Ketika Air Pergi

Ketika Air Pergi

 

Di masa mendatang setetes air lebih berharga daripada berlian.

 

Pernahkan Anda membayangkan bagaimana rasanya mencuci piring, mandi, atau mungkin menyikat gigi dengan air sungai yang kotor dan bau? Kalau hal itu tak sempat terbayangkan, jangan repot-repot untuk melanjutkannya. Karena warga di bantaran sungai Ciliwung, Jakarta, tak sekadar membayangkan, tapi sudah menjadi rutinitas harian yang bagi sebagian orang akan berpikir, “Kok bisa sih?Tuti (38) misalnya, seorang ibu yang tinggal di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Nekat mencoba mencampurkan cairan kimia pemutih baju ke air sungai yang ditimbanya untuk mencuci piring. Ia tak sadar bahaya lain tengah mengintip dari caranya memenuhi kebutuhan air bersih yang dipasarkan seharga Rp1500 per galon. Ya, di sana air bersih sudah identik dengan kemewahan. Bahkan tak hanya di Ciliwung, menurut penelitian Jurnal Science, 2025 nanti wilayah bumi yang kaya dengan air, termasuk Indonesia, akan benar-benar kesulitan untuk mendapatkanya. Yang paling ekstem mungkin ucapan Wakil Presiden Bank Dunia Ismael Serageldin pada tahun 1995. Ia memprediksi emas biru alias air akan menjadi barang berharga bahkan dapat memicu terjadinya perang karena saking berharganya. 

Air, Sumber Daya Tak Terbaharukan

Di buku-buku pelajaran sekolah, sampai saat ini, air memang masih dikategorikan sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Mungkin karena persediaanya yang tidak terbatas dan banyak tersedia di alam. Tapi pernahkah terpikir, bagaimana dengan air bersih atau air minum, tak terbataskah? Atau mungkin…?

Air adalah sebuah masalah besar. Setidaknya banyak yang khawatir tentangnya. Terlebih jika melihat data dari Pusat Lingkungan Geologi, Badan Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat penurunan muka air tanah mencapai 4 meter dalam setahun. Kondisi yang terjadi di Jakarta, Kota Bandung, Cimahi, Semarang, Yogyakarta, dan
Surabaya.

Belum lagi data Dirjen Sumber Daya Air Kimpraswil yang menyatakan ada sekitar 65 daerah aliran sungai (DAS) atau 13,8 persen dari jumlah DAS di Indonesia dalam keadaan amat kritis dengan tingkat sedimentasi tinggi.

Ditambah lagi dengan prilaku warga yang kurang menghargai keberadaan air. Hampir lima menit sekali, “bom” plastik berisi sampah meluncur dan menghujam ke aliran-aliran sungai. Belum lagi bangunan di bantaran kali yang kian menggerus wilayah sungai. Wuih, semakin berat permasalahannya. 

Benar-benar Tak Mudah

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah. Bahkan sampai rencana jangka panjang yang tersirat pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 16 Tahun 2005 tentang Penyediaan Sistem Air Minum. Pemerintah berpikir jauh agar pelayanan air dapat memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum pada tanggal 1 Januari 2008.

PP ini juga menetapkan penyusunan rencana induk SPAM yang terpadu dengan pembuangan air limbah dan sistem pengelolaan persampahan, yang ditargetkan pada tanggal 1 Januari 2010. Desakan kepada negara untuk memenuhi kebutuhan air bersih juga datang dari Program Millenium Development Goals (MDG).Namun, “Pemerintah daerah masih kesulitan dalam penyediaan fasilitas yang baik pada pengadaan air,” ujar Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar, beberapa waktu lalu. Ia mengatakan, timbulnya kerusakan lingkungan hidup adalah akibat perbuatan manusia. Tanpa perubahan sikap dan perilaku, maka lingkungan hidup akan semakin rusak dan akan mengancam kelangsungan hidup manusia.

Perubahan sikap dan perilaku bersumber dari perubahan cara berpikir manusia terhadap lingkungan hidup. Perubahan sikap dan perilaku tersebut hanya dapat dilakukan apabila diterapkan pada kebiasaan sehari-hari. Hal tersebut dapat dimulai dari hal-hal yang tidak terlalu rumit, mudah dilakukan dan bersifat aksi nyata.

Kebutuhan sumberdaya air yang terus meningkat tidak dapat diimbangi oleh siklus air yang relatif tetap dan mungkin saja kian langka. Perubahan lahan akibat tekanan aktifitas penduduk mengakibatkan perubahan badan air yang terbentuk di daratan. Contoh nyata di berbagai wilayah pada saat musim hujan selalu/menjadi banjir, sedangkan pada saat musim kemarau daerah yang sama mengalami kekeringan. Ketika dampak lingkungan mulai terasa, maka pentingnya upaya konservasi barulah disadari. Sumberdaya air mulai menjadi salahsatu parameter kendali dalam penentuan tata ruang.

“Rumah-rumah tinggal yang berpekarangan, hotel, apartemen, pusat perbelanjaan, dan perkantoran seharusnya membuat sumur-sumur resapan air sebaik-baiknya,” ujar Dr Rosyid Hariyadi, MSc, ahli pengelolaan kualitas air (water quality management), yang juga peneliti pada Pusat Pengkajian Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Bukannya menakut-nakuti, tadi bila tak ada perubahan tentang cara memandang dan sikap terhadap lingkungan hidup, bukan tak mungkin Wakil Presiden Bank Dunia, Ismael Serageldin, bisa jadi kenyataan. Dunia akan terjadi krisis air besar-besaran. Ayo, selamatkan air! *** (dan)   

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s