Bank Petani dari Nagari Tabek Panjang

Bank Petani dari Nagari Tabek Panjang

Solusi Masalah Permodalan dari dan untuk Petani

 Profesi petani kurang mendapat kepercayaan dari bank untuk mendapatkan suntikan dana. Alasannya klasik, penghasilan petani dinilai terlalu kecil dan tak punya agunan memadai untuk jaminan pinjaman. Sulitnya akses ke bank membuat petani sering terjebak rentenir. Saat musim tanam datang, mereka terpaksa meminjam uang kepada lintah darat dengan bunga sangat besar.

 

Boleh percaya boleh tidak, akan tapi fenomena seperti itu diamini oleh para pelaku perbankan sendiri. Pimpinan Bank Indonesia (BI) Bandung, Lucky FA Hadibrata, dalam sebuah diskusi di Batam Prov Kepulauan Riau beberapa waktu lalu mengatakan, kendala utama pihak perbankan dalam memberikan pinjaman kredit kepada petani ataupun nelayan dikarenakan faktor agunan serta pengembalian pinjaman. “Kita dari perbankan selalu terkendala masalah agunan dan kendala resiko kredit macet yang membuat kita mendapat teguran dari BI selaku pemegang otoritas perbankan tertinggi,” ungkapnya.

Entah siapa yang salah dalam hal ini, namun sulitnya akses pinjaman bank mengharuskan petani memutar otak lebih keras. Di satu sisi mereka harus mencari cara agar bisa mendapatkan pinjaman modal untuk berproduksi, sementara di sisi lain mereka harus menghindari rentenir yang giat mencari mangsa.

Solusi dari Nagari Tabek Panjang

Untunglah, warga Nagari Tabek Panjang, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat punya solusi sendiri dalam mengatasi hal tersebut. Setelah melalui perjalanan dan perjuangan panjang, mereka berhasil mendirikan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) Prima Tani. Warga Tabek Panjang lebih senang menyebut lembaga keuangan tersebut sebagai “Bank Petani”. Alasannya karena lebih sederhana dan lebih mudah dimengerti petani.

“Tujuannya sederhana, menjadikan Bank Petani lebih mudah disentuh petani walaupun tidak bankable (memenuhi syarat peminjaman uang di bank-red) kata orang Bank,” jelas salah satu pendiri Bank Petani, Masril Koto.

Modal pendirian LKMA diperoleh lewat penjualan lembaran saham, tak beda dengan yang dilakukan bank pada umumnya. Harga saham Rp 100.000 per lembar. Bank Petani kala itu dapat meraup modal hingga Rp 15 juta.  “Awalnya banyak petani yang ragu. Mereka bingung, masak selembar kertas begini harganya sampai Rp 100.000. Begitu pertanyaan umum dari petani. Namun, perlahan mereka mengerti, dan akhirnya semakin banyak petani yang ikut membeli saham,” tutur Masril.

Beragam produk tabungan atau pinjaman berbasis kebutuhan langsung petani secara spesifik ditelurkan LKMA. Beberapa di antaranya adalah tabungan ibu hamil, tabungan pajak motor untuk pengojek, dan tabungan pendidikan anak. Jenis tabungan itu semua disusun berdasarkan identifikasi masalah anggota.

Untuk sistem kontrol, Bank Petani menggunakan pendekatan sosial dan kearifan lokal masyarakat Sumatera Barat. Kekerabatan yang kuat dalam satu kesatuan suku, membuat setiap tindakan satu orang anggota keluarga, menjadi pertanggungan keluarga besar.

Foto: Dimas

“Kalau kredit macet, teguran pertama pakai surat. Tak mempan, lapor ke Dato (sebutan orang Minang untuk kepala suku – red). Biasanya beres sapai di sini, karena keluarga pasti malu. Langkah terakhir, kami umumkan di masjid, ha ha ha,” kata Masril terbahak.

Setahun berdiri, banyak yang mulai merasakan manfaat bank petani tersebut. Yang utama adalah kemudahan mengakses modal. Petani yang membutuhkan dana bisa langsung meminjam tanpa prosedur bertele-tele. Alasan peminjaman bisa apa saja, mulai untuk biaya sekolah anak, biaya pernikahan, hingga membeli kendaraan. “Asal alasannya jelas, kami akan layani,” tandas Masril.

 

Kembangkan Inovasi

Belakangan, kata Masril Koto, berbagai inovasi terus dikembangkan dikembangkan LKMA, semisal yang dilakukan LKMA Baliak Mayang, Padang Alai, Sumatera Barat. Para pengurusnya tak hanya membantu permodalan petani, melainkan juga mendirikan Sub Terminal Agribisnis (STA) yang menampung langsung hasil-hasil pertanian petani. Bahkan belakangan mereka membuat bendungan irigasi untuk kelancaran urusan pertanian.

Di Nagari Sikabu-kabu Tanjuang Haro Padangpanjang lain lagi. Karena tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi, wali nagari (sebutan untuk kepala desa/lurah di Sumatera Barat–red) bahkan memercayakan pengelolaan keuangan berbagai bantuan dari pemerintah kepada LKMA.

“Inovasinya bagus, agar bantuan kepada petani tidak tumpang-tindih dan dapat segera dipertanggungjawabkan,” kata peraih Penghargaan Danamon Award 2010 dan Indonesia Berprestasi Award 2010 dari operator telekomunikasi ini.

 

Banyak Manfaat

Hingga saat ini, Lembaga Keuangan Mikro telah hadir sebanyak 300 unit di seantero Sumatera Barat dengan total aset mencapai Rp 90 miliar. Selain berhasil memberdayakan sekitar 10.000 lebih petani di Sumatera Barat, Bank Petani ini juga membuka lapangan kerja bagi anak-anak petani lulusan SMA.  Mereka dipekerjakan sebagai karyawan atau pengurus bank setempat.

“Bayangkan, jika rata-rata tiap LKMA memiliki lima karyawan, dengan lebih dari 300 LKMA di Sumbar, cukup lumayan jumlah tenaga kerja yang tertampung. Bahkan tak jarang di antara para karyawan ini ada yang melanjutkan kuliah dengan meminjam uang dari Bank Petani,” imbuh Masril.

Dengan prestasinya menyediakan kredit bagi petani, Bank Petani juga mendapat apresiasi dari Departemen Pertanian Republik Indonesia (sekarang Kementerian–red). Bahkan Bank Petani dari Nagari Tabek Panjang ini menjadi nilham pembuatan program nasional Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP). PUAP kelak melahirkan puluhan ribu Bank Petani sejenis di seluruh wilayah Indonesia (dimasnugraha@mail.kominfo.go.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s