wwc Kalakhar BNN : Made Mangku Pastika

Kalakhar BNN Drs. Made Mangku Pastika 

Parah, Kompleks, Sulit, Rumit, dan Berbahaya 

Indonesia jadi “pasar” potensial narkotika. Tentu sudah banyak yang tahu. Bagaimana tidak, dengan wilayah yang luas serta tidak rapat terjaga, negeri ini kerap dilirik sindikat narkotika internasional sebagai jalur “resmi” peredaran segala jenis barang haram tersebut.  

Dan hasilnya pun, luar biasa. Tak kurang 3 juta orang pengguna dengan nilai transaksi triliunan rupiah, membuat peredarannya sulit diberantas. “Kondisinya sudah parah, kompleks, sulit, rumit, dan berbahaya,” jelas Ketua Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (Kalakhar BNN), Made Mangku Pastika, ketika ditemui KomunikA di kantornya beberapa saat lalu.

Penegakan hukum, kata dia, memang terus dilakukan. Tapi tetap saja, tanpa pencegahan dan pengawasan aktif dari anggota masyarakat, yang juga menjadi target pasar narkotika, upaya pemberantasan akan sia-sia.

 Berikut petikan wawancaranya :  

Peredaran narkotika di Indonesia, secara umum seperti apa? 

Sudah merata ke seluruh lapisan. Apakah anak-anak, pemuda, dewasa, tua, laki, perempuan, kaya, miskin, keluarga baik-baik, keluarga berantakan, semua sudah masuk. Kondisinya sudah parah, kompleks, sulit, rumit, dan berbahaya. Begini, Indonesia itu salah satu pasar potensial sindikat. Saat ini yang tercatat, 1½ persen atau 3,2 juta penduduk kita sudah menjadi pacandu narkoba. Dari sekian itu, sekian ratus ribu menggunakan jarum suntik. Uang yang dibelanjakan untuk narkotika, triliunan.  Menurut data KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) ada 36 ribu pengguna jarum suntik. Berarti ada 36 ribu gram heroin yang disuntikkan setiap hari. Satu gram misalnya satu juta, berarti Rp36 miliar sehari. Begitu juga dengan heroin yang masuk ke Indonesia, satu hari 36 kg, satu bulan bisa 1 ton. Tapi gak bisa kita tangkap.  

Karena? 

Masuknya bisa dari mana-mana. Apa bisa kita cek semua kargo yang masuk di airport dan pelabuhan laut. Belum lagi kalau turunnya bukan di pelabuhan resmi. Seperti sabu yang kemarin, di Teluk Naga, Tangerang. Kan gak mungkin kita jaga. Karena wilayah kita demikian luasnya, pulau-pulau luar biasa banyak, tentara dan polisi air gak mampu menjaga setiap jengkal tanah. Begitu luas. Jadi gampang masuknya.  

Tapi bukan berarti tidak ada upaya? 

Paling-paling yang bisa kita tangkap hasil dari operasi intelijen. Tahu jaringan mereka. Yang bisa kita ungkap ya beberapa yang masuk koran selama ini, itulah yang bisa kita lakukan. Terlebih sangat terbatasnya anggaran untuk penegak hukum. Karena untuk melakukan penyidikan dan penyelidikan terhadap kasus narkoba itu bukan hal yang murah.  

Mahal? 

Ya mahal lah. Sekarang misalnya, saya ingin menangkap pengedar kecil saja. Yang jual ekstasi eceran. Saya mesti pancing, saya mesti tahu dan pelajari, mesti nongkrong. Tanya-tanya sama orang, kasih informan. Kalau nongkrong sendiri, bau-bau polisi kenal mereka. Bayar orang. Tapi kita kan maunya dapat yang kakap, belinya gak bisa sedikit. Harus dipancing. Satu biji harganya Rp100 ribu, sepuluh dah ketahuan berapa. Itu baru yang eceran sepuluh biji. Kalau kita mau tangkap yang ribuan, lebih gede lagi. Berapa coba?  

