Tulisan 2 : Jurus Pengeras Suara Pemutus Generasi

Jurus Pengeras Suara Pemutus Generasi 

Dengan mengeraskan volume pengeras suara, pontren berharap PSK tersentuh dan segera bertobat. 

Tak ada celoteh manja wanita pagi itu. Baju-baju seksi nan ketat yang biasa melekat di tubuh molek wanita-wanita muda, sementara harus tersimpan di lemari. Dandanan menor yang biasanya disajikan untuk menjaring pelanggan, terpaksa pula ditanggalkan. Semuanya berganti dengan sentuhan bedak tipis yang menyiratkan kecantikan alami. Rayuan-rayuan menggoda senyap seketika, berganti hanya dalam hitungan detik.

 

Tawa-tawa kecil yang biasa terdengar, hilang tertelan oleh lantunan ayat-ayat suci Alquran yang menggema ke seantero pelosok Saritem, lokasi prostitusi kelas wahid di Kota Bandung. Kerudung dan jilbab tampak rapi menghiasi wajah cantik perempuan-perempuan lugu. Rayuan-rayuan menggoda disulap seketika menjadi do’a-do’a penuh harap.  

Selasa (4/5) ada warna lain di komplek prostitusi Saritem. Bukan demonstrasi menentang keberadaan kawasan prostitusi yang sudah berdiri sejak abad ke-18 itu. Bukan pula razia polisi pamong praja untuk menangkap germo dan PSK yang dianggap liar oleh pemerintah. Warna itu adalah milad ke-4 Pondok Pesantren (pontren) Daar At-Tubah. Pontren milik Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung yang dibangun khusus untuk “menyelesaikan” prostitusi di Saritem.  

Pontren yang biasanya hanya diisi dengan jadwal belajar 65 orang santri, hari itu penuh sesak oleh warga sekitar lokasi prostitusi. Tujuannya, mendengar ceramah A’a Gym –panggilang akrab KH Abdullah Gymnastiar-, da’I kharismatik pimpinan pontren Daarut Tauhid Bandung yang hari itu datang untuk memeriahkan milad. “A’a sengaja kami undang khusus. Gaya dakwahnya mudah-mudahan bisa membantu menyadarkan para PSK,”ucap Ubaidillah Hidayat, panitia milad yang juga merupakan pengajar pontren Daar At Taubah. 

Lokasi pontren yang berada di tengah-tengah rumah prostitusi, tampaknya tak menghalangi warga untuk datang ke acara tersebut. Rebana dan lagu-lagu pujian pun ditabuh, berusaha mencipta kekhidmatan acara. Warga dan ratusan PSK larut dalam keheningan do’a nan menyayat hati. Tak terasa, bulir-bulir air mata menetes. Mengharap ampun dan keridhoan Sang Ilahi. 

Satu hal yang jarang terjadi pada hari-hari lainnya. Hari itu, warga dan PSK bersatu dan berbaur. Bertujuan sama, ingin merasakan kenikmatan berdoa bersama A’a Gym yang terkenal jago “memainkan” perasaan. “Saya tidak peduli ceramah dekat dengan lokasi prostitusi. Cuma mau lihat A’a,”kata Ginda (26) warga sekitar yang mengaku anti untuk dekat-dekat dengan kawasan prostitusi yang berlokasi di gang hidayat RW 07 dan RW 09 Gardujati..

 

Tampak aneh ketika mengetahui sebuah bangunan dengan nuansa spiritual berdiri tegak di gang sempit yang terkenal sebagai tempat prostitusi. Mungkin banyak yang bertanya, mana mungkin “kebaikan” bisa bersatu dengan “keburukan”. Seperti apa perpaduan yang tercipta dari sebuah latar belakang berbeda. Siapa mempengaruhi siapa, siapa yang menang, siapa yang kalah, atau mungkin pula akan tercipta gen baru yang tak mirip keduanya.  

Melihat 4 tahun kebelakang keberadaan pontren yang diharapkan dapat menjadi tempat bertobatnya para pelaku prostitusi Saritem. Lokasi yang didakwa ormas-ormas Islam Jawa Barat sebagai biang keladi rusaknya moralitas masyarakat Bandung. 

Pontren menjadi solusi para petinggi pemerintahan Kota Bandung guna menjawab aspirasi masyarakat Jawa Barat yang terkenal sebagai basis religius ini. Selain itu, A’a Tarmana, sang petinggi kala itu, sudah letih dengan tak berbuahnya razia yang dilakukan sebulan sekali oleh aparatnya. Padahal, Rp 6 juta harus dikeluarkannya setiap kali razia dilakukan. Gaung di atas kertas namun hasil belum jelas, mungkin itu yang dikatakan A’a menjawab keletihannya.  

