Tulisan Anak Seto Mulyadi

 

Dr. Seto Mulyadi, Psi Msi : 

 

Mendidik anak, bagi Dr. Seto Mulyadi, Psi MSi, adalah menciptakan sebuah generasi baru. Bagaimana tidak, bila anak diarahkan dan dididik sesuai potensinya, bukan tak mungkin ia akan tumbuh menjadi seorang pemimpin cerdas yang dapat membangun bangsa.

 

Anak-anak tetaplah anak-anak, ia tidak bisa dianggap sebagai orang dewasa yang sudah berpikiran matang, itulah anggapan lelaki yang akrab dipanggil dengan sebutan Kak Seto ini tentang caranya mendidik anak.

Pria kelahiran Klaten 28 Agustus 1951 ini mengaku selalu mengembalikan anak pada dunianya, dunia bermain yang menyenangkan. Ia beranggapan, bila sambil bermain, anak-anak akan belajar dengan efektif. Sehingga pendidikan menjadi sesuatu yang menyenangkan dan tidak akan ada lagi phobia (ketakutan) anak terhadap pelajaran dan sekolah.

“Anak-anak itu semuanya pintar. Lihat saja di Inggris, kecil-kecil sudah bisa berbahasa Inggris. Di Perancis, Yogya. Mereka belajar dengan senang dalam percakapan sederhana di setiap aktivitas dan bermain. Tidak duduk, ini ibu pergi ke pasar. Ini subyek, ini predikat,” ucap lelaki yang lebih dikenal sebagai sahabat dan pendidik anak-anak menjelaskan. 

Potensi Anak Berbeda

Setiap anak, menurut Seto, memiliki potensi unggul yang saling berbeda. Untuk itu, ia selalu menyarankan kepada setiap pendidik dan orang tua agar mengetahui serta mengarahkan anaknya pada potensinya masing-masing. Sehingga nantinya tidak hanya anak yang menguasai pelajaran matematika atau berhitung saja yang disebut sebagai anak pintar. Akan tetapi, setiap anak adalah anak yang pintar dalam bidang dan potensinya masing-masing.

“Anak-anak itu ibarat bunga-bunga yang elok. Mawar, melati, anggrek. Mana yang paling indah? Semuanya indah,” ucap peraih penghargaan Orang Muda Berkarya
Indonesia 1987 Kategori Pengabdian Pada Dunia Anak-anak ini membuat permisalan.Peran orang tua dan pendidik, menurut bapak empat orang putri ini, adalah mengarahkan dan menumbuhkan semangat anak untuk selalu mencintai ilmu pengetahuan. Caranya, kata dia, adalah dengan menciptakan suasana yang dapat mendukung krativitas, spontanitas dan kebebasan berpikir anak.

Bagi lembaga pendidikan, kata saudara kembar dr. Kresna Mulyadi ini, diibaratkan sebagai sebuah lahan subur bagi tumbuhnya bunga-bunga elok bangsa yang beragam. Untuk itulah, katanya, lembaga pendidikan bertugas menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar anak dapat berkembang sesuai dengan bakat dan potensi unggulnya itu. Sekolah yang disebut Seto dengan sekolah yang memanusiakan manusia.

“Anak kecil itu senang sekali belajar. Coba perhatikan aktivitas mereka, penuh kegembiraan sekaligus rasa ingin tahu. Tapi manakala belajar menjadi sesuatu yang bersifat kaku, paksaan, kewajiban dan tekanan, maka anak-anak seperti robot. Tidak menyenangkan,” ucap penulis buku ‘Anakku, Sahabatku, dan Guruku’ (1997) ini menjelaskan.   

Berjuang Untuk AnakSelain mempunyai “pekerjaan” tetap sebagai seorang pendidik, sejak tahun 1998, ia juga dipercaya sebagai Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPA). Saat ini, Seto bersama KPA tengah gencar mengampanyekan cara agar anak senang belajar.

“Kami berupaya mengkampanyekan bahwa belajar adalah hak anak, bukan kewajiban anak,” katanya menjelaskan.

Dalam kampanye ini, pihaknya mencoba menyadarkan masyarakat bahwa anak-anak berhak mendapat pendidikan yang lebih baik. Ia berharap agar pemerintah dapat menyediakan kesempatan belajar seluas-luasnya kepada anak-anak
Indonesia. Caranya, kata dia, salah satunya dengan membuka peluang pendidikan-pendidikan alternatif semisal SLTP Terbuka Qoryah Thayyibah di Salatiga ataupun home schooling lainnya.

“Saat ini anak putus sekolah mencapai 12juta anak. Cara pengentasannya dengan pendidikan luar sekolah, jalur informal dan nonformal. Sehingga anak-anak dimanapun juga, apakah anak jalanan, buruh anak, atau korban bencana tetap mendapatkan haknya untuk belajar dengan cara yang tepat dan menyenangkan,” ucapnya menjelaskan.

Selain masalah pendidikan, KPA saat ini juga tengah mengkaji berbagai peraturan yang dianggap merugikan anak. Ia menyontohkan UU No 3 Tahun 1997 tentang peradilan anak. Pada pasal 4 dikatakan bahwa anak usia 8 tahun dapat diajukan ke pengadilan. Padahal menurut kesepakatan internasional Beijing Rules menetapkan usia 12 tahun sebagai batas minimal dapat diajukan ke pengadilan. Peraturan yang merugikan anak, tambah Seto, juga terdapat pada UU kependudukan yang mewajibkan untuk mencantumkan status dari perkawinan orang tua di akte kelahiran. Hal tersebut, menurut Seto, adalah sebuah upaya labelisasi terhadap anak.