Razia tidak efektif? 

Yah..kurang lah. Paling dapet berapa, satu, yang dia pakai saja.

  Diskotek ? 

Ya tapi percuma juga kita nangkepin banyak orang, menuh-menuhin penjara saja. Sekarang ini semua penjara di Indonesia penuh. Sudah overloaded. Separuh isinya terpidana narkoba. Di penjara mereka justru makin menjadi. Terbentuk pasar potensial di sana. Di luar pengawasan. Sipir paling berapa orang seh. Gimana mau ngawasi, kapasitas 300, diisi 900. Nggak bisa kita salahkan sipirnya. Kalah jumlah, ngeper dia sama napi. Itu faktanya. Bukan itu yang kita mau, bandarnya lah. Kita tangkepin yang gituan malah diomelin lagi sama masyarakat. Diledek, yah yang ditangkep teri.   

Opini yang muncul, pemerintah kurang greget? 

Ya karena itu yang terlihat dan paling enak untuk disalah-salahkan. Tapi mereka tidak pernah tahu berapa biaya untuk menyidik satu kasus. Itu yang salah, masyarakat kita selalu mencari kambing hitam. Menyerahkan kesalahan kepada orang lain. BNN saja misalnya, mana bisa, staf saya cuma 300 orang menyelesaikan masalah seperti itu. Ngomong saja sudah cape. Saya sehari bisa berapa kali ngomong. Hanya itu yang bisa saya lakukan, sambil mengerahkan staf, intel untuk nangkepin mereka. 

 Tapi ok, karena kita yang ditunjuk oleh pemerintah sebagai vocal point, barisan terdepan, institusi yang bertugas mengkoordinasikan semua institusi dan masyarakat dalam upaya perang terhadap nerkoba.  

Katanya ”mainan” polisi juga. Buktinya barang bukti sering hilang? 

Iya. Itu juga satu problem. Intergritas petugas. Kejujuran, disiplin, pengawasan atasan. Semua masalah yang integrited. Tidak bisa ditepis. Terjadi, buktinya kemaren Kapolsek Cisarua, ketangkep. Ini satu persoalan lagi dalam penegakan hukum. Memang dibutuhkan hakim dan aparat yang jujur.   

Sanksi narkoba hukuman mati. Gak takut juga? 

Ya tapi pelaksanaannya belum dihukum mati. Karena proses hukum kita kan panjang, tidak sederhana. Kalau belum dihukum ya tidak jera. Orang sudah hilang rasa takutnya. Sekarang lagi kita digugat di MK, judicial review, saya berhadapan dengan orang-orang. Dipermasalahkan karena hukuman mati itu bertentangan dengan UUD 1945. nah itu kalau berhasil di review, makin tepuk tangan deh sindikat. Makin jadi saja peredarannya. Ada ancaman hukuman mati saja gak takut, gimana gak ada.   

Singapura dan Malaysia, tegas soal narkoba? 

Ya biasalah, kita kan lambat-lambat. Kalau masih bisa dicari celahnya, dicari terus. Itulah, banyak yang masih harus dibenahi, bukan hanya anggaran, hukum, petugas, juga persoalan keinginan kita untuk memberantas dengan baik.  

Kayaknya pesimis sekali masalah ini bisa selesai? 

Hahaha. Saya hanya menggambarkan kepada semua orang bahwa persoalan ini rumit, kompleks, sulit, jadi jangan cari kambing hitam. Mulai dari keluarga, diri sendiri. Siapa yang dengar dan baca, jangan pakai narkoba. Memang saya hanya bisa kampanye. Ngomong terus, di teve, koran. Tolong bantu, selamatkan bangsa ini. Itu saja dulu, biar orang dengar, ngerti. Paling tidak, keluarganya dijaga, anaknya dijaga. Kasih perhatian lebih besar. Anak juga jaga bapak. Tokoh masyarakat dan tokoh agama, tolonglah tanamkan nilai-nilai keimanan dan kesadaran.   

