Tulisan 3: Yang Tertuduh Yang Dituduh

Yang Tertuduh Yang Dituduh

Kehadirannya diangap bertentangan dengan program pemerintah. Dengan bermodal penyuluhan dan karet kondom, PKBI terus maju untuk mencegah penularan HIV / AIDS di Saritem.

Tawa-tawa kecil menyeruak dari sebuah ruangan berukuran 6 x 4 meter. Kepulan asap rokok semakin menggumpal tebal, mengalir melewati celah kecil pada 2 buah jendela di ujung  ruangan sebelah kiri. Dua puluh wanita cantik menghadapi satu orang laki-laki berkacamata. Laki-laki berkacamata, memegang sebatang kapur, menuliskan beberapa kata di papan, seperti berusaha menjelaskan sesuatu. Yang dihadapi, dua puluh wanita cantik, hanya terkekeh atau sibuk menghisap rokoknya dalam-dalam, menikmati jelajah alam pikiran tanpa batas.

Sebuah pemandangan yang mungkin janggal dan tak biasa ditemui di sebuah komplek prostitusi pada umumnya. Tak ada tamu yang harus dilayani selama 1 jam ini. Seperti biasa, setiap hari Senin, Rabu, Kamis, dan Sabtu, para Pekerja Seks Komersil (PSK) di lokasi prostitusi Saritem mempunyai rutinitas yang sudah silakoni sejak Januari 2002. Dari jam 10.30 hingga pukul 11.30 mereka harus bersekolah. Hanya saja sekolahnya tak seperti orang-orang kebanyakan. Tak ada seragam, tak ada buku pelajaran, dan tak ada bangunan dengan ruang kelas yang banyak. Hanya guru yang berceloteh dan murid yang mendengarkan.

Bertempat di kantor RW 09 Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, sekolah yang oleh para PSK disebut sekolah Saritem, digelar. Muridnya, menurut pihak pengelola sekolah, Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Barat, berjumlah sekitar 333 PSK yang berasal dari 50 “rumah usaha” di Saritem. “Karena jumlah muridnya banyak dan ruangan yang terbatas, murid bergiliran mengikuti pelajaran, minimal perwakilan dari tiap rumah usaha,”ucap Mashadi, project assistant PKBI untuk sekolah Saritem.  

Materi yang diajarkan pun bukan matematika, bukan pula ilmu pengetahuan alam ataupun pengetahuan sosial. Materinya hanya seputar kesehatan reproduksi seksual, penyakit menular seksual, dan HIV / AIDS.. Mata pelajaran yang memang sangat dibutuhkan dan cocok bagi para PSK dalam melaksanakan “tugasnya”, menghibur para laki-laki kesepian.

Mashadi mengatakan, sekolah Saritem sempat mendapat berbagai kecaman dan hujatan dari berbagai pihak, terutama Pondok Pesantren (Pontren) Daar At Taubah dan warga masyarakat. Sekolah ini dianggap bertentangan dengan visi dan misi pemerintah dalam memberantas prostitusi di Saritem.

Bagaimana tidak, dikala pemerintah berusaha menyelesaikan masalah Saritem dengan membangun sebuah pondok pesantren yang menghabiskan dana miliaran rupiah. Sekolah asuhan PKBI ini, justru membagikan gratis atau menjual “sarung karet” dengan murah kepada para PSK Saritem.

Seperti yang dikatakan oleh KH Ahmad Haedar, pelaksana harian Pontren Daar At Taubah. “Mereka memang LSM AIDS, tapi pendekatan yang dilakukan sangat tidak wajar. Solusi yang ditawarkan dangkal. Memberantas AIDS dengan kondom, kalau mau hilangkan saja prakteknya,”ucap kyai lulusan Pesantren Manonjaya Tasikmalaya ini tegas.

Reaksi pontren dan masyarakat dianggap wajar oleh Mashadi. Menurutnya, setiap orang pasti akan mempunyai reaksi yang sama ketika mendengar kegiatan PKBI secara sepintas. Hanya saja, menurut Hadi, masyarakat mungkin akan berpikir lain setelah mengetahui kegiatan yang dilakukan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang didanai oleh Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) ini secara utuh dan terbuka. Pendekatan PKBI, jelas Mashadi, berbeda dengan pendekatan yang dilakukan oleh pemerintahan A’a Tarmana dan pontren. PKBI, sejak kelahirannya, tahun1964 sudah memposisikan diri sebagai LSM yang mempunyai fokus dalam masalah kesehatan reproduksi seksual.