Untuk dana awal, A’a menganggarkan dana Rp 3 miliar guna membebaskan lahan seluas 2000 meter persegi dan Rp 1,1 miliar untuk pembangunan masjid dan pesantren. Dana ini diambil dari pos hibah Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Bandung. Pendirian masjid dan pesantren dianggap penting untuk menciptakan keadaan kondusif di Bandung yang terkenal sebagai daerah dengan 96%  penduduk beragama Islam. 

Pertama kali didirikan, 2 Mei 2000, ujar Imam Shonhaji, pemrakarsa sekaligus pelindung pontren, tentu saja menuai banyak protes dari komunitas Saritem yang merasa terganggu dengan keberadaannya. Keberadaan pontren dianggap bakal membuat para tamu enggan berkunjung ke Saritem. 

Para germo dan PSK yang tak senang dengan pontren pun tak segan-segan untuk melakukan teror. Menurut Shonhaji, dalam tahun pertama banyak terjadi peristiwa-peristiwa aneh yang menakutkan. Kalajengking beraneka warna, mulai hijau sampai merah menyala, telur dengan warna yang tak pernah dilihat sebelumnya, ada pula kembang tujuh rupa yang diletakkan di pintu masuk pontren. Entah apa tujuannya, tapi yang pasti, santri tak pernah merasakan efeknya secara langsung. Semua, kata Shonhaji, masih dalam batas wajar, menimbulkan ketakutan semata.  

Selain itu, kesalahpahaman juga kerap terjadi. Pontren masih menggunakan nomor telepon yang sama dengan nomor yang digunakan oleh rumah prostitusi dahulu. Tentu saja hal tersebut membuat pelanggan PSK terkecoh. Banyak pelanggan PSK, jelas Shonhaji, memiliki nomor telepon rumah prostitusi itu dan meminta dikirimkan PSK ke alamat yang dituju. “Kita kasih salam, Assalamu’alaikum. Eh malah dijawab, udah deh lo nggak usah sok alim. Pake salam segala. Akhirnya kita jelaskan, walau banyak yang tidak percaya,”ucap Shonhaji tertawa kecil. 

Awal pendirian, tutur Shonhaji, pontren menggunakan lahan seluas 226 meter persegi yang dibeli dari germo ‘lokal” terbesar dengan harga Rp 450 juta. Ponpes ini dapat dibilang sangat sederhana. Masih menggunakan bangunan asli tempat praktek para PSK yang berada di jantung pertahanan Saritem. Dari bangunan fisik, pontren tak ubahnya dengan rumah prostitusi yang tepat berdiri di sebelahnya. Rumah bertingkat dua dengan 7 bilik berukuran 2,5 x 2,5 meter. Luas pontren dirasa sangat sempit, terlebih harus menampung 50 orang santri yang didatangkan dari seluruh pontren di Kota Bandung. Maklum, Shonhaji adalah pimpinan Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kota Bandung. Dengan titahnya, 25 pontren mengirimkan masing-masing 2 orang santri seniornya untuk ditempatkan di Daar At Taubah.

 

“Santri-santri itu cikal bakal pontren ini, gebrakan pertama kita turunkan 50 santri untuk belajar di Daar At Taubah,”ucap Shonhaji, yang juga pemilik pontren Sukamiskin, pontren tertua di Kota Bandung.  

Nuansa prostitusi yang masih kental dalam bangunan fisik pontren, perlahan dihilangkan. Bangunan asli direhab menjadi bangunan layaknya sebuah rumah biasa dengan dana Rp 100 juta. Dana tersebut berasal dari kocek pemerintah kota Bandung. Setahun kemudian, rehab bangunan disempurnakan dengan digenapkannya dana menjadi Rp 1 miliar oleh Nuriana, Gubernur Jawa Barat kala itu yang sampai saat ini masih aktif sebagai pembina pontren Daar At Taubah.  

Ditambah lagi, Rp 2 miliar untuk perluasan pontren, 400 meter menusuk lebih ke dalam lokasi prostitusi Saritem.”Tujuan kami, memutus satu generasi. Kalau mungkin dan ada celah kita coba rubah sarangnya,”ucap Shonhaji menuturkan taktik perangnya.  