Karena kalau mengandalkan perangkat yang ada, sulit? 

Tidak banyak yang bisa dilakukan. Gini deh, selamatkan diri sendiri dulu yang partama. Dari yang kecil saja. Oke, mari kita kampanye. Penegakan hukum jalan, sebisanya. Karena itu tadi, biayanya mahal, control delivery, mancing, penyelidikan, ngontrol lama. Kalau tidak pake kan tidak ada pasarnya, berarti dengan sendirinya tidak laku.  

Jadi dari mana mulainya? 

Kalau soal penegakan hukum, dari polisi. Tapi ingat, narkotika itu bukan hanya masalah polisi. Digunakan juga untuk kepentingan kesehatan. Opium diimpor resmi dari luar negeri dengan izin dari Badan POM. Nah kalau dia nyeleweng, siapa yang ngawasi.  Seperti pabrik ekstasi di Cikande, bahannya diimpor baek-baek oleh importir resmi. Tapi terus hilang sebagian. Masuklah ke sana.

Persoalan integritas, funding budget, hukum, moral, nilai-nil;ai yang ada dalam keluarga. Pergaulan, pengangguran, kemiskinan, tokoh agama yang tidak berhasil membina umatnya. Banyak dong. Narkoba itu induknya dari semua kejahatan, tapi tetap saja orang pakai, tetap orang berdagang. Nah itu, jadi kegagalan semua orang, bukan kegagalan BNN saja.  

Kita fokus pada pencegahan. Tapi bukan berarti yang lain kita abaikan. Karena memang harus simultan. Saya gembira, sekarang hampir seluruh media mengekspos. Biasanya kan komersial, harus bayar. Sekarang liat, mereka siap gratis. Kita masih terus nunggu media lain dalam upaya ini.  Selain itu juga, pekerjaan ini harus gabungan. Penegakan hukum harus jalan terus, harus ditangkepin terus tuh, biar orang takut.  

Pecandu, masuk sel atau RSKO? 

Kita belum mewajibkan orang yang kena ketergantungan masuk ke rehabilitasi. Walau undang-undang mewajibkan begitu. Tapi kalau pecandunya gak punya duit, gimana? Makanya negara harus menyiapkan tempat rehabilitasi atau terapi gratis. Belum ada, baru BNN saja yang punya Pamardisiwi, itupun gak banyak daya tampungnya. Nanti kalau semua ke sini, gimana, membludak. Susah juga kan? Harus negara menyiapkan, dengan gratis.  

Penggantian tanaman ganja masyarakat di Aceh? 

Nah ada lagi problem kita di Aceh. Tumbuhlah ganja di sana, katanya kualitasnya nomor satu di dunia. Paling banyak kadar mengandung narkotika. Rakyat di sana nanam tuh, karena mereka miskin dan dibayar mahal oleh para sindikat, dan kemudianlah nyampe ke mana-mana, nyebar ke seluruh Indonesia. Memang ada rencana begitu. Ini juga tidak murah. Pertama harus men-switch mental orang, dari nanam ganja yang gampang dan duitnya banyak, menjadi nanam apa misalnya. Kopi? Hasilnya lama, belum tentu harganya bagus. Terus jualnya ke mana? Gak segampang itu. Karena juga memerlukan uang yang tidak sedikit dan program itu baru berhasil 20 tahun. Bukan setahun, dua tahun. Setelah masyarakat tersebut melihat bagaimana manfaatnya.  

Mekanisme pelaporan masyarakat? 

Ada, kita fasilitasi semua kegiatan. Mulai penceramah, sampai booklet. Juga ada satuan intelijen yang siap menindaklanjuti laporan masyarakat. Call centre sudah ada, tapi masih belum jalan. Tindak lanjutnya kita coba atur. Kami koordinasi dengan lebh dari 20 institusi. Sebulan sekali kita briefing. Saat ini kami masih terus sosialisasikan dengan pasang billboard dan lainnya. Saya juga sudah ada MoU dengan perusahaan-perusahaan besar untuk mengalokasikan dana mereka untuk menyelamatkan bangsa. Tinggal ditunggu pelaksanaannya.  

