarnya, sehingga masyarakat yang kemudian magang menjadi abdi dalem tertarik karena hasil binaan itu. Sehingga abdi dalem itu sudah mempunyai dasar pengertian tentang unggah-ungguh dan sebagainya, walaupun hal-hal yang bersifat kekeratonan belum mengerti” kata Pengageng Kawedanan Ageng Panitropuro (kepala sekretariat,red) Keraton Yogyakarta GBPH Joyokusumo seperti dikutip dari kantor berita Antara.Namun, kata dia, saat ini rekrutmen abdi dalem langsung dari masyarakat pada umumnya ke dalam keraton. Jadi seolah-olah masyarakat yang masuk ke dalam keraton masih belum paham tindak tanduk kraton. Selain itu pula, sebagai bentuk pelestarian budaya Yogyakarta.  (dimasnugraha@depkominfo.go.id)

One thought on “Belajar Cinta Budaya dari Abdi Dalem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s