Artikel gw di Pikiran Rakyat 2003

hehehe…PR huebat…artikel yang gw kirim dulu, masih tersimpan rapi di webnya dia..padal gw sendiri dah gak punya copyannya…seneng juga, mengenang masa lalu bisa masukin artikel ke PR. sekali kirim langsung dimuat. itu juga karena -lagi2 tugas p sahala-. kalo gak mana mau gw kirim2 artikel ke koran…males…heheh

padahal kalo diuangkan, lumayan…heeheh…matre..ini link-nya…untuk cerita di balik layar, gak ada…soale emang cuma semalem buatnya…gw emang gak suka yang namanya demo…emong kosong lah itu demo…kerjaan orang bodoh…cuma bisa teriak, tanpa ngasih solusi…minimal itu buat para mahasiswa yang dah kehilangan arah gerakan…hehehe..

udahlah…siapapun pemimpinnya, gw rasa negeri ini emang sedang terpuruk..siapapun…mau SBY, gus pur, mega, bahkan mbah marijan sekalipun…susah..keadaan mang dah begini…walau emang yang bersalah harus tetap diproses. tapi bukan berarti – kata pak richard – kita bebas saling menyalahkan…

salah wajar, asal jangan saling menyalahkan…biasa aja…kata p richard…kan tar jw diperhatikan dan ke depan jadi pelajaran…halah mak, bijak kali…

ya gitu, mahasiswa, mending kalian….hehehe…LUPA GW…..GW KETERIMA DI MANAJEMEN KOMUNIKASI POLITIK UI….gw mahasiswa lagi….S2 bos…haiah gaya…

belajar…atau buat kegiatan yang bersenthan langsung ke masyarakat..itu lebih berguna..daripada uang kalian abis buat ongkos or biaya demo gak jelas..mending buat pelatihan apa kek, membarikan ilmu kalian ke masyarakat yang membutuhkan…ngasih pancing ke mereka…jangan ikannya…

udah lah, pokona demo mah gak mutu lah..kerjaan tiada guna…mending keneh HIDUP PERSIB…PERSIB ANU AING….heheheh…neh artikel gw

Rabu, 28 Mei 2003
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0503/28/0801.htm

Dosen Urus Gaji, Mahasiswa Pergi Demonstrasi
Oleh DIMAS ADITYA NUGRAHA

BULAN Mei, bulan yang memiliki arti besar bagi sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Bulan saat 5 tahun lalu terukir dengan jelas perjuangan sekelompok elite mahasiswa dalam menjatuhkan rezim Orde Baru. Rezim yang telah lebih dari tiga dasawarsa mematikan sendi-sendi kebebasan berpikir anak bangsa. Rezim yang membodohi masyarakat. Rezim Orde Baru jatuh, banyak orang yang semula bungkam dengan cepat bangkit dan menjadi pahlawan kesiangan, mene-puk dada sebagai pejuang reformasi. Segala macam aib dan kebusukan pemerintah Orde Baru terkuak dengan jelas.

Semua lapisan masyarakat, mulai dari tukang beling sampai ketua partai berbicara tentang politik. Bicara tentang turunnya nilai rupiah, bicara tentang dolar. Semua bicara, tak peduli mengerti atau tidak letak permasalahannya. Semua mengaku ”pejuang reformasi” dan menghujat habis-habisan Orde Baru. Sebuah kondisi yang dilatarbelakangi semangat dan keinginan yang menggelora para mahasiswa guna mencapai apa yang diyakininya sebagai kebenaran, menjatuhkan rezim Orde Baru. Terima kasih mahasiswa.

Sebuah fenomena yang sangat bersejarah, perjuangan melalui tangan manusia-manusia terdidik, mahasiswa. Mahasiswa yang tercipta dari sebuah dunia yang sepi dan terbuang, bernama pendidikan. Mahasiswa, manusia Indonesia yang dididik dengan kurang dari 2% anggaran APBN. Mahasiswa yang mendidik dirinya sendiri di tengah sebuah sistem pendidikan yang tak jelas tujuannya, sebuah sistem yang menciptakan manusia-manusia dengan satu frame berpikir.

Mahasiswa sangat dekat dengan dunia pendidikan. Sepintas, mahasiswa adalah satu jiwa, satu rasa, satu keinginan, dan satu penderitaan dengan dunia pendidikan. Keinginan mahasiswa adalah keinginan dari pendidikan. Ketika keinginan untuk mengembangkan pola pikir dan pengetahuan terhambat, adalah tugas dari sistem pendidikan itu menampung aspriasinya. Pendidikan sudah seyogianya memberikan jalan yang mulus bagi mahasiswa untuk mengembangkan pola pikir dan ilmu pengetahuan. Mahaiswa pun harus berbuat sebaliknya terhadap dunia pendidikan, membantu pendidikan mengembangkan diri agar mampu memfasilitasi bagian-bagiannya untuk menjdi lebih maju.

Namun, kasihan sekali nasib sang pendidikan, tercampakkan. Maha-siswa yang katanya orang paling peduli terhadap dirinya, pergi ke lain hati, tak mau lagi berurusan dengannya. Mahasiswa tak lagi peduli tentang perpustakaan kampus yang kekurangan buku atau kualitas dosen pengajar yang rendah. Atau, tak juga menanyakan kepada anggota dewan yang terhormat tentang 20% anggaran APBN yang tak juga kucur.

Mahasiswa, melalui kaum muda yang selalu menggelora dalam setiap demonstrasinya, seperti KAMMI, HMI, Forkot, Famred, dan BEM tak juga mendesak para pemimpin republik ini untuk meralat alasan ”tak ada dana” yang selalu mereka uta-rakan dari masa ke masa. Mahasiswa, para aktivis dari elemen mana pun yang selalu berteriak lantang berbicara tentang negara dan kebobrokan pemerintah, mengkritik dengan tajam segala macam tetek bengek kebijakan, tak juga berteriak untuk nasib malang pendidikan.

