wwc LIPI : tv n radio perbatasan

Telepon Radio dan Teve Perbatasan LIPI :  

Dekatkan Masyarakat Perbatasan Dengan NKRI 

Dulu, diakui atau tidak, kawasan perbatasan kerap dianggap sebagai ruang belakang alias mendapat perhatian paling bontot dari pemerintah. Kendati kini paradigma tersebut telah banyak berubah, banyak program Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang telah berjalan di wilayah yang berbatasan daratan langsung antara Indonesia dan negara tetangga itu.

 Sebut saja program teve perbatasan yang sudah berlangsung sejak tahun 70-an. Dulu, dengan perangkat sederhana semisal antena penerima frekuensi, kesadaran menjaga kawasan perbatasan dari terpaan informasi negeri tetangga telah terbangun.

“Apapun programnya, tujuan utama adalah mendekatkan masyarakat kawasan perbatasan kepada NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia – red),” jelas Rustini S Kayatmo, perempuan peneliti yang bertugas di Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi (PPET) LIPI, Bandung.

Jebolan Teknik Elektro ITB ini bersama beberapa orang peneliti PPET lain telah menggagas teve dan radio perbatasan berbajet minim. Reporter KomunikA, Dimas Aditya Nugraha, berkesempatan mewawancarai peneliti senior LIPI ini di kantornya di kawasan Cisitu, Bandung.

Berikut adalah petikan wawancaranya :  

Teve perbatasan, sebenarnya program seperti apa?

Jadi LIPI punya Program Kompetitif. Program-program unggulan hasil penelitian yang sudah siap diimplementasikan. Pengujiannya sudah lama dan siap digunakan di masyarakat.

 

Nah, salah satu subprogramnya ada wilayah perbatasan. Di bawah subprogram ini ada bermacam-macam kegiatan penelitian. Ada penelitian sosial politik, kajian rekayasa teknologi, rancang bangun, macam-macam lah.

Kalau yang kami tangani di Pusat Penelitian Elektro dan Telekomunikasi, untuk perbatasan hanya ada dua, teve dan telepon radio. Kalau untuk daerah perbatasan sendiri, sebenarnya programnya banyak. Ada solar cell dan lainnya.  

Di daerah perbatasan, apa yang LIPI lakukan?

Kami baru menjamah Kalimantan dan NTT. Papua mungkin 2008. Secara garis besar kami melakukannya dengan bertahap. Pertama, masuk dengan Teknologi Tepat Guna (TTG) di bidang pertanian, perikanan dan semisalnya. Kemudian akan terdeteksi kebutuhan masyarakat lainnya semisal, penerangan, transportasi, pengolahan es dan lainnya. Dan kemudian meningkat. 

Sejak kapan program ini berjalan?

Sebenarnya program teve perbatasan sudah ada sejak zamannya LEN (Lembaga Elektroteknika Nasional-red), badan sebelum ada LIPI. Kalau tidak salah sekitar tahun 1976-an. Tapi frekuensi yang digunakan masih VHF (very high frekuency). Kemudian sejak LIPI lepas dari LEN, penelitian itu dibawa mereka, jadi PT LEN Industri, perusahaan BUMN.   

LIPI masih ikut meneliti juga?

Kami yang tetap di LIPI mulai meneliti pemancar UHF (Ultra High Frekuency). Menelitinya sejak 2000, tapi implementasinya baru mulai 2003. 

Dari tahun 1976 sudah berapa banyak yang terpasang?

Wah tidak tahu, sejak LEN masuk BPIS (Badan Pengelolaan Industri Strategis), kami tidak tahu lagi. Seingat saya, kurun 1976-1980 lebih dari 300 unit pemancar teve VHF yang terpasang. Tapi bukan di daerah perbatasan.   

Lantas?

Pemasangannya bisa dipakai di mana saja. Tapi kemudian penerapannya kami ikutkan di program perbatasan. Tapi perangkatnya sendiri tidak menutup kemungkinan dapat digunakan di tempat lain. Di daerah blank spot, desa terpencil dan lainnya.  

Pemancar UHF LIPI, berapa banyak yang telah terpasang?

Pada tahun anggaran 2003 dan 2004 relay pemancar dipasang di Belu NTT, 50 watt; Rote Ndao, 100 watt. Juga Tahun 2005 di Timor Tengah Utara (TTU) NTT tepatnya di kota Kefamenanu dengan kemampuan daya pancarnya sebesar 100 Watt dua kanal. Di Bangka Induk – Babel, 100 dan 300 watt, Bontang – Kaltim, 300 watt. Pada 2006 ini, kami pasang di Nunukan – Kaltim dan Aikesak – NTT.  

Bagaimana proses pemasangannya?

Pada tahap perencanaan, kami lakukan survey lapangan untuk mengetahui perambatan gelombang radio, propagasi dan perencanaan pemancar televisi. Survey itu untuk mendapat data tentang lokasi pemancar, ketinggian lokasi, kondisi tanah untuk grounding, frekuensi komunikasi yang ada, coverage daerah dan mendata sarana dan prasarana yang ada.  

 Kemudian?

Setelah itu kami tentukan berapa kuat daya pancar yang dibutuhkan untuk meng-cover area tersebut. Ada tiga pilihan, 50 watt, 100 watt dan 300 watt. Dicari yang paling ekonomis. 

Makin besar, makin luas daya pancarnya?

