Polantas Juga Manusia

 gw tuh paling males sama yang namanya polisi, tentara, or aparat berseragam dan bersenjata…muales abis.. mereka tuh manusia paling gak penting…heheheh…piss ah..

ya, kadang emang harus jujur, polisi or manusia berseragam dan bersenjata lainnya, DIBENCI sekaligus DIRINDUKAN….

ya dibenci karena, K***D siah, polantas gak penting yang suka cari2 kesalahan orang di jalan. tilang bukannya ke kas negara, malah ke kantong dia…memanfaatkan kewibawaan seragam buat kepentingan pribadi…padahal, kalo polisi jadi jabatan fungsional, lumayan tuh pemasukan buat kas negara.

gini, jadi kalo polisi nilang orang ada poin khusus sebagai reward buat dia. yang nantinya bisa diakumulasikan sebagai syarat kenaikan pangkat or gaji. kan sama2 enak..hak negara terpenuhi, polisi dapet keuntungan juga, dipermudah naik pangkat….

tapi nyata2nya, ah..rese…emang seh..butuh sama butuh dengan orng yang kena tilang. salah juga pengadilan lama, bayar denda nunggu taunan, udah gitu di sananya di”pajak” pula. mending cash di tempat…nah ni dia penyakitnya….sogrok menyogrok terjadi..

padahal yang punya wibawa itu seragamnya. kalo diperguakan dengan benar, asli,,,,jaminan mutu deh penegakan hukum..lha ini puyeng dah…gaji polisi kecil ya?

kecil mana sama PNS? hehehe….tapi kenapa guru ya yang gajinya gede? haiah gak nyambung…

pas nulis ini, gw sempet berontak sama om bos…muales aku urusan sama polisi…heheh..pengalaman kena pentung sama polisi muda kampret, pas demo di bandung dulu…udah ujan..cape..kejar2an..dipentung pula…untung selewat doang…hehehe…gak sempet bales lagi..sial…pengen deh nonjok polisi..hehehe…maap..maap…

trus selewatan, apa ya yang mau gw tulis…heheh..ide standar..liat pak Waluya di perempatan cawang…

gila tuh polisi paling rajin se indonesia mungkin…tiap hari, gw lewat jam 7, doi dah nongkrong di sana. nyemprit2 motor…mana hari makin panas, bau knalpot, keringet…awalnya mah, gw sumpah serapah..mampus lo…makan tu duit tilang pake asep knalpot…biar mati sama asap timbal…hehehe…jahat ya

tapi lama kelamaan, edun…gw browse inet…ternyata polantas kena kasus kesehatan tertinggi, badan sangar, tapi rapuh mereka…banget..menurut penelitian, kalo gak salah UNPAD sama Unbraw, kadarnya dah amat sangat kacau sekali…

jadi jangan takut sama polis, badan gede doang, sebenernya mereka itu sakit…hehehe…tetep benci ma polisi…

ya tapi mulai lah sedikit KASIHAN, cih tau gak gw KASIHAN liat lo pada…hehehe…ya…polisi juga manusia…dia juga bisa marah, dia juga bisa korup, dia juga bisa cape, emosi, dll…sial kan…mulai berempati…tapi tetep…I Hate Policeman….ehehehee

  

 Polantas Juga Manusia 

Apa yang Anda rasakan ketika tengah berada dalam kemacetan lalu lintas? Pasti yang ada adalah emosi, stres, gemas, dan mungkin berjuta perasaan lainnya. Belum lagi bila ditambah bau asap kendaraan bermotor yang menyesakkan pernafasan. Rasanya, luar biasa.

 

Tapi bagi Waluya, kemacetan dan asap kendaraan bermotor tak lagi membuatnya emosi, stres ataupun gemas. Malah ia harus menjadi lini terdepan bila kemacetan melanda
Jakarta. Tak hanya itu, ia pun harus rela bercumbu rayu dengan asap ± 2,5 juta knalpot kendaraan bermotor yang menjejali ibukota setiap harinya. Profesi Waluya sebagai seorang polisi lalu lintas (Polantas), mengharuskannya membuat asap “penebar maut” bagaikan sahabat.

