wwc Prof Oetarjo Diran

Prof. Oetarjo Diran :  

”Budaya Kita Bukan Budaya Safety

  Banyak kecelakaan di darat, laut dan udara. Sebenarnya apa yang salah, human error-kah, peralatan atau selainya?

  Saya tidak mau menyebut human error. Karena human error itu kesalahan. Dan belum tentu yang dilakukan manusia itu adalah suatu kesalahan, bisa saja lupa, alpa dan sebagainya. Itu salah tidak?

  Tapi secara aturan, sudah ada?  

Ya sudah punya dong. Penerbangan itu punya aturan-aturan sendiri, seperti rambu-rambu jalan. Peraturan itu kan dibuat supaya Anda tidak celaka, tapi Anda merasa kuat dan siap menanggung resiko dengan melanggar peraturan tersebut. Ya, silakan saja.

 Tapi seharusnya tidak berlaku di penerbangan. Peraturannya jelas-jelas tidak mengizinkan Anda untuk mengambil resiko di luar peraturan yang telah ditetapkan.  

Jadi, singkatnya tidak boleh mengambil resiko dalam penerbangan. Prosedur yang berlaku harus ditaati oleh operator?

  Betul, tidak boleh dilanggar sama sekali.

  

Mengapa?

  Kami sudah memikirkan. Kalau jalan itu normal. Berenang juga normal. Naik mobil, okelah itu extention dari lari. Tapi kalau terbang, misterius. Terbang itu adalah sebuah kemampuan yang tidak alamiah. Seperti ada mistiknya. Dari jaman dulu saat orang mau terbang, lihat dewa yang bisa terbang, ada semacam unsur dramatik.

  Pada intinya transportasi udara itu sebenarnya full protected. Mulai dari standar laik terbang yang diberikan Dephub. Landasan pacau juga diperiksa. Aturannya semua untuk menjamin keselamatan

  Dibuat untuk mengantisipasi kecelakaan?

  Ya, semua menangani agar tidak terjadi kecelakaan. Tapi bukan mengantisipasi, kalau pakai kata itu seakan-akan mengharapkan terjadinya kecelakaan dan bisa meramalkan keadaan. Mungkin yang tepat adalah mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan. Kalau pertanyaannya itu, ya mudah saja. Ikuti saja peraturan-peraturan yang ada.

  Dalam investigasi yang biasa Bapak lakukan, apa faktor dominan yang banyak menyebabkan kecelakaan?

  Ada tentu yang salah. Misal, saya punya mobil. Kilometernya sudah 10.000 harus segera ganti oli. Kata orang bengkelnya, sudah tidak apa-apa. 30.000 juga gak papa, masih bisa. Anda ambil resiko dengan perkataan itu tadi. Padahal aturan yang ada mengatakan, Anda sudah harus ganti oli. Tapi kan Anda ambil resiko tadi dengan konsekuensinya. Ya, terserah.

  Ada peran manusia yang juga menentukan keselamatan. Peraturannya adalah untuk menyelamatkan. Kalau Anda tidak percaya pada peraturan, ya bisa saja sesuatu terjadi. Walau terkadang ada juga peraturan yang justru mencelakakan. Saya temukan beberapa.  

Misal?

 Di Medan, ada peraturan yang mengatakan jangan turun kalau visibility-nya kurang dari 800 meter. Saya katakan ini salah, jika kita lihat dengan adanya kejadian yang turun 800 meter dan tidak bisa lihat apa-apa. Ini kan peraturannya yang salah, harus diperbaiki. Peraturan bisa saja salah, ini kan bukan Qur’an yang murni benar. Masalahnya kompleks, tidak semudah itu untuk menetapkan ini salah dan ini tidak.  

Berarti ada rekomendasi? 

Tentu saja ada. Waktu itu saya berikan langsung ke Pak Dhanu (Haryanto Dhanutirto–red). Keputusan itu langsung dicabut oleh beliau yang juga penerbang. Kalau memang peraturan yang salah, langsung diperbaiki. Tidak bisa kita membela-bela diri.  

