“Ibuku, Perspustakaan Pertamaku”

aduh…rada malu ngeluarin tulisan ini..sebenernya wawancaranya lebih seru dibanding hasil akhir…mungkin bener kata iwan cah madure…gw bagus pas getting, tapi abis pas nulis…ya wis gpp..

o iya..ternyata tulisan n wawancara yg gw share di blog ini efektif juga…nanti deh, gw coba bongkar arsip wawancara gw sama pejabat eselon I pemerintahan..semoga bisa dimanfaatkan..pun termasuk kerjaan humas juga (walo gw bukan orang humas) …heheeh

semoga gw gak males neh posting2 blog….

dan info terbaru…akhirnya gw pertama kali bisa wawancara ekskusif sama menteri…korban pertama gw, bapak rachmat witoelar, menneg KLH yang baik hati sudah mau melayani sejam pembicaraan…hasilnya besok2 ya…kalo gak males…

 Duta Baca Indonesia

Tantowi Yahya : “Ibuku, Perspustakaan Pertamaku” 

Minat baca di
Indonesia cukup tinggi, setidaknya itulah yang dirasakan oleh Duta Baca Indonesia 2006, Tantowi Yahya. Saat ini, ia mulai merasakan tumbuhnya  kesadaran masyarakat untuk menjadikan buku sebagai sahabat setia.

Dan ucapan pria kelahiran Palembang Sumatera Selatan, 29 Oktober 1960 ini tak bisa dibilang sekadar pepesan kosong. Buktinya, bisa terlihat dengan semakin banyak toko-toko buku yang tak pernah sepi dari pengunjung. Terutama pengunjung anak-anak. Tentang menumbuhkan minat baca, Tanto, begitu dia biasa disebut, selalu menekankan peran penting keluarga, terutama ibu dalam membentuk kebiasaan membaca pada anak. Karena menurutnya, kebiasaan membaca bukanlah sebuah bakat dari lahir, melainkan pola yang bisa dibentuk dan ditularkan.

“Biasanya seorang anak yang suka membaca, 99% tumbuh dari keluarga yang suka membaca,” ucap lelaki yang juga berprofesi sebagai pembawa acara menjelaskan.

Karena itulah, slogan yang terus dikampanyekan Tanto sebagai Duta Baca adalah ”Ibuku Perpustakaan Pertamaku”. Kedekatan psikologis ibu terhadap anaknya dan waktu yang lebih banyak dalam pola asuh, membuat ibu memiliki peran besar.”Anak itu punya usia emas, dua sampai enam tahun. Di mana kemampuan terhebat pada usia tersebut adalah kemampuan untuk meniru perilaku. Nah dengan membiasakan diri terlihat membaca di depan anak, maka nanti akan tumbuh minat baca pada mereka. Akan sulit memprediksi muncul minat baca pada anak, bila pada usia emas mereka tersebut tidak pernah melihat orang tuanya membaca,“ papar Tanto yang juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia Amerika itu panjang lebar.

Soal cara, ia punya pendapat sendiri. Menurutnya pendidikan demokratis ketika anak masih kecil, tidak bisa dilakukan. Orang tua tidak bisa melulu mengikuti kehendak sang anak. Anak harus didikte. Harus diberi porsi, berapa jam bermain, tidur, begitupun dengan porsi membaca. Dan tentu saja semua dilakukan dengan disiplin tinggi.

Tugas Pemerintah Dan memang tidak hanya keluarga saja yang harus meningkatkan minat baca. Pemerintah dan swasta juga punya bagiannya masing-masing. Untuk pemerintah, wakil Indonesia di Eisenhower Fellowship, sebuah event internasional yang mempertemukan wakil-wakil dari berbagai negara ini punya harapan tersendiri.

Ia berharap pemerintah mengatasi permasalahan mahalnya harga buku di Indonesia. Di negara ini, kata Tanto, buku masih seperti barang mewah yang sangat sulit dimiliki oleh masyarakat.

”Substitusi buku murah memang ada, yaitu perpustakaan. Namun masalah lain ternyata juga menghinggapi perpustakaan, semisal buku-buku yang tak selalu up to date alias buku jadul (jaman dulu -red). Sedangkan syarat dari sebuah perpustakaan itu adalah bukunya harus up to date,” kata dia tegas.

Selain itu, masalah pembajakan buku yang konon mencapai angka 74% harus segera dituntaskan. Masalah itulah yang membuat profesi penulis tidak menarik bagi banyak orang. Dan tentu saja imbasnya akan sulit mendapat penulis dan buku-buku baru.

Untuk sektor swasta, ia berharap banyak pendanaan pendidikan bergulir dari program sosial perusahaan. Bila semua pihak saling bekerjasama, bukan tak mungkin sektor pendidikan akan maju. Dan sekadar masalah peningkatan minat baca dapat dilakukan dengan mudah. Ya, semoga cepat terwujud. *** (dimas@bipnewsroom.info)

2 thoughts on ““Ibuku, Perspustakaan Pertamaku”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s