“Sudah biasa. Walau pakai masker, masih agak nyesek. Tapi gimana lagi, namanya juga tugas” ucap bintara polisi itu memulai pembicaraan.

Profesi Waluya sebagai Polantas memang kerap menjadi sorotan. Pasalnya, di antara satuan lain di kepolisian, semisal Intelejen, Reserse, Sabhara, maupun Brimob, kesatuannyalah yang mempunyai intensitas interaksi dengan masyarakat paling tinggi.Sejumlah citra negatif pun kerap diterima Waluya dan lebih dari 19.000 kawan seprofesinya di seluruh
Indonesia. Raja pungli, “preman” jalanan, dan sejumlah predikat lain yang tentu saja tidak enak untuk didengar.

“Itu oknum. Tidak semua polisi seperti itu. Saya yakin, masih banyak yang jujur dan setia pada profesi,” ucap polantas yang kini berdinas di Pos Polisi Pondok Kelapa, Sektor Metro Duren Sawit itu dengan suara tegas.

Perihal adanya oknum polisi yang nakal memang diakui oleh Ketua Komisi Kepolisian Indonesia (KKI), Athar. Ia mengatakan, walau dalam sebuah sistem yang telah tertata rapi, tidaklah menutup kemungkinan adanya oknum yang melakukan tindakan tercela.

“Saya bukannya membela polisi. Tapi sekarang, era Sutanto (Kapolri-red), jika ada pungli semacam itu dan kemudian dilaporkan, dia akan menindak. Karena, figur Sutanto saat ini adalah personifikasi polisi yang jujur dan lurus. Lha, pungli-pungli itu menurut survei saya, sekarang sudah sangat berkurang. Survei itu dari 58 polres dari provinsi yang berbeda.” jelas Athar seperti dikutip dari sebuah situs berita.

 

Bukan Tugas Mudah Menjadi polisi bukanlah tugas yang mudah. Saat ini dengan jumlah anggota yang terbatas, Polantas harus menangani jalan yang panjang totalnya 338.451 kilometer. Selain itu, mereka turut pula mengamankan kendaraan bermotor yang jumlahnya telah mencapai 14,5 juta unit dengan 10 juta di antaranya adalah sepeda motor.Tak hanya itu, para polantas pun harus senantiasa siap diintip oleh maut. Bagaimana tidak, setiap harinya mereka berhadapan dengan 600 ton polutan timbal (Pb) yang dapat menyebabkan flek hitam pada paru-paru. Belum lagi panas terik matahari yang menjadi kawan di kala bertugas.

Soal kesehatan, sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Padjadjaran Bandung mengatakan, polisi menjadi ranking pertama di antara “pengguna” jalan yang mempunyai tingkat kontaminasi timbal dalam darah.

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan sebagian besar responden polantas (70%) memiliki kadar Pb darah dalam kategori toleransi, 13,33% dalam kategori berlebih dan 16,67 % dalam kategori normal. Dikatakan pula, polantas yang bertugas di Pos Tetap memiliki resiko terpapar cukup tinggi, diikuti kemudian oleh Pos Pantau. Sedangkan resiko terendah adalah pada bagian administrasi,

Timbal atau sering disebut timah hitam, biasa digunakan sebagai campuran bahan bakar bensin. Menurut Prof. Muchammad S. Saeni, Guru Besar Ilmu Kimia FMIPA IPB, keracunan timbal dapat mempengaruhi sistem saraf, intelegensia dan pertumbuhan anak-anak, serta dapat menyebabkan kelumpuhan.