Kepengurusan Shonhaji diturunkan kepada putranya, KH Ahmad Haedar (32) yang kala itu baru selesai berguru di Manonjaya, Tasikmalaya, pondok yang sama dengan da’I kondang Bandung, Abdullah Gymanstiar. Kyai yang telah nyantren selama 15 tahun ini, bertindak sebagai pelaksana harian pontren. Pengajian ibu-ibu pun digelar setiap hari Ahad pagi. Undangan ini rupanya disambut oleh warga yang telah memendam kerinduan akan sebuah nuansa spriritual yang sangat jarang dilakukan di daerah mereka. Sekali pengajian, jumlah pesertanya mencapai 40-80 orang.  

“Sasaran kita memang warga sekitar. Agar warga punya pertahanan yang kokoh dan tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan prostitusi,”ucap Kyai Mamat, panggilan akrab KH Ahmad Haedar. 

Jamaah Sholat Jum’at yang digelar setiap minggunya pun, ujar Mamat, baru dihadiri 6 orang warga sekitar pada tahun pertama. Menurut kyai Warga masih merasa takut masuk ke daerah hitam jantung Saritem. Walau hampir 2 abad hidup “bersama”, warga dan PSK tidak mempunyai satu ikatan apapun. Elo-elo, gua-gua, mungkin itu istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi warga dan PSK. 

Untuk santri, jumlahnya bertambah menjadi 90 orang di tahun ke-2 dan saat ini berjumlah hanya 65 orang santri mukim. Santri yang berguru di pesantren milik Pemkot Bandung itu berusia antara 8-22 tahun dan merupakan anak-anak putus sekolah. Mereka datang dari seluruh penjuru Jabar dan tidak dipungut biaya apapun.”Makan dan kehidupan santri sudah dijamin Pemkot Bandung,” ujar Ustadz Yayat Nurul Hidayat,(28) salah seorang pengajar. 

Dana yang didapat, merupakan hasil subsidi pemkot Bandung yang besarnya mencapai Rp 15 juta tiap bulan. Dana ini, digunakan untuk biaya makan santri dan pengajar, honor 8 orang pengajar, peringatan hari besar agama dan biaya listrik dan telepon. Jumlahnya, menurut Yayat, pas-pasan. Tidak kurang, hanya berlebih, Rp 100.000 – Rp 200.000. Itupun setelah melakukan penghematan dimana-mana. Pengajar saja, menurut Yayat, digaji Rp 300.000 per bulan. Angka yang dikatakan Yayat, cukup untuk menghidupi dirinya sendiri..

 

Pada perjanjian awal, dana subsidi yang dikucurkan oleh pemkot hanya untuk masa 3 tahun, setelah itu pontren diharapkan kemandiriannya dalam mencari dana. Untuk itu, menurut Yayat, pihak pontren pernah memulai usaha tahu tempe untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Usaha ini, pernah berjalan selama 6 bulan dengan produksi 100 buah tempe dan tahu per hari. Jumlah tersebut, kata Yayat, cukup untuk makan santri dan pengajar sehari. Walau terkadang ada warga yang memesan tahu tempe buatan pontren.  

“Sekarang tidak bisa berproduksi lagi. Dinamo mesin tempe tahu hilang. Dicuri,”ucap Yayat menjelaskan. 

Untuk mengganti dinamo yang hilang, ujar Yayat, tak bisa dilakukan oleh pihak pontren. Harga dinamonya sangat tinggi, mencapai Rp 2 juta. Kas pontren, kata Yayat, tak mencapai angka itu. Yayat menolak untuk menyebut jumlah uang yang ada di kas pesantren. Kecil, itu katanya.  

Mengamalkan ilmu agama di Daar- Al Taubah, menurut Ustadz Dudu Mardiyana, salah seorang pengajar pontren, merupakan sebuah perjuangan yang berat dan menuntut kesabaran. “Banyak godaan,” katanya. Selain santri, para pengajar yang berjumlah 8 orang dan 7 diantaranya bujangan itu, kerap kikuk dibuatnya. “Kalau ada PSK yang lewat pesantren, saya sering kikuk. Meski tidak boleh dilihat, namun tetap saja terlihat,”ujar Ustadz bujang lulusan Gontor itu sambil tersenyum.

Aturan ketat dan unik pun dibuat pontren untuk membatasi dan menjaga santri agar tidak terpengaruh dengan lingkungan. Setiap santri tidak boleh melewati batas berupa tiang listrik, persis di sebelah pontren. Batas itulah yang memisahkan Daar At-Taubah dengan lokalisasi Saritem. Jika seorang santri ketahuan melewati batas itu, maka akan dikenai tahzir (teguran). Menurut penuturan seorang santri, Awan (17), tak pernah ada santri yang lewat ke sebelah Utara Gang Hidayat itu, kecuali dalam keadaan terpaksa.” Boro-boro lewat, lihat saja takut,” ujar siswa kelas 2 SMU Pasundan asal Jakarta ini menjelaskan.   

