Berharap Pendidikan Gratis Berbuah Manis

 Berharap Pendidikan Gratis Berbuah Manis 

Ada kasus, orang tua dan masyarakat tak lagi peduli. 

Pendidikan gratis seharusnya menjadi sebuah peristiwa sejarah yang selalu dinanti dan diharapkan kehadirannya. Dengan pendidikan bebas biaya itu, kesempatan mengenyam pendidikan bagi anak bangsa akan semakin terbuka lebar. Dan tentunya akan berimbas pada perbaikan kualitas hidup masyarakat.

Namun entah apa yang terjadi, ketika pemerintah telah memberikan pendidikan gratis di beberapa wilayah, justru keluarga dan masyarakat tak lagi banyak berperan. Menyerahkan urusan pendidikan anak mereka pada sekolah semata.

Hal itu seperti yang diceritakan oleh Wakil Kepala Sekolah SMPN 198, Hernawati (47), kepada KomunikA. Ia merasakan menurunnya kepedulian orang tua siswa dalam memerhatikan pendidikan anaknya.

“Dulu ketika rapat, orang tua minimal selalu menuntut upaya sekolah, semisal persiapan ujian dan lainnya. Sekarang, sampai tiga kali surat teguran karena anaknya tak masuk sekolah, orang tua gak peduli. Malah ngomong gini, ’Ya anak saya gak mau sekolah, mau gimana lagi’,” ucap Hernawati yang telah mengajar di sekolah tersebut selama lebih dari 10 tahun.

Padahal sekolah yang berlokasi di Klender Jakarta Timur ini sudah mendapat pendidikan gratis sejak setahun lalu. Statusnya sebagai SSR (Sekolah Standar Reguler) membuat seluruh pembiayaan pembelajaran ditanggung pemerintah. Sekolah tak diperbolehkan menarik dana sumbangan dari masyarakat.

“Yang kami takutkan, akan berimbas pada pendidikan siswa, terlebih tingkat kelulusan. Karena SMP itu pendidikan dasar, pihak sekolah sangat serius membina mereka. Siswa harus selesai SMP!” kata Hernawati dengan raut wajah serius. 

Pemerintah Tetap Komitmen

Dan pendidikan dasar tanpa biaya memang sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Pemerintah masih terus berupaya menyempurnakan pemerataan pendidikan gratis ini ke seluruh Indonesia.

”Dari studi balitbang, dengan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), kita sudah bisa mencapai pendidikan gratis 70,3 persen di seluruh Indonesia. Tinggal 29,7 persen. Andai daerah juga menanggulangi, akan merata seluruhnya,” ungkap Kepala Balitbang Depdiknas, Prof. Manyur Ramly.

Ramly mengeluhkan adanya kasus di beberapa daerah yang justru mengurangi anggaran pendidikan mereka dikarenakan sudah mencukupinya BOS dari pemerintah pusat untuk pendidikan gratis. Padahah, justru Pemda lah yang seharusnya banyak berperan dalam pendidikan tanpa biaya ini, dan BOS hanya sebagai pelengkapnya.

“Ini malah terbalik. Tapi kami tetap optimis. Akhir ini, tentu saja dengan dukungan Pemda, 90 persen wilayah Indonesia, tingkat pendidikan dasar sudah tanpa biaya,” kata dia.

Pendidikan gratis memang belum seluruhnya merambah wilayah Indonesia. Dan mungkin juga kasus ini hanya terjadi di beberapa daerah saja. Tapi sekadar mengingatkan, tanpa ada peran dari masyarakat dan keluarga, pendidikan gratis takkan mungkin berbuah manis. *** (dimas@bipnewsroom.info)  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s