depth Saritem..menjawab tantangan

satu lagi kenangan menarik waktu masih kuliah di jurnalistik fikom unpad. depth reporting pak sahala…dosen top luar biasa. kalo gak salah taun 2003, mata kuliah depth reporting…

heheh..pasti pada kaget..gw pernah merasakan 3 hari di lokalisasi pelacuran Saritem…eits nanti dulu..bukan mau nakal2an or iseng sama wanita2 itu..kepaksa..demi gengsi dan kehormatan diri di mata para wartawan republika yang terhormat.

awalnya mas Yul, redaktur Republika Jabar yang ngusulin..sambil nantang, “apa berani kamu dimas?,” kata dia sembari tersenyum melecehkan…hehehe…piss ah mas…dia mulai deh cerita tentang Saritem, masa lalu, dan tantangannya..haiah…

plus dibumbuin bang amir, sekred, yang katanya punya link di sana dan bisa bantu nyelesain depthnya…maka kuterimalah tantangan itu…sedikit mengiyakan, waktu masukin usulan topik sma pak sahala naro diurutan 3 di bawah liputan air, punclut..dan penyandang cacat -terilhami sama didi tarsidi, SLB wyata guna dan dosen UPI yang tuna netra. tadinya mau membela -haiah- mereka. penyandang cacat yang terdiskriminasi….

ternyata…pak sahala..lebih menyukai SARITEM…sulit..berat..tantangannya itu loh…sedikit diskusi sama dia…dan akhirnya dia nanya, “berani dimas?”….panas….mendidih aku….akhirnya kuiyakan sambil mikir gmana caranya bisa selesai depth, dapet nilai A, dan tanpa banyak bersentuhans sama para PSK itu…jadilah demikian….

ini usulan topiknya ke pak sahala. yang jadi bahan buat semuanya…nikmati dulu…utop..dan hasil tulisannya…di belakang layarnya…nanti…nanti saja…sambil sedikit mengumpulkan memori yang tersisa…nikmati dulu…sip..sip

Dimas Aditya Nugraha                                                                                                              K1A00073 

Rancangan Rencana Pelaporan Mendalam

Topik :

Masihkah Tersisa Saritem ? 

Alasan pemilihan topik :

Tak ada yang tak mengenal Saritem. Sebuah kawasan kecil di sebelah Barat Bandung yang dulu dikenal sebagai daerah ‘gelap’ penuh pramunikmat. Semenjak berdirinya sebuah pesantren, perlahan noda hitam Saritem mulai memudar. Mencoba membersihkan nama, yang telah coreng moreng akibat ulah manusia yang hanya mencari kesenangan sesaat.

Kini, tak banyak yang tahu keberadaan Saritem. Bersisa sebuah harap, pesantren tersebut dapat menyulap Saritem menjadi sebuah perkampungan orang-orang yang bertaubat (daarut taubah). Pesantren tersebut dapat menjadi sebuah telaga bagi masyarakat sekitar yang mulai terpengaruh oleh keberadaan Saritem.

Melirik keberadaan Saritem cukup menarik. Pasalnya, ia dan 2 saudara kembarnya, Ciromed dan Nyalindung merupakan proyek pertama dan utama dari R.A Nuriana, Gubernur Bandung. Nuriana bercita-cita mewujudkan Bandung sebagai kota yang berada dalam naungan ilahi, bersih dari tempat maksiat. Nuriana pun sepertinya tak main-main untuk mewujudkan cita-citanya.

Tak kurang Rp 3 miliar dikeluarkan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk membebaskan tanah seluas 2.000 m2, di wilayah RW 7 Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir ini.  Untuk masjid dan pesantren, sang walikota, A’a Tarmana pun mengeluarkan Rp 1,1 miliar untuk pembangunannya.

Entah, harapan apakah tinggal menjadi sebuah harapan. Penyakit Saritem tanpaknya sulit dicarikan obatnya. Ia telah menjadi semacam candu bagi masyarakat sekitarnya. Ketergantungan yang akut dan semakin menjadi di masa krisis moneter yang berkepanjangan.

Di tengah kegalauan dan keinginan memenuhi hasrat perut, rumah-rumah penduduk di Saritem, berubah menjadi “kios kenikmatan”, pelepas rindu pria-pria kesepian dan wanita penjaja cinta. Alasannya, memang sederhana, masalah ekonomi. Masalah yang selalu menjadi biang penyakit bagi manusia yang tak kebal dengan godaannya.