Bisa semakin luas, jika daerahnya datar. Kalau daerahnya bergunung-gunung, ada faktor lain yang mempengaruhi. Luas daya pancar tergantung pada tinggi tower dan kuat watt pemancar. Sama kondisi geografis daerah. Alangkah baiknya pendirian itu berdasarkan geografis yang ada, kemudian kita perhitungkan.

Kalau daerahnya tinggi dan bergelombang, maka dibutuhkan antena dengan penguatan yang besar. Untuk pemancar pun demikian. Jika 100 watt dan dipancarkan dengan 4 panel antena, daya yang keluar akan lebih besar dibanding hanya satu antena. Kalau daerah cakupannya kecil, mungkin satu saja sudah cukup. 

 Jika diambil rata-rata, berapa luas pancarannya?

Mungkin sekitar radius 5-10 km. Radius ya, r (jari-jari –red) bukan d (diameter – red).  

Bisa meng-cover berapa banyak penduduk?

Tinggal dihitung saja berapa populasi yang ada. 

Bagaimana prosedurnya jika daerah ingin dipasang alat ini?

Kami tidak mengurus software-nya. LIPI hanya hardware-nya, alat pemancar dan antena saja. Daerah harus menyiapkan menara dan bangunan pengendali. Singkatnya, harus ada infrastruktur yang disiapkan oleh pemerintah daerah setempat. 

Apa saja?

Ruangan, ukuran bebas; menara standar TVRI, tinggi terserah, tapi biasanya rata-rata 65 meter. Listrik minimal 20 KVA.  

Berapa harga untuk satu alat pemancar?

Satu paket, pemancar dan antena, harganya kira-kira Rp.200 juta. Itu antenanya hanya 4 buah. Beda harganya kalau 16 antena. Bisa menangkap dua saluran teve.  

Tentang telepon radio?

Tujuan sebenarnya memang agar masyarakat perbatasan bisa bertelekomunikasi. Hanya saja juga diberdayakan sebagai wartel. Kita pasang di sana mereka sangat puas. Karena diberdayakan sebagai wartel jadi pemasukan buat pemda setempat juga cukup lumayan. Di sana kan transaksi pakai dollar. Sebulan bisa Rp3 juta. 

Telepon radio, barang baru?

Ini masuknya telekomunikasi pedesaan atau rural communication. Di luar negeri,  memang sudah masuk teknologi satelit. Jadi telepon satelit, komunikasi satelit untuk daerah pedesaan. Kalau di kita, untuk mengadop teknologi satelit di wilayah pedesaan atau perbatasan dari segi teknis memang sangat memungkinkan.

Hanya saja biasanya masyarakat di daerah tersebut tingkat ekonominya masih rendah. Sedangkan untuk charging satelit kan harganya masih sangat mahal. Ini masalahnya.

Dulu sebelum kami masuk ke sana, sebenarnya sudah dibangun wartel berbasis satelit. Tapi karena charging-nya sangat mahal. Tidak digunakan. Makanya beralih ke telepon radio. Kalau teknologi telepon radio sendiri bukan barang baru. Teknologi lama, baik di Indonesia maupun internasional.   

Murah, memang harganya berapa?

Kira-kira bisa 100 jutaan.  

Apa efek yang timbul di daerah perbatasan dengan adanya program tersebut?

Oo luar biasa, dapat mengendurkan ketegangan. Misalnya saat piala dunia beberapa waktu lalu, daerah perbatasan ramai karena konflik di Timor Leste. Kita setel saluran tersebut, mereka bisa berkumpul bersama dan melupakan sejenak permasalahan yang ada. Mereka bisa marah kalau saluran itu diganti. Teve itu bisa menjadi hiburan yang menggembirakan sekaligus menyatukan.  

Hanya untuk informasi pemerintah?

Tidak semata informasi, juga hiburan. Memang kami mengakui, sama seperti efek teve pada segi lainya. Ada efek negatif yang muncul dan ada pula efek positif. Untuk masalah ini, Pemda yang memilih dan menimbang saluran apa yang mau ditayangkan kepada masyarakatnya. Mereka yang lebih tahu tentang kebutuhan dan program yang hendak dijalankan di daerah perbatasan.

Bagi kami tidak masalah saluran apa yang mereka pilih. Karena sasaran yang kita inginkan agar masyarakat perbatasan merasa dan lebih dekat dengan Indonesia, negerinya. Asupan informasi yang masuk dari negeri tetangga itu sangat besar.   

Masih ada kontak dengan pemerintah daerah?

Tentunya, kalau ada kerusakan, kami yang perbaiki ke sana. Kami berupaya agar pada 2007 ini, maintenance bisa kita alihkan ke pemda setempat. Agar biayanya lebih murah. Jadi kami coba mendidik mereka untuk melakukan sekadar perbaikan. Karena kalau kami (orang pusat-red) yang turun, selain mahal, akan banyak membuang waktu.  

Sampai saat ini, ada kerusakan berarti?

Sampai saat ini belum banyak terima laporan. Paling ada kejadian satu tersambar petir. Agak fatal juga, tapi sudah kami perbaiki. Ada lagi masyarakat sendiri yang merusak, gara-gara hal sepele. Alatnya mati, salurannya tidak sesuai dan sebagainya.   

Harapan ke depan untuk program perbatasan?

Kami berharap informasi sejenis dapat diinformasikan kepada instansi yang terkait agar programnya lebih terkoordinir. ***(dimas@bipnewsroom.info) 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s