“Pendekatan kita dari sisi kesehatan, silakan saja pontren dari sisi moral. Kita lakukan peran masing-masing,’’ujar Hadi tak kalah tegas.

Laki-laki berkacamata yang sudah tahun aktif di Saritem ini sangat menyesalkan didirikannya pontren di wilayah tersebut. Menurutnya, pesantren bukanlah sebuah solusi yang tepat dalam menanggulangi penyakit Saritem. Segala permasalahan, menurut Mashadi, tidak bisa dilihat hanya dari kacamata moral. Berdasarkan hasil kerja lapangannya di Saritem, Mashadi menemukan faktor ekonomi sebagai biang permasalahannya. Membuka sebuah supermarket atau lowongan kerja yang dapat menyerap para PSK, dinilai Hadi sebagai suatu solusi yang dapat menyeleaikan masalah.

“PSK itu terpaksa bekerja disana. Mereka tidak punya pilihan, butuh uang,”jelas Mashadi berempati. Selain itu, pontren dalam kacamata Hadi, belum melakukan pendekatan atau kegiatan yang menyentuh PSK secara langsung.

Hal itu dikarenakan, pontren belum memahami permasalahan yang terjadi di Saritem. Melulu soal moral dan menghakimi PSK sebagai manusia yang terkutuk, pelaku maksiat, dan harus dijauhi. Dengan pendekatan yang dianggap Hadi keras itu, PSK tidak akan mungkin terengkuh dan mau mendengar seruan-seruan pihak pontren. Justru PSK malah kabur dan tak berani mendekat ke pontren karena mempunyai prasangka negatif dan merasa tak enak dengan keberadaan pontren. “Mereka itu masih sholat dan mengaji. Tahu agama dan moral. Mereka terpaksa, tolong dicamkan,”ucap Hadi dengan nada sedikit meninggi.

Walau dirasa tak mungkin, ucap Hadi, seharusnya pontren bisa bersikap sedikit manusiawi dalam menghadapi permasalahan PSK. Mencoba untuk mendekat dan berbagi cerita, mendengar keluhan PSK. Melakukan pendekatan dari hati ke hati, seperti yang dilakukan oleh PKBI. Hal yang dirasa Hadi memiliki efektivitas lebih tinggi dibanding dengan kegiatan yang dilakukan pontren.

Diakui Hadi, salah satu kegiatan PKBI, yaitu kampanye kondom di Saritem memang dianggap oleh sebagian orang sebagai sebuah tindakan yang melegalkan prostitusi. Dan hal itu adalah sebuah hal yang wajar, karena masyarakat masih melihatnya dari kacamata moral dan spiritual, bukan dari segi kesehatan. Disamping itu masyarakat, masih belum menyadari dan menyelami permasalahan yang terjadi, hanya melihat sepintas dari luar.

Dari sisi moralitas, tentu saja, yang namanya prostitusi adalah sebuah tindakan yang salah. Hanya saja, kata Hadi, masyarakat harus bisa lebih jeli melihat kenyataan, pelacuran sudah ada sejak jaman dahulu dan biasanya bukan dikarenakan oleh faktor moral, melainkan ekonomi. Diakui Hadi, sekitar setahun yang lalu, PKBI pernah melakukan hal yang mungkin dianggap lebih ekstrem bagi masyarakat, bagi-bagi kondom gratis bagi para PSK. Hanya saja kegiatan tersebut dihentikan, selain tidak mendidik juga menimbulkan ketergantungan pada PSK. Para PSK, ujar Hadi, hanya menggunakan kondom ketika diberi oleh PKBI. Saat ini, yang dilakukan adalah pemeriksaan kesehatan seksual dan kampanye penggunaan kondom, itu pun hanya bertujuan untuk pencegahan.

Dari sisi kesehatan, Jawa Barat memang meraih “prestasi” yang luar biasa dalam tingkat penderita HIV / AIDS. Pada akhir Maret 2004, berada di urutan ketiga teratas se-Indonesia dengan jumlah penderita HIV / AIDS sebesar 848 orang. Padahal, empat bulan sebelumnya, Desember 2003, Jabar masih berada di urutan keempat dengan 723 penderita. Hal inilah yang membuat PKBI semakin intensif melaksanakan program-programnya di Saritem.

