“Terorisme Tak Laku di Indonesia”

Dirjen Bimas Islam – Depag :

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA

“Terorisme Tak Laku di Indonesia”

Setelah beberapa tahun aman, ideologi teror kembali muncul ke permukaan. Tak sekadar puluhan nyawa yang hilang karenanya, tapi juga mengancam citra masyarakat muslim Indonesia. Lantas, benarkah muslim di Indonesia mengadopsi pemahaman “bom bunuh diri” ? Dan bagaimana sikap pemerintah dalam meredam pemahaman tersebut? Reporter Komunika, Dimas Aditya Nugraha dan pewarta foto, Danang Firman, mengonfirmasikan hal tersebut kepada Dirjen Bimas Islam, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Berikut petikannya :

Ideologi teror, muncul kembali. Laten?

Kalau menurut saya, terorisme adalah salah satu anak kandung dari globalisasi. Bumi makin kecil, bahkan semakin datar, jaringan pun semakin bagus. Kemajuan ini juga merupakan sebuah kesempatan yang bagus bagi mereka (teroris-red) untuk menyemaikan ide-ide radikal.

Bagaimana sebenarnya Islam memandang terorisme?

Terorisme itu tidak ada tempatnya dalam Islam. Di dalam al-Quran, jihad punya tempat sendiri, lebih utama hijrah. Hijrah, kemudian baru jihad. Wahajaru wajahadu,  Dalam Islam tidak ada isyarat untuk membolehkan terorisme. Nabi ketika menghadapi tantangan keras di Mekkah, malah berhijrah. Kenapa tidak mati di Mekkah saja. Seperti yang dikatakan oleh para orientalis, bahwa nabi pengecut, dia tinggalkan umatnya di Mekkah dan cari selamat dengan pergi ke Madinah.

Padahal tidak demikian, nabi justru menggunakan taktik. Strategi dalam Islam, mundur selangkah untuk mendapat kemenangan, itulah yang islami. Daripada harus nekat di situ mempertahankan diri di tengah kekuatan orang. Itu kan konyol. Jadi, Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Rahmat untuk semua.

Sedangkan jihad itu lebih untuk meningkatkan martabat kemanusiaan, tugas kita hanya menyampaikan, tidak boleh memaksakan. ”Tidak ada paksaan dalam Islam”, ”Engkau tidak bisa memberi petunjuk kepada siapa yang engkau mau, tetapi Allah lah yang memberi petunjuk”

Ideologi teror laku di masyarakat?

Hal ini kan sangat emosional. Agama itu kekuatannya di emosi, jadi kalau ada orang yang memprovokasi, darah muda yang sedang bergejolak akan berpotensi untuk melakukan apapun. Lagipula siapa seh yang tidak mau masuk surga, pasti mau, dan jalan pintasnya adalah dengan melakukan hal yang diindoktrinasikan.

Adakah akar terorisme dalam masyarakat Islam Indonesia?

Terorisme muncul karena adanya kelompok masyarakat yang ingin memerjuangkan Islam dengan melawan apa yang disebut sebagai musuh Islam, yaitu barat. Kenapa barat? Karena barat dianggap mendukung Israel. Kunci sebenarnya adalah ketidakadilan barat dengan mendukung Israel.

Akar terorisme tidak ada di Indonesia. Sumbu teroris adalah persoalan Israel. Kenapa yang membantai Palestina, malah dibantu Israel. Hal itu yang membuat orang lain marah. Dan sebaliknya di tempat lain, sedikit saja dunia Islam berbuat, Amerika selalu intervensi. Jadi ada double standard, itu menurut mereka. Ini yang dikatakan sebagai pemicu terorisme. Adanya konflik politik regional antara Israel – Palestina.

Di dalam ayat-ayat yang dikutip, “innamal mu’minuna ikhwah” (orang beriman itu bersaudara”), jadi stateless atau tanpa ada batas negara. Deteroterialisasi Islam bagi para teroris ini.

Islam mainstream di Indonesia tidak menerima?

Para teroris ini kan berjuangnya tidak hanya di negeri ini. Noordin M Top, di Filipina, bahkan orang Indonesia juga ada di Filipina. Yang di Israel sana ada orang Bangladesh, yang melakukan teror di Amerika sana, sebagiannya orang arab saudi. Jadi tidak ada batas warga negara. Warga negaranya, ya Islam itu.

Kan kacau, dalam masyarakat kita yang sudah kian teratur seperti saat ini, paska perang dunia kedua, ada nation state yang berdaulat, harus saling menghargai antara negara seperti yang dikonsepkan oleh United Nation atau PBB. Maka itu sebenarnya harus dikembangkan kerja sama antar negara, kemudian tidak ada double standard. Dan dalam waktu yang sama juga jangan ada pemisah walau kita berbeda agama. Akan indah sekali apabila kita bisa melakukan hal tersebut

Karena agama sifatnya emosional, jadinya segala macam seruan atau fatwa sulit diterima bila sudah jadi ideologi?