Mahasiswa lebih lantang beteriak tentang masalah politik. Lebih memilih untuk berurusan dengan sebuah bahasan yang didominasi oleh konflik kepentingan yang berlarut-larut dan melelahkan. Sebuah bahasan yang lebih mengedepankan nafsu yang sama, nafsu untuk berkuasa. Dunia yang tak jelas, tak ada lagi kawan dan lawan sejati. Berusaha meraih tampuk pimpinan dan mencoba memim-pin dengan jalan dan cara pikir mereka. Tahukah mereka jika pendidikan merupakan sarana penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam menjamin kelangsungan pembangunan suatu bangsa? Bahwa peningkatan kualitas SDM, jauh lebih mendesak untuk segera diwujudkan dalam menghadapi era persaingan global?

Mengertikah para calon pemimpin ini bahwa pendidikan Indonesia sangat terpuruk dari sejak zaman lampau sampai saat ini. Bahwa daya saing bangsa Indonesia tak masuk hitungan, terendah dibanding dengan negara-negara di Asia Tenggara? Jangan bandingkan Indonesia dengan Si-ngapura, Malaysia, Filipina, dan Thai-land, terlalu jauh untuk diangan-angankan. Negara-negara tersebut telah mewujudkan retorika mereka dengan lebih dari 20% anggaran negara pada pendidikan, sejak zaman dahulu. Bahkan Vietnam, negara yang pada masa lalu merupakan negara yang tak diperhitungkan, kini mulai meninggalkan Indonesia. Vietnam telah terlebih dahulu sadar untuk mewujudkan priorits pembangunan pada pendidikan.

Atau mengertikah para elite mahasiswa ini, bahwa Ace Suryadi, Staf Ahli Menteri Pendidikan Nasional Bidang Desentralisasi Pendidikan telah mengakui bahwa 80% guru di Indonesia tak bisa mengajar? Beliau mengakui di depan khalayak, di dalam sebuah seminar pendidikan Indonesia, Educaton Expo 2003 yang dihadiri mahasiswa, LSM pendidikan, media massa, dan lain-lainnya.

Para pendidik ini menurut Ace, terlalu sibuk mengurusi masalah nonteknis mereka, masalah sunat gaji dan menambah penghasilan. Yang pasti, guru tak bisa mengajar karena institusi pendidikan yang mereka jalani dahulu, institusi keguruan itu tak mampu menciptakan tenaga pendidikan kualitas tinggi. Nmaaf, ini adalah sebuah pertanda yang sangat jelas bahwa pendidikan kita hanya menghasilkan tenaga-tenaga kualitas rendah, tak mampu bersaing di tengah dunia yang tengah mengglobal.

Para elite mahasiswa ini belum lagi tergerak untuk berbicara berapa banyak angka putus sekolah yang ada di Indonesia. Berapa banyak anak-anak tak mampu menamatkan pendidikan 9 tahun mereka. Atau betapa mahalnya biaya untuk mengenyam pendidikan, bahkan tingkat sekolah dasar. Negara dan pemerintahan memang pusatnya kebijakan. Jika di dalamnya terdapat orang-orang yang terdidik mungkin saja akan sedikit lebih memerhatikan pendidikan. Tentu tidaklah terlalu bersalah jika mahasiswa berusaha mengubah sesuatu yang besar terlebih dahulu, berusaha merebut tampuk pimpinan yang menurut sebagian orang telah berbuat kesalahan yang fatal.

Pendidikan memang bukanlah suatu hal yang asing, bukan suatu hal yang tak menyentuh dinamika dan problematika masyarakat. Pendidikan hadir untuk menyediakan tenaga yang andal dalam menyelesaikan dinamika dan problematika masyarakat tersebut. Pendidikan tak harus terikat dengan susunan teks dan teori bangku sekolahan yang hanya manis di mulut. Pendidikan lahir untuk membuat didikannya kreatif dan mengambil manfaat dari segala macam teks, teori, dan peristiwa masa lampau. Tidak menjadikan sejarah hanya guratan pena yang hanya menjadi bacaan wajib.

Pendidikan juga bukan barang yang dapat dijadikan sebagai — meminjam istilah Omi Intin Naomi, 1997 — ”jimat peramal” bagi orang-orang. Dengan pendidikan, orang membuat rute yang pasti tentang tahapan masa depan secara mekanistis, terstruktur, serta cenderung mengabaikan tuntutan-tuntutan sosial yang ada di luar jalur/mekanisme formal bidang pendidikan yang mereka jalani.

Namun, amat disayangkan bila rintihan pendidikan tak lagi menjadi bahan yang menarik untuk diperjuangkan oleh para elite mahasiswa ini. Sangat ironis apabila suara-suara sumbang pendidikan tak santer terdengar, tak tersuarakan dengan lantang di permukaan.

Yang santer terdengar hanya politik dan lengserkan pemerintah, itu saja. Padahal, para pemimpin dan para calon pemimpin ini mengerti, jika ingin menjadi bangsa besar harus me-naruh perhatian yang besar pula terhadap pendidikan. Jadi, janganlah be-retorika saja, wujudkan, perjuangan juga pendidikan. Bela pendidikan. ***

Penulis adalah mahasiswa jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komu-nikasi Universitas Padjadjaran semester VI.

2 thoughts on “Artikel gw di Pikiran Rakyat 2003

  1. HIDUP PERSIB…PERSIB ANU AING
    HIDUP PERSIB…PERSIB ANU AING
    HIDUP PERSIB…PERSIB ANU AING
    HIDUP PERSIB…PERSIB ANU AING🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s