Selain itu, kata Prof. H. Haryoto Kusnoputranto, dr, MPH, Dr,PH, dari Jurusan Kesehatan Lingkungan FKM – UI, gas dan partikel-partikel yang keluar dari kendaraan bermotor bisa menyebabkan iritasi mukosa pada saluran pernapasan, menimbulkan batuk-batuk, bersin, dan terkadang juga kesulitan bernafas.

Zat tersebut, menurut Haryanto, akan mengendap dalam tubuh sehingga dampak akumulasi Pb ambien akan menimbulkan bentuk gejala keracunan kronis. Seiring waktu tanpa disadari akan berakibat fatal tak hanya bagi Polantas, akan tetapi juga bagi kelompok masyarakat yang sering berinteraksi dengan jalanan.

 

Kapolri Usahakan Kenaikan Gaji Resiko yang ditanggung oleh polisi mungkin lebih besar dibanding dengan pendapatan yang mereka diterima. Saat ini, menurut Kapolri, Jenderal Sutanto, gaji polisi berpangkat rendah hanya Rp1,5 juta. Menurutnya, jumlah ideal gaji polisi berpangkat rendah seharusnya Rp 7 juta dan dan polisi berpangkat tinggi Rp12 juta.

“Makanya sampai sekarang di masyarakat masih tumbuh subur pameo, Jika berurusan dengan polisi berarti hilang kambing tapi malah kerbau ikut hilang. Itu semua karena keterbatasan gaji untuk anggota Polri,” jelas Kapolri ketika melakukan ramah tamah dengan anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) di Mabes Polri beberapa waktu lalu.

Untuk itu, ungkapnya, saat ini pihak kepolisian coba mengajukan rencana anggaran tahun 2007 sebesar Rp 18,230 triliun. Jumlah tersebut naik dari tahun 2006 ini yang hanya sebesar Rp16,778 triliun. Angka tersebut, selain sebagai usaha untuk menyejahterakan anggota kepolisian, juga untuk meminimalisir jumlah oknum kepolisian. 

Ayo Bantu PolisiPolisi juga manusia biasa yang memiliki keterbatasan, terlebih dengan masih minimnya jumlah personel yang bertugas di jalan raya. Oleh karena itu, perlu dukungan dari masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan jalan raya yang aman dan tertib.

 
Susah ngaturnya. Apalagi sepeda motor, main seruduk aja,” ucap Ajun Inspektur Tingkat I Santoso, ketika ditemui di perempatan cawang.

Polisi, kata Santoso, berharap agar para pengendara dapat mematuhi peraturan lalu lintas yang ada, walau tanpa penjagaan dari aparat. Hal itu, katanya, adalah salah satu upaya untuk meminimalisir kemacetan.

Harapan tersebut didukung oleh Yulistiawan (25). Wartawan salah satu televisi swasta ini mengatakan, banyaknya kolusi yang dilakukan oleh oknum polisi, salah satu penyebabnya adalah masyarakat itu sendiri.

Menurut dia, ada dua cara bagi oknum polantas dalam melakukan pungutan liar. Pertama, katanya adanya praktek mencari-cari kesalahan pengendara untuk kemudian meminta uang. Dan yang kedua, pengendara memang melanggar lalu lintas dan oleh oknum petugas dipakai sebagai alasan untuk meminta uang.

“Ini namanya kolusi, bukan pemerasan. Sama-sama butuh dan ada kesempatan. Pengendara tidak perlu susah ke pengadilan, oknum petugas dapat uang. Jadi tidak mungkin sendirian,” jelas Yulistiawan.

Kerja sama antar petugas dan masyarakat kiranya perlu segera diwujudkan, agar tak ada lagi citra negatif di antara keduanya. Niatan tersebut coba diwujudkan dalam HUT ke -60 Bhayangkara 2006. Menurut Wakadiv Humas Mabes Polri, Brigjen Anton Badrul Alam, pada HUT kali ini memiliki tujuan mendekatkan jajaran kepolisian kepada masyarakat. Hal itu, katanya, merupakan salah satu bagian dari visi dan misi kepolisian.