Benar. Itu bagian dari bias dan terorisme global. Tapi terorisme di Indonesia tidak ada tempatnya. Budaya di Indonesia itu soft culture, bukan hard culture. Karenanya saya tidak melihat bahwa kelompok terorisme akan berkembang marak. Paling pendukungnya adalah orang-orang yang berhasil didoktrin oleh segelintir manusia tadi.

Maksudnya?

Indonesia bukan lahan subur untuk paham-paham keras. Karena kultur Indonesia itu kultur soft. Kita di Indonesia berkebudayaan maritim. Dan maritime culture itu egaliterian, sedangkan timur tengah itu kan kultur kontinental. Dan continental culture itu berlapis-lapis. Kalau menurut Prof Ruben Leavy, struktur masyarakat arab ketika ada Rasulullah, ada 12 tingkatan, mulai dari budak perempuan asing, sampai Bani Quraisy, Bani Hasyim. Kalau di Indonesia, tidak sampai strukturnya demikian. Lain halnya dengan kraton, tapi mereka juga budaya daratan. Coba lihat daerah pantai, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, itu budaya egaliter. Di Indonesia pada umumnya demikian.

Walaupun penetrasi dari gerakan trans nasional, cukup tinggi di Indonesia?

Ya, penetrasinya memang lumayan dan sudah menjangkau secara masif. Yang jelas benteng kami adalah pondok pesantren.

Pendekatannya dengan soft culture?

Soft culture atau budaya lembut. Orang Indonesia itu lembut, suka menerima tamu, menghargai toleransi. Tapi kalau hard culture, di tanah arab geografisnya sangat gersang, tidak ada tumbuhan. Sehingga berdampak pada masyarakatnya, memandang sesuatu black dan white. Kulturnya menjadi keras.

Tapi di dalam masyarakat kita, kadang dengan kedipan mata saja, sudah bisa membuat anak kita mengerti. Kenapa karena kita sangat sensitif, budaya kita sangat soft, halus. Dan Islam sangat cepat berkembang di daerah halus.

Ideologi tersebut, bagaimana masuknya?

Ideologi itu tidak cocok dengan Indonesia. Kalaupun ada, coba lihat, pelakunya adalah orang-orang segelintir, bukan fenomenal semisal Baghdad, Afghanistan, dll. Kalau di sana, ada yang ngebom, mau nangkap siapa? Nangkap semua warga, nangkap hampir 80% warganya. Di sini, gampang. Orang Islam di Indonesia sendiri tidak setuju dengan yang demikian. Umat Islam main steram, semisal NU, Muhammadiyyah, Persis, Al Irsyad, tidak pernah mendukung terorisme. Tapi kalau kelompok main stream di Pakistan, Afhganistan, belum tentu.

Akan cepat tertangkap?

Kita ini victim, korban. Bukan pelaku. Kita bukan subjek, tapi objek. Noordin Top dari Malaysia, Azhari juga, pelaku bom adalah pengikut-pengikut mereka. Jadi kelompok pribumi yang beraliran keras itu siapa?

Bagaimana dengan terpidana mati bom bali?

Karena mereka belajarnya di sana, di Afghanistan. Terpengaruh dengan cara pandang orang sana. Tapi yang made in Indonesia, asli Indonesia, tidak ada. Terorisme di Indonesia, tidak ada. Orang Indonesia yang pernah di luar negeri mungkin saja. Dan kemudian mereka mendoktrinasi anak-anak yang masih belum tahu apa-apa, bisa saja terjadi. Satu di antara 200 juta orang yang dipengaruhi, mungkin saja. Tapi jika secara masif dipengaruhi, tidak akan ada. Watak pribumi Indonesia, tidak setuju dengan bom, bahkan pada semua agama di Indonesia. Tidak setuju dengan cara-cara bom.

Kita lihat saja, aliran-aliran berhaluan keras di Indonesia pun tidak setuju dengan cara-cara bom. Hizbut Tahrir (HT) misalnya termasuk yang keras dalam menolak teror bom tersebut. Padahal HT juga termasuk kelompok yang paling keras menolak pemerintah.

Kemudian Abu Bakar Ba’asyir, kelompoknya pun tidak pernah setuju dengan cara-cara pengeboman. Dia deklarasikan sendiri tentang masalah itu. Itu karena culture kita, tidak tega membunuh nyawa orang untuk kepentingan tertentu, sekalipun kepentingan itu baik.

Bagaimana sikap Depag?

Kami tegas, karenanya ada program ”Deradikalisasi pemahaman Islam” di pondok pesantren. Karena kalau pondok pesantren terpengaruh, dahsyat pengaruhnya. Terlebih bila di pulau Jawa. Pondok bisa kami rangkul, sehingga bisa menjadi tameng sekaligus benteng main stream umat Islam Indonesia. Jangan khawatir sepanjang masih ada pondok pesantren yang kokoh berdiri dengan kepribadian aslinya.

