Biodiesel, Energi Pilihan Masa Depan

Biodiesel, Energi Pilihan Masa Depan 

Jangan heran ketika ada yang bicara, “Minyak bumi kita tinggal 30 tahun lagi!!” Ya, pasalnya habisnya pasokan minyak bumi Indonesia diperkirakan tinggal menunggu waktu. Terlihat dari mulai menurunnya produksi minyak bumi Indonesia setelah mengalami masa keemasan pada 1977 yang menyentuh angka 1,7 juta barel per hari. Terus menurun menjadi 1,125 juta barel per hari tahun 2004.

 

Belum lagi melihat kenaikan konsumsi minyak bumi dari 0,95 juta barel per hari tahun 2000, menjadi 1,0516 juta barel per hari tahun 2003 dan sedikit menurun menjadi 1,0362 juta barel per hari tahun 2004. Wah, besar pasak daripada tiang.

 Begitupun dengan kebutuhan minyak solar sebagai salah satu komponen BBM terbesar pun mengalami kecendrungan yang sama. Konsumsinya meningkat 5% per tahun pada 2004 atau sejumlah 25 juta kiloliter. Padahal produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi 75% atau sekitar 18,75 juta kiloliter. Barangnya kian langka, pun kebutuhan meningkat tajam. Mau tak mau energi pengganti harus disiapkan. Biodiesel pun jadi pilihan.  

Hitung Untung

 

Pilihan strategis? Tentu saja. Bukannya sombong, tapi Indonesia sejak dulu memang sudah tercatat sebagai produsen utama minyak sawit dunia. Sehingga kekhawatiran akan keterbatasan bahan baku, usah lagi jadi masalah. Mulai ujung Sumatera berlanjut hingga kawasan Borneo dan ujung timur Indonesia.

 

Karena itulah, tak mengherankan ketika pemerintah semakin mempertegas arah pengembangan biofuel dengan mengeluarkan PP No. 5/2006 tentang kebijakan energi nasional. Industri biodiesel diproyeksikan dapat dikembangkan dalam skala besar dengan orientasi eskpor atau skala kecil dengan orientasi pasar domestik.

 

Biodiesel dari bahan minyak sawit (CPO) selain sebagai bersifat renewable alias dapat diperbaharui sehingga dapat menjamin kelanjutan produksi, juga dapat menekan pembiayaan keuangan negara. Aplikasi B10 yang dicampur solar diperkirakan dapat menurunkan subsidi solar pemerintah sekitar Rp 2.56 triliun. Belum lagi bila dicampur minyak tanah akan menurunkan subsidi minyak tanah sampai Rp 1.66 triliun per tahun.

 

Pengembangan industri ini juga dapat mengamankan fluktuasi harga minyak sawit. Mengunakannya sebagai bahan biodiesel saat harga CPO dunia rendah, dan sebaliknya saat harga tinggi. Tak hanya itu, produksinya pun lebih ramah lingkungan, non-toksik, dan biodegradable. Di samping dari sisi teknis, biodiesel memiliki beberapa keunggulan seperti melindungi mesin dan meningkatkan efisiensi pembakaran.

  

Bangun Infrastruktur

 

Memang banyak yang harus dilakukan pemerintah untuk pengembangan industri biofuel ini. Seakan mengejar waktu tenggat proyeksi keterbatasan minyak bumi yang tinggal beberapa puluh tahun lagi. Mulai merunut alur distribusi/pemasaran hingga pembangunan pabrik biodiesel yang terintegrasi dengan pabrik CPO.

 Pemerintah sendiri, mulai tahun ini akan ngebut membangun sedikitnya 19 pabrik biodiesel berkapasitas 1.747.500 ton untuk memenuhi permintaan komoditas dalam dan luar negeri.

”Di tempat kami baru mulai dibangun 6 Agustus ini. Lokasinya menyatu dengan tempat pembibitan, PKS (Pabrik Kelapa Sawit-red), dan perkebunan warga. Luasnya 2 ha. Di Kecamatan Tambusai sendiri, saat ini sudah ada 3 PKS swasta dan sebuah PKS milik pemda yang sudah berjalan,” kata Kasi Perijinan, Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Rokan Hulu, Wardono perihal pembangunan pabrik biodiesel di Kecamatan Tambusai, Rokan Hulu, Riau.

 

Penempatan pabrik yang terintegrasi, menurut Wardono, memiliki keuntungan tersendiri. Mulai dari meringkas proses alias tak perlu menunggu keluarnya kebijakan pemerintah tentang pemasaran/tataniaga yang berkaitan dengan distribusi biodiesel, sampai memotong arus distribusi barang. Dari pengguna ke pengguna. Sehingga optimasi sumberdaya yang sudah ada di pabrik CPO pun dapat dilakukan.

 

Dengan mengintegrasikan pabrik CPO yang sudah ada dengan biodiesel, berbagai sumberdaya yang sudah ada di pabrik akan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal sehingga proses produksi menjadi lebih efisien. Beberapa sumberdaya yang dapat ditingkatkan efisiensinya antara lain lahan untuk pabrik, air, uap, dan listrik.

 

Dan tentu saja yang terpenting adalah meningkatkan ketahanan energi di pedesaan. ”Yang pakai kan dari situ ke situ, jumlahnya jadi memadai, harga terkendali dan yang pasti bisa jalan terus,” kata Wardono menambahkan.

 

Namun, masalah terbesarnya, lanjut Wardono, minyak biodiesel ini belum dapat digunakan saat ini. Pasalnya, harga produksi biodiesel masih tinggi, Rp.5600 per liter. Jauh dari harga solar yang harga jualnya hanya Rp.4300 per liter.

 Tapi melihat pasar yang demikian terbuka dan kemampuan sumber daya alam Indonesia, ditambah lagi kebutuhan mendesak untuk mencari energi pengganti minyak bumi, membuat minyak biodiesel menjadi pilihan energi masa depan. Jadi tunggu apa lagi. Selamat datang minyak biodiesel. (dimas@bipnewsroom.info) 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s