Awan, satu-satunya santri yang mengenyam bangku sekolah dan berasal dari luar Jawa Barat mengatakan, selain aturan yang ketat, santri pun tak punya niat untuk berjalan-jalan di wilayah Saritem. Padatnya jadwal pontren membuat mereka memilih untuk beristirahat dalam kobong (kamar) santri yang berukuran 6 x 3 meter. 

Ada hal yang unik di pontren, saat ini, dakwah speaker gencar dilakukan pontren untuk mencoba memasukkan unsur-unsur spiritual kepada para PSK. Setiap kegiatan yang dilakukan oleh pontren, selalu menggunakan pengeras suara aktif dengan kekuatan volume maksimum. Lantunan ayat suci Alquran, pengajian kitab kuning berbahasa Sunda, sampai suara santri-santri non mukim yang belajar setiap lepas Maghrib, diperdengarkan melalui pengeras suara. “Memaksa” pegiat seks untuk mendengarnya. “Mudah-mudahan mereka tersentuh,”ucap kyai Mamat.  

Program yang dilakukan pontren, seperti dikatakan oleh Dedy Drajat (64), sangat menyentuh dan dapat dikatakan berhasil. Penduduk asli Saritem berputra dua yang kini disekolahkan di North South Wales University, Australia ini, sudah menjadi jamaah pontren sejak tahun pertama keberadaan pontren. Saat ini, Dedy menjadi koordinator majelis taklim bapak-bapak setiap malam Jumat. “Anggotanya ada 45 orang, 25 diantaranya anggota khusus, pemilik usaha dan germo,”ucap Dedy membanggakan hasil kerjanya.  

Walau begitu, Dedy sangat menjaga ketat anggota “khususnya” agar tidak kembali terpengaruh pada kondisi asal. Proteksi bahkan dilakukan Dedy untuk melindungi anggota khususnya dari warga sekitar. Takut warga salah bicara, katanya.  

Selain itu, pontren juga memberikan pengajaran agama melalui program santri non mukim. Jumlahnya, mencapai 80 anak yang berusia antara 5-22 tahun. Waktu belajarnya, selepas Maghrib sampai jam 9 malam, waktu dikala pekerja seks sedang sibuk menerima tamu. “Jam segitu, berisik sekali. Anak-anak kecil susah diatur. Tapi biarlah, biar PSK juga dengar,”ucap Dedy menyisakan sebuah harap.  

Membersihkan sebuah daerah yang berkarat, seperti yang dikatakan kyai Mamat, tidak bisa dilakukan dengan cepat dan tiba-tiba. Membiarkannya berproses secara alami dinilai sebagai langkah yang tepat dan manusiawi. Melalui prose alami yang dilakukan pontren, Mamat menglaim telah berhasil membina 40 orang PSK dalam majelis taklimnya. “Bahkan, satu orang sudah berhenti jadi PSK,”ungkap Mamat. 

Saat ini, guna mendukung program pontren berikutnya, pihaknya tengah mengajukan dana sebesar Rp 6,5 miliar guna perluasan pontren. Merambah lebih ke dalam lokasi prostitusi. Dengan dibelinya lahan tersebut, diharapkan Saritem menjadi bersih. “Sekarang tinggal pemerintah yang berwenang, semakin cepat dana tersebut cair, semakin cepat pula Saritem bersih,”ucap kyai Mamat menjelaskan.  

Ketika ditanya akan pergi kemana para PSK setelah “penggusuran” lokasi prostitusi, kyai Mamat hanya menjawab, semoga mereka kembali ke kampungnya dan jadi orang baik-baik. 

Bagaimanapun nantinya keberadaan PSK, germo, warga, dan pontren, Walikota Bandung Dada Rosada ketika ditemui seusai acara milad ke-4 pontren mengatakan, pihaknya tetap akan memberikan subsidi bulanan kepada pontren sesuai dengan kebutuhannya. Hal itu, kata Dada, merupakan upaya serius pemerintah dalam menghilangkan praktek prostitusi. “Kalau di dunia ada 7 keajaiban dunia. Maka Saritem saat ini adalah keajaiban yang ke-8. Kami akan terus Bantu,”ucap Dada membanggakan keberhasilan pontren. 

Moral dan spiritual merupakan sebuah hal penting yang harus selalu diperhatikan manusia. Tapi bukan berarti moral dan spiritual bisa berdiri sendiri. Seolah tak perlu hal lainnya. ***mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s