Program-program ini pun bukannya tanpa sepengetahuan pemerintah. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, ujar Hadi, memiliki garis koordinasi yang jelas dengan PKBI dalam pelaksanaan program dilapangan. Sejak dikeluarkannya keputusan untuk menutup lokasi Saritem, semua aparat pemerintah, termasuk Dinkes, tidak bisa “beroperasi” di daerah ini. Dikarenakan, pemerintah sudah tidak mengakui Saritem sebagai lokasi prostitusi. Dan pemerintah tidak mau terlibat disana karena, kata Hadi, takut dianggap melegalkan.

“Jadi, kita ini kepanjangan dari Dinkes. Tidak mungkin pemerintah lepas tangan dalam permasalah kesehatan seksual di Saritem,”ujar Hadi menjelaskan. Kasubdin Pencegahan Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2P dan PL) Dinkes Kota Bandung, dr Nina Rehana, memebenarkan ucapan Hadi. Pihak Dinkes, sampai saat ini, memang masih secara aktif menjalin kerjasama dengan LSM-LSM AIDS dan narkoba, seperti Rumah Cemara, Bahtera, Yayasan Priangan, dan termasuk PKBI.

Untuk lokasi-lokasi prostitusi seperti di Saritem dan Dewi Sartika, diakui Nina, pihak Dinkes masih mempercayakannya kepada PKBI. Bantuan obat-obatan infeksi menular seksual (IMS) semisal chyfloflofaxin dan doxixicln kerap diberikan Dinkes guna kesuksesan program PKBI.

“Habis bagaimana, kita ini serba salah. Sejak keputusan dicabut, Dinkes tidak bisa bergerak di lokasi prostitusi. Jumlah penderita HIV / AIDS di Kota Bandung semakin tinggi. Pengawasan tetap kita lakukan melalui PKBI,”ungkap Nina. Hanya saja, menurut Nina, Dinkes tidak memfokuskan penanggulangan penularan HIV / AIDS pada PSK. Dikarenakan, dari 256 HIV positif Kota Bandung, 60% berasal dari penggunaan jarum suntik narkoba. Hanya 1% yang berasal dari hubungan seksual. Walau Nina tidak menutup kemungkinan jumlahnya melebihi catatan yang ada di Dinkes.

Pembagian kondom, menurut Nina, dinilai sebagai salah satu cara untuk menekan penularan HIV / AIDS. Alasannya, sulit menghentikan dan mengontrol perilaku suka ‘jajan’ laki-laki hidung belang. Karena itu, PSK dijadikan objek penyuluhan dan upaya pencegahan. Selain lebih mudah dikontrol, para PSK cenderung kooperatif dalam mengikuti program-program kesehatan yang diadakan. Sampai saat ini, salah satu cara menghambat penyebaran penyakit dilakukan dengan penggunaan kondom.

”Saya sebenarnya tidak setuju dengan lokalisasi. Namun, kalau ternyata tidak mungkin untuk melarang seseorang pergi ke tempat itu, maka pemberian kondom mungkin merupakan salah satu alternatif yang baik,” ungkap Nina.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, dr Gunadi S Bhinekas. Di Indonesia, persoalan ini sangat sensitif dibicarakan karena menyangkut nilai moral, budaya dan agama. Hal itulah yang membuat Dinkes masih menjadikan penggunaan kondom sebagai jalan keluar terakhir dari upaya penanggulangan HIV /AIDS. Kendati di Bangkok, Thailand, upaya ini berhasil mengurangi jumlah lelaki hidung belang yang suka “jajan” di lokasi prostitusi.

Pemerintah memang tidak secara langsung terlibat di Saritem dan telah melakukan koordinasi yang jelas dengan pihak PKBI dalam melakukan upaya penanggulangan masalah di Saritem yang dinilai rentan. Masalah yang dinilai Ahmad Taufiq, salah satu aktivis PKBI yang juga “menjabat” sebagai guru sekolah Saritem, sebagai sebuah masalah yang sudah sangat kronis dan harus ditemukan solusi pemecahannya.

Ahmad yang sehari-harinya menghabiskan waktu untuk penyuluhan dan mendengar keluhan para PSK di Saritem mengaku banyak mendengar kisah-kisah menyakitkan dan mengharukan. Menurut Ahmad, PKBI pernah melakukan sebuah survey tahunan yang bernama Collection of Project Achievment di Saritem dan Jalan Dewi Sartika.