Harapan ? 

Semua orang agar teriak anti narkoba. Pesan kita sampai, rakyat sadar, tidak pakai narkoba, sehingga mereka tidak punya pasar. Kalau semua orang kayak orang Islam, gak mau makan daging babi, gak ada yang jual daging babi. Maunya kita begitu. Wong jelas haram kok.  (dimas@bipnewsroom.info)

6 thoughts on “wwc Kalakhar BNN : Made Mangku Pastika

  1. Selamat Dirgahayu R.I. dan Semoga BNN makin mampu menanggani masalah narkoba ditanah air tercinta.
    Menurut saya. BNN punya catatan cukup bagus dalam menangani masalah Narkoba. Sejak Jendral Sutanto dan Made Pastika, kelihatan ada niat ada niat menjadikan Narkoab sebagai masalah polisi dan bangsa. Sayangnya citra baik ini, tercoreng dengan kelakuan oknum anggota BNN dilapangan yang kerja sambilan merangkap pokrol perkara tanah yang gak ada sangkut pautnya dengan masalah Narkoba. Itu dilakukan oleh Muhtar N dan temannya. Keduanya, (Muhtar mengaku pengacara dan LBH BNN Depok). apa yakinnya bahwa masalah tanah yang kusut bisa membuat orang jadi lari ke Narkoba atau apa. Berperilaku layaknya, polisi, jaksa dan hakim sekaligus. Muhtar mengintrograsi, mengancam dan menuduh saya sebagai penipu dalam jual beli tanah. Dan mengancam saya akan diseret ke Polres Depok dengan tuduhan menipu. Ketika saya konpirmasi ke Polres Depok, bagianPropam/Provost atau Pak Joko, Pak Achmad Djulmardi dan Bagian pengaduan (tagl 13, 14 Agt 2007) semua menyatakan kelakuan oknum BNN Muhtar cs. tidak ada kaitan dengan tugasnya. Kalaupun niat baik mau menolong masyarakat, janganlah dengan cara Intimidasi, Teror dan Menuduh ! Semoga Pak Sutanto dan Made Pastika, mau meluruskan anak buahnya yang iseng dan seperti kurang kerjaan. Terimakasih, Ali Abdillah. Hp. 081585677979. Alamat tinggal, Kampung Pleret Buaran + 200 M.dari Stasiun Citayam. Sebelah Mushallah Haji Mawardi.

  2. Saya Guru IPA-Kimia SMP Negeri 3 Semarapura
    Jln. Warapsari Gelgel, Klungkung, Bali Telp. (0366)22692
    Bertugas sebagai salah seorang petugas/tenaga fungsional di BNK Klungkung, mohon komunikasi langsung dengan BNN dan BNP Bali untuk kelancaran pelaksanaan tugas.
    Alamat rumah : Br. Sangging, Kamasan, Klungkung, Bali, Telp (0366)23183
    HP. 085237510211

  3. Saya ditugasakan mengadakan reinforcement pembelajaran zat adiktif dan psikotropika (IPA / Kimia-SMP) di kelas VIII SMP oleh BNK Klungkung, Bali. Mohon dukungan moral dan material. Surat tugas terlampir.
    Berikut Piagam Pelatihan IASTP-II Indonesia dan Australia fase II oleh BNN

  4. Saya Taruna Akpol sangat mendukung program BNN semoga harapan dan kerja keras BNN sukses selalu. Ketika Latja di Kertek Wonosobo kami kerap kali memberikan penyuluhan kepada pelajar dan warga desa tentang Narkoba, memutar filmnya dan memberikan file tentang Narkoba setiap selesai penyuluhan. Mudah-mudahan dapat membantu BNN dalam pemberian soialisasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s