Pendidikan Alternatif :

Ketika Masyarakat Ikut Berperan 

Tak hanya pemerintah, kini masyarakat dan pengusaha lokal pun turut berinisiatif menjalankan roda pendidikan. Sebuah kerja sama apik guna menciptakan pendidikan yang lebih baik.

 

Di kaki gunung itu semangat pendidikan mulai terasa. Kehadiran sekolah berbasis komunitas menyebabkan tak ada lagi kekakuan dalam proses belajar mengajar. Hanya ada keinginan bersama untuk merengkuh masa depan yang lebih baik.  

            Nama sekolah tersebut, SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah. Salah satu contoh sekolah berbasis komunitas yang terdapat di Desa Kalibening, Kecamatan Tingkir, Salatiga, Jawa Tengah.

            Walau hampir 90 persen siswanya berasal dari keluarga sederhana, mereka tak lagi gagap terhadap mouse dan dunia maya. Bagaimana tidak, menurut Bahruddin, pendiri komunitas pendidikan ini, di Qoryah Thayyibah, diajarkan bermacam program komputer. Mulai dari aplikasi perkantoran yang sederhana, internet, sampai program Print Shop Deluxe untuk membuat model gambar dan tulisan.

Padahal, kata dia, di tempatnya tak ada bangunan gedung yang mahal layaknya sekolah pada umumnya. Hanya menempati garasi dan rumah mertua Bahrudin yang berukuran 6×3 meter.

Anak kyai ini mengatakan, masalah pendanaan sepenuhnya menjadi tanggung jawab bersama. Jumlahnya, sangat terjangkau hanya Rp10.000 per bulan dan uang harian Rp4.000 per hari. Jumlah itupun dikembalikan lagi kepada siswa dalam bentuk uang cicilan komputer sebesar Rp 2.000, lalu uang tabungan dan cicilan gitar Rp 1.000, dan ongkos makan pagi sebesar Rp 1.000.

“Kami memang menuntut uang harian untuk mengingatkan bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab orangtua dan bahwa pendidikan tidak pernah bisa gratis,” jelasnya seperti dikutip dari www.pendidikansalatiga.net.

Untuk internet, sekolah ini mendapat bantuan dari pengusaha internet setempat, Ir Roy Budhianto Handoko, yang mampu menyediakan fasilitas internet selama 24 jam.

“Ketika pikiran mereka masih jernih, kita harus mengajari mereka untuk menggunakan internet dengan benar. Karena, sekitar lima sampai 10 tahun lagi, sekitar 80 persen pengguna internet adalah mereka yang sekarang masih di tingkat SLTP. Anak-anak ini nantinya yang akan menjadi generasi pembaharu,” sambung Roy Budhianto.

            Kini, tak hanya SLTP Qoryah Thayyibah yang terhubung dengan internet. Seluruh SLTP di Salatiga yang berjumlah 22 sekolah, 2 sekolah alternatif sekelas SLTP, Kantor Diknas Kota Salatiga, dan 5 Kantor Cabang kontor Diknas Salatiga telah terkoneksi dengan dunia maya atas prakarsa pengusaha lokal dan jaringan pendidikan Salatiga. Sebuah jaringan pendidikan hasil kerja sama yang apik antara masyarakat, pengusaha dan pemerintah.

Tak hanya itu, pendidikan Salatiga pun telah berhasil membangun kerja sama mulai dari Walikota Salatiga, Ditjen Pos dan Telekomunikasi, Depkominfo, Direktorat Pendidikan Masyarakat Ditjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Depdiknas, sampai perusahaan telekomunikas sekelas PT. Telkom.

            Geliat paran serta masyarakat dalam dunia pendidikan pun mulai terlihat di beberapa daerah. Hal tersebut marak pula di Yogyakarta, Madiun, Kudus, Purwokerto, Boyolali, bahkan Bandung tak mau ketinggalan.

Jika terjalin kerja sama apik antara masyarakat, pengusaha dan pemerintah, tak mustahil pendidikan murah dan berkualitas akan segera terwujud di bumi pertiwi kita. ***(dan)

 

 

Kabupaten Siak Ikut Berbenah            Kerjasama apik antara pemerintah dengan masyarakat dalam menciptakan sebuah pendidikan yang lebih baik, nampaknya mulai terlihat. Setidaknya di Kabupaten Siak, Riau.

            Saat ini, seperti yang dikatakan oleh Bupati Siak, Arwin AS. Pendidikan di wilayahnya harus mendapat prioritas utama. Pembangunan sumber daya manusia tidak bisa dielakkan.

            Untuk itu, kata dia, sektor pendidikan akan mendapat dana yang besar. Hal itu dapat dilihat makin meningkatnya anggaran pendidikan dalam kurun 2 tahun terakhir.

“Anggaran pembangunan pendidikan lima tahun kedepan juga akan terus kita naikkan. Dan ini sudah kita mulai tahun 2005 sebesar Rp. 172 M dan tahun 2006 sebesar 300 M. Sedangkan untuk tahun masih dalam tahap penyusunan. Kita targetkan APBD 2007 Januari sudah bisa kita laksanakan” tegas Bupati Siak Arwin AS.

            Tak hanya itu ia pun mengirim 50-an orang kepala sekolah tingkat SD hingga SMU untuk studi banding ke sekolah-sekolah komunitas terbaik di Bandung. Pembelajaran dengan konsep alternatif  tersebut diharapkan dapat menciptakan paradigma berbeda dalam pola pengajaran siswa.

3 thoughts on “Pendidikan Alternatif :

  1. sudah semestinya model pendidikan yang dibuat oleh pak baharudin bisa segera adaftasi untuk disosialisasikan pemerintah dalam penanggulangan pemerataan pendidikan di tanah air, dimana sumber utama masalahnya adalah pada tingginya biaya pendidikan di indonesia dus dengan tingkat ekonomi masyarakat yang mayoritas miskin. sungguh lucu sekali ketika banyak orang/lembaga luar negeri yang begitu respec terhdp model pendidikan ala baharudin, tapi kita malah apriori………. bahkan ngenye….

  2. kak Seto I really wanna meet you to discuss about playgroup yang sengaja aku dirikan sukarela demi mengubah image kalo “anak kolong” itu keras… terus terang emang anak didik kami keras karena pengaruh keluarga dan lingkungan … berdasar dari ini kenapa saya sangat ingin mensukseskan playgroup ini.. andai saja Kak Seto mau datang berkunjung n ber kami wejangan dan arah pasti thanks banget dech anak” ini, Kak … minta alamat dong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s