Hasilnya, sungguh menyakitkan, PSK yang berusia antara 14-25 tahun itu, memilih menjalani profesi sebagai wanita pemuas hajat bejat laki-laki hidung belang lantaran memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya di kampung, tidak punya ketrampilan, sampai sakit hati dihianati oleh kekasih atau suami.

Tanggungan mereka, kata Ahmad, rata-rata diatas 4 orang, baik orang tua, saudara kandung, maupun darah daging mereka sendiri. “Hampir 70% orang tua mereka mengetahui keberadaan mereka disini, malah ada yang mengantar dan meminta pekerjaan kepada germo,”ungkap Ahmad sayu.

Tentang asal daerah, 85% mengaku berasal dari Indramayu. Disana, kata Ahmad, mereka sudah pernah menikah sebelumnya atau minimal pernah melakukan hubungan seks antara usia 10 hingga 20 tahun. Sebelum bekerja di Saritem, 62% diantara mereka pernah pula bekerja di Batam, Jakarta, dan Bogor antara 1-26 bulan dengan profesi yang sama.Gadis-gadis ini, kata Ahmad berdasarkan cerita para PSK, “di rolling” setiap 3-12 bulan sekali ke daerah-daerah yang memiliki jaringan dengan germo tempat dia bekerja. “Tentu saja ada biaya transfernya. Walau ada yang bebas transfer,”ucap Ahmad dengan wajah geram.

Hasil “rolling” yang dilakukan germo, tentu saja membuat kegiatan yang dilakukan oleh PKBI agak tersendat. Selain tidak terlacak lagi, tingkat keberhasilan PKBI melalui program penyuluhannya selalu mejadi sebuah tanda tanya yang harus segara dijawab. Berdasar data terakhir yang diperoleh oleh PKBI, PSK yang menggunakan kondom pada tamu terakhir mencapai angka 74,4%.

Walau begitu, jumlah tersebut, diakui Ahmad, masih menguatirkan karena dalam sehari, PSK melayani 6-7 tamu. Hasil survey itu pun masih belum menjamin penggunaan kondom dikalangan PSK, hanya sebatas pengakuan. Buktinya, dari hasil uji kesehatan yang dilakukan klinik PKBI di Jalan Ence Azis 58, ditemukan 60% PSK menderita penyakit menular seksual, seperti GO, sipilis, klamidia, dan kutil kelamin. PSK, lanjut Ahmad, tidak bisa disalahkan 100%. Alasannya, kesadaran PSK terhadap kesehatan seksual terbilang cukup tinggi, lebih dari 90% dari total 333 binaan PKBI mengerti tentang kesehatan reproduksi.

Hanya saja, tamu dan germo sulit diajak kompromi dalam penggunaan kondom. Germo-germo itu kerap mendapat keluhan pelanggan jika anak binaannya menginginkan menggunakan kondom. Tidak nikmat, katanya. “Menyentuh pelanggan sulit sekali, tidak terkontrol. PKBI juga mengajarkan agar PSK bisa negosiasi bahkan secara tidak langsung memberikan penyuluhan kepada tamu,”ucap Ahmad.

Kegiatan LSM nya, diakui Ahmad, memang tampak aneh dan mengundang perdebatan publik. Ia dan kawan-kawannya pun sudah sejak awal mengetahui resiko pekerjaannya. Dicaci, dituduh, dipandang negatif adalah sebuah hal yang sering terjadi pada diri mereka. Walau begitu, mereka tetap menikamati pekerjaan tersebut. Bahkan menaruh simpati kepada para PSK dan bersedia untuk menikahi salah satunya, bila benar-benar berjanji tidak akan melakukan perbuatan tersebut, dengan alasan apapun.

“Ini baru namanya manusiawi,”ucap Ahmad.Persoalan siapa yang lebih manusiawi tentu saja tidak akan pernah mendapat sebuah titik temu. Dan setiap pekerjaan pasti mempunyai alasan yang kuat untuk dilakukan. Sekarang tinggal bagaiman mencari titik awal masalah dan mencari solusi yang tepat. Ibarat tubuh yang letih, bisa dipijat, istirahat, atau diberikan obat yang tepat. ***mas 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s