“Kita berharap semakin dekat hubungannya dengan masyarakat, maka semakin erat pula kerja sama dalam hal mengatasi kejahatan dan keamanan di Negara ini. Dengan komunikasi yang baik, maka tingkat kepercayaan masyarakat ke kepolisian semakin baik pula, “kata Anton seusai peringatan HUT Bhayangkara ke-60, Sabtu (1/7).

Semoga langkah polisi untuk menjadi mitra masyarakat dapat segera terwujud. Polisi menjadi alat hukum dan masyarakat pun patuh terhadap hukum. (dan)

7 thoughts on “Polantas Juga Manusia

  1. hehehe..kalo komen yang itu gw gak ikutan…gw mulai berpikir, jangan2 mereka (yg di bawah-bawah itu) juga setoran ke komandannya…hehehe..prasangka buruk…gw emang blm liat dengan mata kepala sendrii, baru sebatas kata orang..opini publik yang muncul kayak gitu…
    dulu, raja demo gw, sering ikut aksi, mulai dari sejuta umat (hahaha, ini mah roma irama, eh apa a’ gym ya? ah bodo), sampe aksi2an..(hahaha)..pernah bentrok sama polisi muda yang sangat energik dan emosional, maklum masih muda,seumuran gw mngkin..merke bersenjatakan tongkat hitam lumayan keras..dan gw megang bendera organisasi…cuma 20an orang vs mngkin lebih dikit..anjir, aing ngeper..mana paling depan, didorong2 pula..korlapnya malah di belakang…(mulai mikir, jangan2 aing diperalat yeuh). sabodo, nyang peting keyakinan, harus maju. da maju..baku dorong mulai terjadi, sampe akhirnya baku pentung (lain baku atuh, da manehna yang ngegebuk), kaki gw mulai ngacak, menendang, jurus maygeri sampe kidanbachi, ada juddan cuki (hahah), ada juga jurus grabag grubuhg buatan sendiri..kagak ada yang kena…beruntung mereka, padhal kalo nyerempet, panas dingin dua hari..hahah…
    hmm, gw ngebayangin, gmana ya kalo ada sodara gw or adek gw yang jadi polisi (walo gak mungkin jg, my family hates policemen..ato bilapun, perwira lah, gak dilapangan), berhadapan dengan masa beringas, yang mungkin jg si polisi ini sependapat dengan mereka, tapi karena tugas, konsekuensi pekerjaan, mereka harus ngamanin masyarakat (nggak banget), dan akhirnya gedebum. harus perang melawan rakyat sendiri (haiah bahasanya)..
    eh mungkin bagus juga, kalo satpol PP diangkat ya..mereka yang ngegusur pedagang kaki lima dengan semena-mena, siapa tahu punya kehidupan yang miris jg, tinggal di daerah nan kumuh dan tak sehat. gmana ya perasaannya? orang miskin menggebuk orang tak punya? uih, maen perasaan, berat tuh…
    ya sud lah, walo kadang gw coba mendudukkan posisi, mencoba berpikir dari pandangan mereka, tapi berat…gw masih benci seragam polisi…gak penting..sumpe!!!….

  2. Wah kyknya comment 1 paranoid ama polisi, coba skr dipikir bersama misal sampeyan melanggar aturan entah nerobos lampu merah, langgar marka jalan atao yg laenlah,lalu sampeyan distop pak polisi, apa yg sampeyan pilih a. tilang (artinya disidang), b. kasi duit. kalo jwban a berarti bagus,kalo b apa bedanya sampeyan dgn polisi itu? itupun sering sy lihat sudah melanggar eh ngotot lagi (kebetulan sy sering nongkrong di jalanan jd tau banget). So, mulai sekarang ga usah maki2 g karuan kyk bukan org beradab, mulai dr diri sendiri…ingat sebuah gambar terdiri dr berbagai titik..titik-titik itu ya kita semua…ayo introspeksi!

