Satukan Indonesia Lewat Angkasa

Satukan
Indonesia Lewat Angkasa 

Toni tak mampu menutupi kegembiraannya ketika menyaksikan pesinetron Anjasmara dan Dian Nitami muncul di layar monitor televisinya. Pasalnya, kini, warga Kabupaten Sambas,
Kalimantan Barat ini dapat menyaksikan berbagai tayangan di saluran televisi nasional.

 

Sepintas memang tampak aneh, saluran televisi nasional belum mampu menjelajah seluruh wilayah nusantara. Saat ini saja masih ada 39 kabupaten di wilayah perbatasan yang belum dapat menikmati tayangan televisi buatan negerinya sendiri. Tapi itulah yang terjadi di
Indonesia, negara kepulauan dengan lebih dari 13.000 pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, semisal Kabupaten Sambas dan Sanggau, Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Malaysia serta Kabupaten Sangihe Sulawesi Utara (Sulut) yang berbatasan dengan philipina, pernah menunggu beberapa tahun lamanya sampai pemerintah mendirikan pemancar televisi nasional di daerah mereka setahun yang lalu.

“Ya, senang bisa lihat tv nasional. Masak hanya tahu negeri orang, tidak tahu keadaan dalam negeri,” ucap Toni menjelaskan.

Memang, bahkan sampai saat ini, masyarakat Sambas masih dapat menyaksikan siaran televisi
Malaysia dengan bebas alias gratis. Tak perlu repot-repot pasang antena parabola dan berlangganan tv kabel. Cukup dengan antena UHF standar seharga Rp35.000, maka siaran luar negeri dapat dengan mudah ditangkap.Akibatnya, warga Sambas dan 42 daerah perbatasan lainnya lebih mengenal negara tetangga dibanding negerinya sendiri. Walau belum berimbang, ancaman pudarnya rasa nasionalisme di daerah perbatasan sedikit berkurang dengan pendirian pemancar televisi nasional.

“Dengan dibangunnya pemacar televisi ini, kami harap mereka bisa menyaksikan siaran televisi dengan murah dan lebih mengenal negerinya,” kata peneliti BPPT Bambang Heru yang kala itu menjadi pimpinan poyek pembagunan pemancar televisi perbatasan.

 

Berbagai Ancaman DisintegrasiSetelah terjadinya krisis moneter pada 1997,
Indonesia terus mengalami ujian di berbagai bidang. Mulai dari masalah politik, ekonomi, sosial, bahkan krisis disintegrasi bangsa. Salah satunya turut menerpa dunia telekomunikasi dan satelit
Indonesia.Berkembangnya teknologi penyampaian informasi ditandai dengan ramainya penggunaan perangkat modern semisal satelit. Dengannya, tak ada lagi batas informasi. Dunia bagai tanpa sekat yang dapat dihubungkan dengan ruang maya dalam angkasa.

Walau tak langsung, masuknya informasi dari negara tetangga dapat mempengaruhi integritas masyarakat. Terlebih bila terjadi ketidakseimbangan dalam pemberian informasi seperti yang terjadi di daerah perbatasan.

Di
sana informasi tentang negara tetangga dengan mudah masuk ke wilayah udara
Indonesia. Namun, sebaliknya tak ada informasi tentang
Indonesia yang masuk ke negara tetangga. Ketimpangan inilah yang coba disiasati oleh pemerintah guna lebih mempererat rasa kebangsaan. 

Jaga Wilayah
IndonesiaSebagai contoh adalah penyelenggaraan siaran Astro TV, layanan televisi berbayar milik Malaysia di Indonesia. Perusahaan yang berada di bawah lisensi PT Direct Vision ini menggunakan jasa satelit Measat-2 (148E) milik
Malaysia sebagai ……..

Padahal perusahaan tersebut belum mempunyai hak labuh (landing right) yang dikeluarkan Dirjen Postel atas nama Menteri Komunikasi dan Informatika. Disebutkan bahwa setiap pengusaha Indonesia yang akan menggunakan satelit luar negeri harus mempunyai hak tersebut.

