wwc parni hadi

Direktur Utama LPP RRI 

Parni Hadi 

“Asal Diberi Kebebasan Berkreasi, Pasti Bisa Berubah” 

Khawatir, kata itulah yang paling tepat menggambarkan perasaan Parni Hadi ketika diminta menjabat Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI). Bagaimana tidak, puluhan tahun RRI menjadi corong pemerintah dalam menyiarkan kebijakan.

Pun sumber daya manusianya punya stigma negatif yang konon jauh dari kata kerja dan kreatif. “ Kalau sudah puluhan tahun menjadi organ pemerintah, saya pikir sangat sulit dirubah mentalitasnya,” kata dia yang juga wartawan senior ini serius. 

Lantas sudah seberapa jauhkan perubahan pada lembaga yang dulu kental dengan kepanjangan tangan pemerintah ini? Sudahkan menjadi lembaga penyiaran yang memihak dan memenuhi kebutuhan informasi untuk publik? Atau masih berkutat dengan masalah klasik, birokrasi?  

KomunikA berkesempatan mewawancarai mantan kepala LKBN Antara ini di ruang kerjanya di Jl. Merdeka Barat, Jakarta. Berikut petikannya :  

Sudah dua tahun LPP RRI, perubahan mendasar apa yang sudah dilakukan? 

Saya rasa produk RRI sudah banyak berubah. Orang tidak melihat status apakah RRI berupa Perjan atau LPP, tetapi melihat produk yang berupa program siarannya. Saya melihat telah terjadi perubahan besar di RRI. Saat ini RRI semakin meneguhkan dirinya bukan lagi corong pemerintah.  

Apa cirinya? 

Silakan Anda dengarkan PRO 3 RRI, terutama. RRI mencoba menampilkan seluruh suara yang muncul di masyarakat. Ya legislatif, eksekutif, yudikatif, dan publik terutama. Setiap siaran selalu diupayakan dengan program interaktif, buka line telepon dan cara lainnya. Di sana suara rakyat diperdengarkan, diinteraksikan dengan sumber yudikatif, eksekutif, dan legislatif.  

Meyakinkan publik bahwa RRI telah berubah, juga tidak mudah? 

Memang butuh waktu, karena kalau sudah sekian puluh tahun dikenal sebagai corong pemerintah, tidak berani, dan serba normatif, tentu sulit meyakinkan publik. Tapi dengan banyaknya SMS dan telpon saat acara interaktif, saya makin tambah yakin. Memang perlu promosi dan kegiatan yang menunjukkan RRI berubah, dari produknya. Bukan sekadar omongan.   

Soal SDM? 

Saya pikir ada kemajuan yang sangat menonjol berupa perubahan sikap dan mental. Mereka lebih berani berkreasi, walau belum seluruhnya, melakukan tindakan yang mungkin dulu ditabukan. Saya lihat, PRO 3 RRI sebagai bagian terpenting dari pusat pemberitaan, sudah mulai berubah pola pikir dan kinerjanya.

Reporter dan penyiar RRI tidak lagi takut untuk menyampaikan kritik yang datang dari masyarakat dan juga analisa-analisanya. Keberanian untuk tampil beda, tapi tidak ngawur. Ini kemajuan pertama.   

Sulit? 

Tentunya. Kalau sudah puluhan tahun menjadi organ pemerintah, saya pikir sangat sulit dirubah mentalitasnya. Juga sikap yang berani mengatakan, kalau pandangan masyarakat tuh keliru. Masyarakat gak musti benar. Pemerintah pun tidak musti benar. Karena itu disanalah sebenarnya tugas RRI, menjadi lembaga yang netral, independen, dan tidak komersial.  

Bagaimana RRI melayani kepentingan publik? 

Publik tidak hanya dilibatkan sebagai pendengar, tapi juga sebagai pelakon. Apa maknanya? Mereka diundang untuk menyampaikan aspirasinya. Juga berhak menilai perkembangan RRI. Karena radio publik ini dibiayai oleh APBN. Rakyat punya hak untuk mengontrol, mengawasi, dan mengkritisi LPP RRI.  

Kongkretnya? 

Bahkan demostran boleh masuk sini. Kalau dulu dilarang. Saya katakan, kalau memang pendapat mereka masuk akal, silakan. Saya siapkan corong di depan, silakan bicara dan semua onair. Kita memang mendengar suara publik. Tapi kita pun harus menyaring, mana yang namanya publik. Karena tidak semua publik, orang-perorangnya maksud saya, benar. Pun pemerintah, juga tidak selalu benar. Makanya kita undang juga orang yang tidak sepaham, silakan bicara juga, menanggapi. Di sanalah saya pikir RRI juga menjembatani kepentingan yang ada, menjadi katalisator. Biarlah publik melihat mana yang benar, mana yang tidak benar, dan mana yang seharusnya. Di sinilah publik diberi kesempatan untuk menilai.  

Masyarakat cukup cerdas untuk menyeleksi informasi yang ada? 

