Masril Koto, Petani Pakar Sumatera Barat :

Tak Melulu Soal Uang

 

Foto: Dimas

Adalah Masril Koto, seorang warga Nagari Tabek Tinggi, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) yang punya andil besar dalam pembentukan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) Prima Tani atau Bank Petani, di daerahnya. Kendati LKMA kemudian menginspirasi banyak petani di seluruh Indonesia untuk membentuk lembaga keuangan dari, oleh, dan untuk mereka sendiri, toh Masril tak tinggi hati. Ia tetap rela untuk membagi ilmunya, baik kepada para petani, maupun undangan lembaga akademik, tanpa dibayar. “Bahkan terkadang, menjebol saku sendiri,” kata Masril.

Bagi Masril, menyenangkan bila melihat masyarakat tahu kesulitan yang dihadapi dan bergerak untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut. Uang, tidak selalu merupakan masalah yang dihadapi masyarakat. Mereka bisa saja membutuhkan bantuan teknis dan bantuan manajemen terkait kegiatan ekonomi mereka.

Membantu masyarakat, kata Masril, harus dengan mengenal mereka, tidur bersama mereka untuk mengetahui apa tantangan yang dihadapi. Tidak bisa hanya melihat suatu masyarakat, lalu membantu dengan solusi yang top-down. “Solusi harus disusun oleh mereka sendiri, dengan kita membantu merealisasikannya. Kalau top-down, tidak akan menjadikan program-program tersebut berkelanjutan. Uang habis, program hilang,” tandas Masril.

Petani Pakar

Di Sumbar, Masril Koto tak sendirian. Ada 62 orang ‘Masril-Masril’ lain yang tak lagi bicara semata-mata uang dalam membantu menyelesaikan masalah petani. Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Sumbar menyebut mereka dengan istilah ‘petani pakar.

“Mereka adalah para petani yang ahli di bidangnya dan dapat berbagi pengalaman dengan petani lain. Karena petani harus mau dan mampu untuk mandiri, termasuk dalam menyebarluaskan informasi pertanian. Sehari-hari mereka petani biasa yang punya lahan garapan,” kata Ir Djoni, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan.

Keahlian para petani pakar sangat beragam, mulai dari padi organik, budidaya cabe, pengendalian hama, mikro organisme lokal, agen hayati, biogas, kelembagaan petani, sampai urusan lembaga keuangan. “Komplet, semua ada. Dinas hanya menganggarkan Rp 20 juta untuk transpor 62 petani pakar berkeliling melakukan penyuluhan. Sangat tidak cukup. Kebanyakan dibantu warga yang diberikan penyuluhan,” kata Djoni.

Bagi masyarakat luas yang ingin mendapat penyuluhan atau mendatangkan para petani pakar dan pegiat masyarakat tersebut, dapat menghubungi Sekretariat Yayasan AFTA (Alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas) Jl. Batang Hari No 11 Komplek GOR H Agus Salim Padang. Telp (0751) 40462. (dimasnugraha@mail.kominfo.go.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s