Rekomendasi tersebut diperbaharui dan dipublikasikan?  

Ya, dipublikasikan ke airman. Ada memo yang terus update kepada mereka.   

Menurut Anda, faktor apa yang harus diperhatikan untuk membuat sistem transporasi yang baik?

  Bisa memindahkan orang dari satu tempat, dengan selamat, cepat, dan biaya murah.Tapi yang pertama adalah selamat, cepat dan tepat waktu buat bussinesman, murah buat rakyat, nyaman buat turis.   

Dalam skala 1-10, berapa poin yang bapak berikan bagi transportasi Indonesia?  

Saya tidak tahu bagaimana membandingkannya. Bagaimana Anda bisa bandingkan Amerika yang punya teknik navigasi tinggi dengan Indonesia. Ada contoh tentang kecepatan kereta api, pernah saya tanyakan pada salah seorang masinis. Dia tidak punya spedometer, hilang katanya. Lantas saya tanya sama dia, bagaimana Anda bisa tahu berapa kecepatan kereta? Enteng saja dia jawab, kalau bunyinya degdeg..degdeg berarti 30km/jam. Kalau degdeg-nya agak cepat berarti sekian kilometer. Anda mungkin tertawa mendengar itu, tapi itu adalah true answer dari seorang masinis. Apa itu bisa sesuai dengan tingkat keselamatan di luar negeri. Tingkat keselamatan itu persepsi, kalau naik di atas gerbong bisa dikatakan selamat, ya bisa saja selamat sesuai standar. Sangat relatif.

   Maksud Anda?

  Keselamatan itu adalah question of acceptance, bagaimana kita menerima level-levelnya. Yang akan kita pegang adalah acceptable atau tidak level of safety-nya. Kalau masyarakat bisa terima, ya sudah.   

Yang paling aman, udara?

  Bukan, nuklir yang paling aman. Dia punya standar keselamatan sangat tinggi dan rapi. Setelah itu baru penerbangan.  

Jadi, dari segi peralatan dan prosedur, kita sudah memenuhi?  

According to the letter, yes. Menurut buku, kalau kita audit sih ok saja. Tapi budayanya itu kan yang kita tidak punya. Budaya kita bukan budaya safety.  

Maksdunya budaya safety? 

Semua orang jika ingin mencapai keadaan selamat, harus membuat penilaian sendiri. Jika lampu merah diserobot, kan ada resikonya. Kalau Anda berani ambil resiko itu ya sudah, itu urusan Anda.  Kalau masyarakat sudah bisa disadarkan untuk menghargai orang yang hidup, bahwa hidup itu bukan hanya nasib, tapi bisa diperpanjang dengan adanya usaha kita, bisa dinyamankan. Kalau masih menganggap seperti itu, sangat sulit. Sebenarnya sudah mendekati human right.  Sebenarnya begini masalahnya. Kalau kita mau mengandai-andai mengapa keselamatan bukan faktor prioritas di Indonesia, karena kita masih di bawah semua level untuk nyaman hidup. Untuk hidup saja belum ada, jadi prioritas tranport yang aman belum ada. Mungkin saat ini masih 50% penduduk Indonesia masih memikirkan makan apa besok, tidak sampai mikir ke tranportasi. Jadilah seperti diabaikan. Masih jauh. Ini bukan semata kelemahan kita, tapi ya kenyataannya seperti ini.   

Saat ini, apa makna trasnportasi bagi rakyat?  

Persyaratan transportasi yang ada di Indonesia saat ini hanya satu. Saya harus ke sana dan harus sampai. Misal saat lebaran. Berdiri di atas gerbong, tidur di wc juga banyak yang mau. Jadi tingkat yang diminta oleh masyarakat adalah pokoknya sampai.  

Kalau pandangan pemerintah?

  Ya ada faktor lain, yang terlihat baru menghubungkan dan membuka jalur transportasi dari satu tempat ke tempat lain. Menjaga persatuan dan kesatuan, seperti itulah kira-kira. ***(dimas@bipnewsroom.info)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s