Bisa. Tapi masyarakat perlu dididik, karena tidak sama strata pendidikannya. Akan tetapi cara mendidiknya bukan indoktrinasi. Beri kesempatan untuk bicara dan mendengar.   

Soal Independendensi RRI? 

Independen bukan berarti membiarkan semua orang untuk bicara. Independen berarti punya sikap, sikapnya apa? Semua untuk pengabdian terhadap Republik Indonesia. Silakan A dan B bicara, kemudian kita rumuskan.   

Segmentasi yang diambil RRI terkait persaingan dengan radio swasta?


RRI adalah sebuah lembaga penyiaran publik yang harus melayani semua pihak. Tidak hanya yang kaya, miskin, muda, tua, mayoritas, atau minoritas, tapi semuanya. Karena itu RRI punya 4 programa, Pro 1 untuk umum berjangkauan wilayah provinsi umumnya. Pro 2 untuk generasi muda dengan masyarakat perkotaan. Pro 3 menyeluruh seluruh Indonesia. Pro 4 adalah saluran budaya dan pendidikan. Dan Voice of Indonesia siaran luar negeri dalam 11 bahasa.  

Apa lagi perubahan pada RRI? 

Produk dialog interaktif dilakukan secara 3 in 1 (three in one), audio, video, dan teks. Kita siapkan semua. Onair langsung melalui RRI, videonya bekerja sama dengan mitra kerja bisa TVRI, TV lokal, ataupun TV swasta yang bisa disiarkan belakangan. Kemudian teks, melalui RRI online dan mengundang media cetak untuk menjadi penyelenggara bersama. Jenis kegiatan selalu diusahakan 3 in 1. 

Kemudian layanan video conference, insya allah kami luncurkan pada 11 September. RRI ternyata telah menyewa transponder ke Telkom, luar biasa kemampuannya tetapi selama bertahun-tahun belum dimanfaatkan optimal. Makanya kita melakukan optimalisasi. Selama ini baru dipakai untuk Pro 3 dan Pro 4, padahal bisa video. Kawan-kawan saya karena disuntik dengan keberanian dan kemampuan untuk berubah, berkreasi, maka mereka mencoba-coba. Dan sekarang sebenarnya RRI bisa siaran teve.  

Streaming? 

Disamping audio streaming, kita juga bisa broadcast. Tapi karena undang-undang dan PP menyatakan bahwa RRI adalah siaran radio, maka untuk sementara kami baru menyelenggarakan tahap ini dalam bentuk layanan video conference. Selama ini sudah uji coba, berhasil. Kalau saya pidato atau main ketoprak, seluruh anak buah saya di seluruh Indonesia, di studio-studio RRI bisa melihat live apa yang terjadi di sini.  

Saya dikasih tahu orang Telkom, akan sangat-sangat efektif dalam menyiarkan informasi. Karena tidak ada yang memiliki jaringan sebanyak RRI. Stasiun teve yang ada di Indonesia, bahkan swasta sekalipun belum memiliki jaringan seperti RRI. 58 stasiun dan sebentar lagi akan jadi 60 di seluruh Indonesia. Saya pikir selama ini, entah tidak tahu atau tidak mau mencoba.

Saya sudah lapor Menkominfo, saya minta izin dan arahan. Jawab beliau setuju optimalisasi. Tapi harus bagaimana dibicarakan soal legal dan teknisnya.  

Kemudian apa lagi? 

Berikutnya langkah penting dan harus dicatat adalah Gelar Seni Budaya. Kalau anda baca PP 12/2005, RRI bertugas di samping memberi layanan informasi, pendidikan, hiburan sehat, perangkat kontrol masyarakat, juga sebagai pelestari budaya bangsa. Maka RRI sejak setahun lalu giat melakukan gelar seni budaya.  

Seluruh stasiun saya instruksikan melakukan gelar seni budaya. Seni budaya lokal tradisional yang sudah hampir punah, sudah gak banyak peminatnya. Saya minta dipentaskan, direkam.

Tak hanya untuk telinga, tapi juga untuk mata. Setiap malam RRI menggelar seni budaya. Untuk menghidupkan seni tradisional dan budaya lokal. Saya kerahkan betul seluruh daya tenaga untuk menyelenggarakan kegiatan serutin gelar seni budaya. Saya lihat sendiri, Tanjung Pinang 8 hari, Cirebon 7 hari, Bandung 7 hari. 

Dengan menggelar seni budaya, RRI akan menjadi pusat kegiatan publik. Karena orang akan datang dan otomatis RRI akan menjadi ajang promosi. Sponsor akan datang. Pusat kegiatan publik, juga dapat duit. Setiap cabang umumnya punya tim kesenian, ada musik, karawitan, piano. Kemudian ”Siaran Pedesaan”.