Hanya saja, menurut Permen No. 13 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi yang Menggunakan Satelit, izin labuh baru bisa dijalankan bila sudah memenuhi syarat prinsip resiprokal, yakni terbukanya kesempatan yang sama bagi penyelenggara satelit Indonesia untuk berkompetisi dan beroperasi di negara asal penyelenggara satelit asing tersebut.Sedangkan saat ini belum ada kesepakatan respirokal antar Indonesia – Malaysia – negara asal, pemilik Astro TV. Hal itu akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan informasi yang masuk di kedua negara. Satelit Malaysia dengan segala informasinya akan masuk ke Indonesia salah satunya melalui Astro TV. Sedangkan belum ada aturan jelas tentang masuknya informasi dari Indonesia ke negara jiran tersebut.

Untuk itu, Mei lalu, kedua belah pihak yang diwakili oleh Administrasi Telekomunikasi Indonesia (Depkominfo) dan Administrasi Telekomunikasi Malaysia (Malaysian Commission on Multimedia and Communication-MCMC) tengah berusaha menggodok aturan tersebut.

Dengan adanya aturan respirokal tersebut diharapkan tercipta koordinasi antara satelit Measat 148 ° Bujur Timur milik Malaysia yang dikelola oleh Measat dengan Palapa Pac 146° Bujut Timur milik Indonesia yang dikelola oleh PT Pasific Satelit Nusantara (PSN).“Pertemuan itu sepenuhnya membahas masalah koordinasi satelit dan berbagai hal yang terkait dengan legalitas serta prinsip utama kesepakatan penyelesaian masalah landing right dan imbal balik secara umum,” kata Kepala Bagian Umum dan Humas Ditjen Postel Departemen Kominfo, Gatot S Dewa Broto beberapa waktu lalu.

Ia juga menjelaskan perlunya koordinasi antar satelit. Jika tidak, maka akan terjadi interferensi (tubrukan). Upaya negosiasi kedua belah pihak masih terus berlangsung. Berusaha menciptakan sebuah keberimbangan informasi di setiap negara. Pemerintah pun mencoba mengambil langkah antisipatif guna menghadapi masuknya informasi yang tidak berimbang dari negara tetangga.

 


Indonesia Tetap SatuBangsa
Indonesia adalah negara besar yang memiliki nilai keanekaragaman (diversity) dalam segala hal, baik suku bangsa, bahasa, kultur, jenis kehidupan, keadaan bumi dan sebagainya. Tak heran
Indonesia dikenal secara umum sebagai wilayah ‘Bio-geo-socio-cultural-diversity’.

Karena hal itulah maka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghimbau agar bangsa
Indonesia selalu memiliki kebersamaan dan keterpaduan. Dengannya, kata dia, 
Indonesia dapat mempercepat kemandirian dan meningkatkan kesejahteraan rakyat sehingga terbebas dari intervensi pihak mana pun.

“Karakter bangsa adalah faktor utama dalam meningkatkan daya saing bangsa, selain pendidikan dan teknologi. Bila bangsa memiliki karakter kuat, maka bangsa
Indonesia akan mengalami kemajuan, “jelas Presiden Yudhoyono beberapa waktu lalu.

Untuk itu untuk menciptakan karekter bangsa yang siap melaju menghadapi tantangan global, bangsa
Indonesia harus terus bersatu padu dan sejalan dalam melangkah. Seperti yang dipesankan oleh Presiden Yudhoyono. “Hidup dalam globalisasi sarat dengan hukum dan kaidah-kaidah kapitalisme, pasar bebas, pasar terbuka, maka tetaplah kita kokoh, tetaplah kita kuat pada pendirian, bahwa semuanya itu tetap kita abdikan untuk kesejahteraan bersama dan untuk keadilan sosial.”

Oleh karena itu penting untuk tetap menjaga kedaulatan dan meredam segala rintangan pemutusnya. Salah satunya dalam masalah informasi melalui angkasa. Jadi, mari satukan
Indonesia melalui angkasa. (dan) 

One thought on “Satukan Indonesia Lewat Angkasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s