Walau juga masih ada pondok pesantren dengan tanda kutip. Itulah yang menjadi bengkel aliran keras. Tapi jumlahnya segelintir, santrinya sedikit sekali. Siapa yang mau ditatar menjadi teroris.

Ponpes teregistrasi?

Kami ada 30ribu lebih data ponpes di seluruh Indonesia dan peta pemahamannya. Tidak ada masalah di sana. Saya waktu ngajar di Amerika, padanan kata yang paling sulit saya cari adalah madrasah, kyai, jihad. Kerena meraka menganggap, madrasah itu seperti yang ada di Pakistan dan Afghanistan. Di sana memang menjadi bengkel aliran tersebut. Saya katakan pada mereka, madrasah di Indonesia tidak akan anda temukan gambar-gambar khomaeni, Bin Laden, Saddam, dan pejuang Islam lainnya. Kemudian saya bawa mereka ke salah satu pondok pesantren, dan apa yang saya katakan, terbukti.

Apa lagi?

Ada pembekalan mubaligh, masjid ada delapan ratus ribu di Indonesia, kami tidak ingin kecolongan, sistem berlapis kami lakukan untuk mengamankan masjid-masjid di Indonesia, takut menjadi basis. Masjid harus terpantau dengan KUA, oleh penyuluh agama. Depag kan buritannya sampai kecamatan. Kemudian asupan informasi keagamaan, buku agama kami bagikan.

Bagaimana cara memantaunya?

Kontennya tidak, karena ini bukan jamannya orde baru. Kita tidak menyeleksi materi khutbah, tidak perlu pakai SIM seperti Singapura. Kita bebas saja. Yang penting tahu diri.

Mereka tidak mungkin ”main” di tempat umum?

Tidak mungkin. Karena di sini bukan lahan subur untuk paham kekerasan yang mereka ajarkan. Kalau di luar negeri, di mana-mana gentayangan. Kalau di sini, masyarakat pun akan lapor setiap ada orang yang asing. Menjadi bukti bahwa betapa tidak bersahabatnya masyarakat terhadap para teroris. Kalau di tempat lain, tidak demikian.

Para teroris itu masuknya dengan dalil apa?

Anda kalau potong ayat Quran, bisa menjadi beda artinya. Dan mereka melakukan hal tersebut, potong ayatnya, pisahkan dari asbabun nuzul (sebab turunnya ayat –red), pun yang didoktrin semisal orang yang baru tobat atau baru kenal agama, sehingga pemahamannya masih kurang.

Karenanya itulah yang kami lakukan deradikalisasi pemahaman Islam. Kalau mengitup ayat, jangan dipotong-potong, demikian juga hadits jangan dipenggal-penggal. Sebab turunnya ayat dan hadits, sehingga pemahaman orang menjadi komperehensif. Semakin komperehensif pemikiran orang, semakin anti teroris orang itu.

Apa isu mereka?

Saya juga tidak habis mengerti. Kita tanya, kenapa Marriot? Jawab mereka, karena Indonesia tidak memerhatikan Islam. Apanya? Di Indonesia, masjid demikian banyak. Banyak hukum syariah, kami sudah ada UU Halal. Jika ekonominya riba, ada perbankan syariah. Sebenarnya itu isu regional luar negeri yang dibawa ke sini. Jadi saya optimis, terorisme akan punah dengan sendirinya. Terlebih di Indonesia tidak ada akarnya.

Akan habis?

Ke depan, isu terorisme di Indonesia akan habis. Sudah kurang apa Indonesia ini dalam memfasilitasi ajaran Islam. Ekonomi, kurang apalagi Indonesia, ekonomi syariah, perbankan syariah, SUKUK, jaminan produk halal. Isu-isu keislaman yang menjadi hukum nasional, di Indonesia, luar biasa.

Jadi garapan-garapan para teroris untuk mengaktualkan Islam, justru sudah digarap oleh pemerintah sendiri dengan penuh kesadarannya. Jadi tanpa perlu berteroris ria, sudah jalan. Apa yang mereka tuntut, sudah duluan kita praktekan.

Bukan karena ingin mendirikan negara berideologi Islam?

Definisi negara Islam itu apa?

Menegakkan hukum Islam.

Apakah kita tidak menegakkan hukum dan syariah Islam? Semua urusan umat Islam dan juga umat lainnya, dilakukan pemerintah. Sholat, haji, bahkan ekonomi. Tapi kalau pengertiannya hanya sekadar melaksanakan hukum potong tangan, hukum tersebut kan bagian atau salah satu dari hukum Islam. Secara luas, kami selaku pemerintah, sudah melakukan hal tersebut. Dan saya kira tujuan negara Islam itu bukan membuntungkan tangan orang, tapi memakmurkan umatnya.  (dimasnugraha@depkominfo.go.id dan danangfirman@yahoo.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s