Satu Nomor, Satu Identitas

Satu Nomor, Satu Identitas 

Pencatatan penduduk berdasar Nomor Induk Kependudukan (NIK) sudah dimulai. Kemudahan administrasi bukan lagi sekadar impian. 

Bagaimana ya rasanya bila ingin membuat paspor tanpa beragam kelengkapan identitas yang merepotkan? Atau mengurus surat tanah tak pusing bawa surat ini dan itu? Cukup sebut angka identitas pribadi, dan semua selesai dalam sekejap mata. Mudah dan cepat.

 Hmm, pastinya tak mudah untuk mewujudkan itu semua, walau juga bukan hal yang mustahil. Kuncinya adalah kepercayaan terhadap Kartu Tanda Penduduk (KTP) harus tinggi. Tidak boleh ada lagi kepemilikan identitas ganda yang selama ini mudah dilakukan. Cukup dengan uang receh Rp25 ribu rupiah, identitas baru yang entah darimana asalnya muncul dan siap dipakai.

“Beri kami waktu karena ini memang bukan sihir,” kata Dirjen Administrasi Kependudukan, Rasyid Saleh berkomentar. Pasalnya, kata dia, kini pemerintah tengah berupaya memutakhirkan dan menyiapkan database kependudukan nasional dalam sebuah Sistem Informasi dan Administrasi Kependudukan (SIAK).

Pemerintah akan menerbitkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) atau yang sering disebut dengan Single Identity Number (SIN) yang berlaku seumur hidup dan tidak berubah.

“Satu angka identitas bagi setiap penduduk Indonesia. Satu nomor identifikasi bisa dipakai untuk semua instansi, nomor KTP, ada paspor. Kelihatan semua, dia punya paspor begini, alamatnya di sini, NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) begini. Semua diatur dalam SIAK,” kata Rasyid.

NIK ini berdasar Peraturan Pemerintah Nomor 37/2007 tentang Pelaksanaan UU Adminduk akan terdiri dari 16 angka sebagai pengenal pemiliknya. Enam digit pertama merupakan kode provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan tempat tingal saat mendaftar. Lalu, enam digit berikutnya akan mengindentifikasi tanggal, bulan, dan tahun kelahiran pemiliknya. Untuk perempuan, tanggal lahirnya ditambah angka 40. Sedangkan empat digit terakhir merupakan nomor urut penerbitan NIK.  Buka Sistem Database Daerah

Langkah pertama yang dilakukan pemerintah adalah dengan melakukan pengisian formulir pencatatan penduduk berdasar Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang mempunyai landasan hukum Undang-Undang (UU) Nomor 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37/2007 tentang Pelaksanaan UU Administrasi Kependudukan.

Blanko isian ini, menurut Rasyid, lebih lengkap daripada ketika membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP). Isian Biodata Penduduk Warga Negara Indonesia ini memuat 31 elemen integral sehingga diharap tak ada lagi celah dalam semua pencatatan peristiwa kependudukan.

”Saya berani jamin tak akan ada seorang warga yang mempunyai KTP lebih dari satu dengan NIK yang berbeda. Soalnya ada proses otentifikasi yang berjenjang, mulai dari kelurahan hingga pusat. Dan ada sanksi yang tegas buat yang coba-coba memiliki KTP lebih dari satu. Penduduk nakal seperti ini bakal kena sanksi penjara paling lama dua tahun dan denda hingga Rp 25 juta. Target, 2009 ini 75% pendataan selesai. Sehingga bisa dipakai saat pemilu 2009” kata dia menjelaskan keunggulan NIK.

Soal biaya pun, tak banyak yang akan dikeluarkan. Pasalnya, kata Rasyid, selama ini sebenarnya setiap warga negara Indonesia (WNI) sudha memiliki NIK baik secara materi maupun substansi. Hanya saja, NIK tersebut masih menggunakan nomenklatur lokal dan belum secara nasional.

“Saya kira tidak terlalu membutuhkan banyak dana, hanya soal kemauan untuk saling membuka dan menyambung sistem. Cukup dengan membuka sistem database masing-masing wilayah,” kata Rasyid.

Dan masalah inilah yang tengah dibahas oleh Depdagri dan para kepala dinas serta pejabat daerah yang berhubungan dengan Adminduk akhir Juli hingga awal Agustus ini. Membahas pembuatan database kependudukan nasional.

Wah, gak kebayang kalau sudah jadi NIK-nya. Pasti nyaman dan uenak tenan. Satu nomor, satu identitas. Mudah dihafal dan memudahkan segala urusan administrasi. Duh, jadi gak sabar. (dimas@bipnewsroom.info)

4 thoughts on “Satu Nomor, Satu Identitas

  1. saya setuju sekali dengan KTP Nasional tetapi kerahasiaan setiap pemduduk harus dijaga dari pihak manapun, Jangan sampai ada pihak yang memanfaatkam data penduduk ini untuk kepentingannya sendiri. Jadi data ini harus dipergunakan untuk kepentingan kependudukan saja. Jangan digunakan untuk politik dan hal lain sebab akan terjadi superioritas atas hak asasi seseorang dalam kebebasan seseorang untuk beraktivitas di negara kita tercinta ini.

  2. Pernyataan-pernyataan di atas terlalu menggampangkan masalah. masalahnya bukan single atau tidak, tapi bagaimana memverifikasi bahwa nomor 123 adalah milik si fulan.

    Bagaimana cara menjamin satu orang tidak punya dua KTP? Satu-satunya cara adalah dengan teknologi biometri (sidik jari, dll) dan untuk itu harus ada satu server yang berisi data seluruh penduduk Indonesia yang terhubung ke server di tempat pengeluaran KTP. Tanpa teknologi ini omongkosong kalau ada orang bilang dengan otentikasi berjenjang terjamin tidak ada KTP ganda.

    Tentang kerahasiaan juga omongkosong. Data lengkap penduduk terpampang di setiap kelurahan di masa Pilkada/Pemilu

  3. Saya rasa kita harus memulai “tatanan baru” dalam membuat jati diri yaitu dengan “Single Identity Number (SIN)”. Dengan SIN ini mestinya akan mempermudah semua urusan dan dapat menciptakan “good governance” karena peluang macam2 akan dapat diminimalisir. Tentu memulai hal baru diperlukan keuletan, kesabaran, dan sosialisasi ke masyarakat jangan bosan2… mudah2an dengan kerja keras dan dedikasi semua pihak, impian mempunyai NIK atau SIN bagi setiap warga negara bukan merupakan khayalan dalam negeri dongeng, tapi kenyataan dalam negara republik tercinta ini. mudah2an Negara juga mampu melindungi kerahasiaan pribadi setiap orang. Mudah2an bermanfaat, tks, salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s