  3. gubrag..langsung kena deh gw..aku pernah mas ngasih duit polisi..20rb..walo gak jelas apa salahnya..pokoke salah we..padahal selalu setiap naik motor dah kayak orang perang..ada jaket “antipeluru”, dilapis jaket biru nan butut, plus helm baja yang kalo ilang bikin gw nangis..soal motor, kang dadang dah dapet iso 9002..komplet..soal ngebut..cuma malem doang…itu pun cuma 80km/jam..kecepatan maksimal kang dadang..hehe..
    kadang gini mas, ngebayangin proses sidang yang amit2 lamanya, bikin orang tergoda untuk cari jalur pintas..daripada di tempat sidang bayar juga, pake lama..mending di tempat, langsung selesai..
    soale saya pernah mas, pas pertama kali bikin SIM..umur 17. kata bapak, “ikutin semua prosesnya dengan benar. biar kamu tahu gmana rasanya,”
    bapak saya sebenarnya mau memberi sebuah faidah dari pengalamannya berhadpan dengan polisi…hehehe…
    jadilah, saya ikuti prosesnya…tes tertulis, soalnya 30 kalo gak salah inget…alhamdulillah gak lolos..setelah nunggu 3-4 jam..ngulang 2 minggu lagi..dan kejadian juga sama kawan kuliah saya, dia mengulang tes tersebut 2 minggu kemudian…(harus saya akui, saya menyerah kalah..tergoda…maklum gak sabar mo muter2 naek mobil babeh..padahal bapak dah susye paye maksa biar ngulang)
    balik ke temen saya, dia ngulang..lulus…tes berikut..kalo gak salah praktek…alhamdulillah gak lulus…suruh ngulang..dan seterusnya…dan seterusnya…dengan menyesal uang yang dia keluarkan jauh lebih mahal dari harga yang saya bayarkan di awal..usahlah dibandingkan dengan harga resmi…JAUuuuH…baina sama’ wa sumur…
    kalo saya pikir, bedalah antara kami (okelah..gw termasuk..walo cuma sekali..sumpeeee) dengan mereka…(eits..gw sebenarnya gak apriori juga-baca tulisan gw…tapi untuk disamakan dengan polisi…ntar dulu)
    gw, mau gak mau..daripada beribet dan panjang…mending efisien dan efektif (lah bukannya begini seharusnya pelayanan pemerintah? melayani dan mengayomi…heheheh)
    kalo “mereka” (gw berbaik sangkja, gak semua di antara mereka), setoran mungkin, ato emang pemerasan dengan mengatasnamakan wibawa seragam…
    JAUUUUUUUUUHHHHHHHHHH

  4. Bagi Pa Polantas yg slalu menjalankan tugas sesuai aturan smg panjang umur, murah rejeki dan dikuatkan iman. Bagi Pa Polantas yg sering cari2 kesalahan pengendara dan di 86 dtempat “ingat mas hidup hanya sementara, perlu aq ingatkan duit yg kalian dpt dgn cara seperti itu HARAM” dan tolong sambung urat malu kalian yg mgkin putus shg timbul rasa malu kpd masy yg kalian 86 dtempat. Ingat mas sampean udah punya gaji yg lumayan besar.

  5. barusan gw di tilang polisi gara2 ga nyalain lampu siang2. di dompet cuman ada gobanan..melayang deh tuh. sidang jg sama2 bayar. sama2 ga jelas jg duitnya kemana. wong pajak aja yg jelas2 resmi jg ga jelas kemana, buat kesehatan? puhh masih banyak org miskin ditolak, pendidikan? gw punya sodara guru disekolah swasta yg ditawarin sm oknum buku2 dan peralatan lab yg notabene Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dgn harga miring. persetan lah aparat. mo bilang oknum, udh jadi rahasia umum… aparat keparat…!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s