“Misalnya anak yang lahir dari perkawinan tidak sah atau kawin siri. Apakah harus dituliskan. Itu masalah orang tua, anak jangan mendapat label seperti itu. tetapi bahwa dia resmi lahir dari seorang ayah dan ibu, tetap harus dicantumkan. Masalah seperti ini yang kami usulkan untuk diamandemen,” jelas Seto.

Perjuangan Seto untuk anak-anak tak hanya sampai di situ. KPA juga menempatkan pandiri Istana Anak-anak Taman Mini ini untuk duduk di Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Harapannya, agar ia dapat bekerja maksimal dalam menyuarakan harapan dan keinginan anak-anak di bidang pendidikan.Ia turut pula membuat program “Play Therapy Counseling” pasca tragedi bencana gempa dan tsunami beberapa waktu lalu. Program tersebut merupakan upaya untuk meredam trauma anak akibat bencana. Metode pendidikan alternatif yang berbasis “Belajar Sambil Bermain” tersebut merupakan penunjang proses belajar mengajar di sekolah yang terpaksa tak dapat berjalan.  

Tak hanya itu, mereka juga menyelenggarakan Pendidikan Kedaruratan, Perpustakaan Keliling, pendampingan bagi relawan lokal (masyarakat lokal) dan pemberian training of

trainers (TOT) sebagai program lanjutan penanganan anak korban bencana dan pembangunan potensi lokal yang berbasis SDM dan SDA lokal.  

Mendengarkan Harapan AnakHarapan terbesar Seto adalah turut menyuarakan suara anak yang terangkum dalam Kongres Anak
Indonesia yang diselenggarakan setiap berlangsungnya Hari Anak Nasional. Pada kongres tersebut, anak-anak dari berbagai latar belakang, mulai dari buruh anak, artis, anak jalanan, anak berprestasi, sampai anak yang dilacurkan, semuanya berkumpul untuk bersuara.

“Ini murni suara anak, tidak ada intervensi dan rekayasa orang dewasa. Mereka bebas bercerita tentang kepedulian orang tua, guru, pemimpin bangsa dan lainnya. Hasilnya adalah rekomendasi mereka tentang kenyataan di lapangan dan kami sampaikan kepada Bapak Presiden,” ucap Seto bersemangat.

Dunia anak memang seakan telah menjadi hidup Seto Mulyadi. Di antara banyak aktivitasnya, tak lupa ia menghimbau kepada para pendidik, “Seorang pendidik tidak dilihat dari prestasi akademik dan gelar kesarjanaan. Tak hanya itu. kecintaan terhadap anak adalah yang terpenting,” (dan) 

5 thoughts on “Tulisan Anak Seto Mulyadi

  1. Ass.wr.wb,
    Kami ingin mengundang kak Seto untuk sharing knowledge di SD dan TK Islam Nurul Iman Pondok Bambu Permai Jakarta Timur perihal “Kiat Mengarahkan Potensi Anak-Anak Yang memerlukan perhatian khusus” pada Kuartal I 2009. Mohon konfirmasi kesediaannya. Atas perhatian dan kesediaannya kami mengucapkan terima kasih.
    Wass.wr.wb

  2. Ass.wr.wb,
    Maaf sblmnya Kak Seto yg baik kami seorang ibu yg kebingungan.saking banyaknya permasalahan yg saya hadapi jadi begitu banyak pula permasalahan dlm mengasuh anak saya bisakah saya konsultasi ke kak seto tolong kak rumah saya jauh…di pelosok desa atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih

    Wass.wr.wb

  3. Ass.wr.wb,
    Kak Seto, saya minta tolong untuk menolak penayangan film anak-anak di tv jam 17.00 ke atas. Karena jam segitu waktunya anak-anak belajar. Terima kasih.
    Wass.wr.wb.

  4. Kak Seto, mohon bagaimana caranya bila saya ingin menemui Kas Seto untuk berkonsultasi tentang anak saya yang saat ini telah menghilang selama 2 minggu, terima kasih.

    Wass,

  5. ass.Wr.Wb
    kak seto saya ingin melaporkan tentang sesuatu yg trjadi pada saya, saat olimpiade olahraga siswa nasional tingkat SMP, saya telah menjadi juara 1 pada lomba tsb, di tingkat kabupaten, namun medali dan uang saku yg seharusnya mnjadi hak saya, belum saya terima, dan pada saat saya dipanggil untuk menghadiri pemberian medali, yang sehausnya diterima pada smua siswa termasuk saya yg telah mndapat juara1, malah di beri ke orang lain, tepatnya pada orang yg saya kalahkan, padahal saya di undang datang ke sana untuk penerimaan. dan stelah di rundingkan, akhirnya saya brangkat k provinsi, namun medali yang seharusnya saya terima, belum di berikan juga, sampai saat perlombaan se provinsi selesai, mreka mengatakan bahwa medali saya masih di buat, dan skitar bbrapa minggu lagi bisa di ambil, padahal, perlombaan tsb sudah lewat1 bln. dan sampai sekarang medali yg asli tsb, tidak tau dimana keberadaannya,namun saya tau siapa yg menerima medali tsb, karena yg mengambil adalah perwakilan dari sekolah anak yg seharusnya tdk mmnangkan pertandingan tsb. dan dia mengatakan, bahwa dia tidak ada menerima medali itu, karena dia tau saya yg memenangkannya. tapi salah satu guru ank tsb, bersikeras mengambil medali tsb. saya mengalami tekanan batin, saat pengumuman oleh kepala diknas, nama saya sebagai juara1 tennis lapangan, tidak ada di sebutkan, melainkan anak tsb. dan masih banyak masalah yg lain yang terjadi pada saya, yang menyangkut masalah olimpiade olahraga siswa nasional (O2SN)
    kabupaten pelalawan.
    saya harap dapat di tindak lanjuti.

    trima kasih,
    wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s