Saya akan meningkatkan kembali apa yang dulu disebut dengan kelompencapir. Saya akan hidupkan dengan nama baru siaran pedesaan dengan melibatkan publik dan kelompok mitra media. Pendengar, pembaca, pemirsa, dan pengakses internet. Nanti Pak Menkominfo, ormas, akan menandatangani MoU dengan RRI. Pun nantinya dengan Deptan, Dephut, Depkes. Tergantung temanya. MoU nya one by one. Tapi pelaksanaanya bisa sinergi.  

Kemudian? 

Saya juga bekerjasama dengan TNI buat siaran di daerah perbatasan, namanya information safety belt, sabuk pengaman informasi. Apa itu? Memerkuat pemancar perbatasan. Memang perlu waktu, jangka panjang. Dibuat di Merauke, Digul, Jayapura, sebantar lagi di Morotai, Nunukan, Tarakan, Toli-toli, perbatasan kita perkuat. Supaya orang di perbatasan mendengar informasi dari Indonesia dibanding negara-negara lain.   

Konsep RRI daerah, partnership dengan Pemda atau ada arahan dari pusat? 

RRI daerah disamping untuk melayani audiens publik daerah, juga melayani pusat. Pro 3 kan berita, informasi, narasumber tidak hanya dari Jakarta, tapi juga dari RRI daerah. Misalkan laporan warta berita, daerah juga banyak mengisi. Bergilir sesuai temanya. Ada juga aspirasi merah putih, bergilir host-nya. Disiarkan dari jam 12 malam samapai 5 pagi. Tetap disiarkan Pro 3 tapi tuan rumahnya bisa Yogya, Bandung, Medan, dan sebagainya. Kemudian ada acara sambung rasa, bergilir. Produksi RRI daerah tapi disiarkan nasional. Bergilir. Juga ada masalah otonomi daerah, bergilir. RRI daerah tidak melayani kepentingan daerah, tapi juga kepentingan nasional. Sebaliknya juga begitu.   

Konten diserahkan untuk kepentingan daerah? 

Jangan pemerintah daerah, tapi kepentingan wilayah. Pemerintah hanya mitra.   

Untuk menjadi RRI yang ditunggu dan dinanti, masih panjang prosesnya? 

Sama dengan Anda tanya ke Presiden, Indonesia yang diharapkan butuh makan waktu berapa lama? Proses. Tapi yang jelas kita memulai. Learning by doing, learning by sharing dan learning by serving. Dan tentuanya learning by earning, sambil dapat rejeki. Hahaha. 

Dulu waktu masuk RRI, saya ragu. Karena saya bukan pegawai negeri, saya dari swasta. Apa saya nggak kewalahan menghadapi PNS yang stigamanya kurang produktif, kurang kreatif, kurang berani, karena pintar malas sama saja. Ternyata setelah dua tahun di sini, saya punya keyakinan. Teman-teman di sini bisa berubah. Asal diberi kebebasan.

Saya kasih kebebasan mereka untuk berkreasi, buatlah. Bikin kesalahan gak papa. Buat aja, jangan takut salah. Pernah ada kasus, anak buah saya lapor stasiun ini kurang senang sama pemberitaan RRI. Saya temui, gubernur daerah anu. Saya jelaskan. Masak you gak mau dikritik, justru bagus kan masukan buat you. Oke kalau setuju saya buat program, gubernur menyapa, bupati menyapa, bupati peduli. You ngomong, pendengar mereaksi Anda, untung kan 

Jadi saya beri kebebasan sekaligus perlindungan. Diancam dia, saya hadapi. Tanggung jawab Dirut. Kalau ada intervensi, saya yang akan selesaikan. Mereka pegawai negeri, asal diberi kebebasan untuk berkreasi, pasti bisa. Saya yakin itu. Itu kuncinya.   

Road map RRI? 

Lima tahun kepemimpinan saya dicerminkan dalam program dan produksi, juga pendapatan iklan. Harus jujur, iklan walau RRI nonkomersial, pendapatan iklan adalah salah satu indikator penting didengar atau tidaknya RRI sebagai program radio. Tahun 2005 kami sudah dapat Rp.6miliar, 2006 lalu Rp.12miliar, tahun ini targetnya Rp.20miliar. Mudah-mudahan tercapai. (dimas@bipnewsroom.info)

One thought on “wwc parni hadi

  1. Saya suka RRI, lebih2 saat subuh….cuma kadang2 sulit SMS ke RRI…abis…no ada yang berubah-ubah (Tolong umumkan No. untuk kiriman SMS tiap2 RRI Cabang di seleuruh RI)…kadang dikirim kok penyiarnya lebih mentingkan yang telpon…ujung2nya SMS yang sudah kirim cape2 dan pake pulsa nggak dibacakan penyiar.Saran…tolong RRI kasih waktu baca kiriman SMS 15 menit atau berapa menit giotu…nggak usah mutar2 lagu kalo acara interaktif. Kalau penyiarnya merasa cape tolong usahakan 2 penyiar untuk saling bergantian untuk acara yang beginian.selamat ulang tahun RRI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s