Masalah itu pun menjangkiti penduduk di wilayah Saritem. Di sisi lain, pengobatan Saritem versi Nuriana dan Tarmana, sepertinya mendapat godaan yang lumayan berat dari para aktivis AIDS/HIV. Secara cuma-cuma, dengan alasan mencegah penularan AIDS di Jawa Barat yang berada di urutan 5 nasional, para aktivis AIDS “bergerilya” membagikan kondom di Saritem.

Terlebih saat ini, terdengar isu pemkot akan mencabut dana subsidi sebesar Rp 10 juta  yang rutin diberikannya pada pihak pesantren tiap bulan. Apa lagi yang akan terjadi pada Saritem ? Ah, kompleks nian masalah yang satu ini.

Tujuan dan motif :

1.  Menyajikan sebuah informasi mengenai permasalahan tak terselesaikannya ‘kasus’ Saritem.

2.  Himbauan kepada pemerintah untuk melakukan pengawasan dan menuntaskan masalah Saritem. Kalau bisa seluruh wilayah pelacuran yang ada.

3.  Selisik permasalahan sosial yang terjadi di tempat tersebut, awal, solusi, dan mencari potensi lain yang bisa dikembangkan.  Kesimpulan Sementara :

1. Sejak berdirinya pesantren daarut taubah, Mei 2000, pemkot sudah membuat perjanjian untuk tidak lagi menyubsidi dana pengelolaan pesantren setelah 3 tahun. Saat ini, memasuki tahun keempat, bagaimana pengelolaan pesantren tersebut. Bagaimana kinerjanya ? Padahal, pesantren ini menjadi satu-satunya harapan bagi Saritem untuk berubah. NB : Dulu saritem disubsidi Rp 10 juta per bulan.

2.      Pemkot akan menarik uang subsidi bagi pesantren dengan alasan pesantren tak menjalankan tugas dengan baik. Lalu, apakah pemerintah hanya dapat membangun dan tidak dapat mengawasi atau minimal membimbing pesantren ini. Apa kerja pemerintah ? Dimana pengawasannya ?

3.  Santri pesantren berasal dari luar daerah. Bagaimana dengan penduduk 3 RW yang justru menjadi efek terbesar Saritem ? Bagaimana rhabilitasinya ?

4. Selentingan gosip menyebutkan, ada kasus yang sangat menyedihkan, ibu melacur sementara anak belajar di pesantren. Mengapa hal itu terjadi, apa latar belakang ada pelacuran lagi ? Katanya, pemerintah buat lembaga pelatihan untuk PSK, lantas apa kegiatannya ?

5. Bandingkan dengan Nyalindung dan Ciromed, apa yang salah dengan Saritem ?

6. Gerilya aktivis AIDS begi-bagi kondom gratis. Membantu ataukah bertolak belakang dengan program pengentasan pelacuran. Kabarnya ada clash antara pesantren dengan aktivis AIDS. 
 

Nara sumber :

a. K.H. Iman Sonhaji, Kepala pesantren sekaligus menjabat Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren Kota Bandung.

b.  Warga sekitar.

c.  Santri

d.  Departemen agama.

e.  Pemkot.

f.  Pekerja Seks Komersil (PSK)

g. Sosiolog, Antropolog, dan Psikolog.

h.  Aktivis AIDS / HIV.  Daftar Pertanyaan :

a.  K.H. Iman Sonhaji, Kepala pesantren sekaligus menjabat Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren Kota Bandung.Keadaan pesantren, asal santri, kegiatan, partisipasi masyarakat, penggunan dana awal dan bulanan, apakah ada pengawasan dari pemerintah, kalau ada apa saja, efektifkah. Ceritakan juga tentang clash dengan aktivis AIDS.

b.  Warga sekitarTanya imbas dan fakta lapangan aktivitas Saritem, masih tersisakah PSK, apa tanggapan warga, atau mungkin malah ada warga yang terlibat dalam bisnis “esek-esek” ini

c.    SantriTerpengaruh atau mempengaruhi, suka duka, bagaimana kegiatan dakwah di Saritem,

d.   Departemen agama.Pola pembinaan pesantren dan PSK, efektifkah, pengawasan selama ini bagaimana, kemudian bagaimana pengawasannya ketika subsidi dana diambil, jalan keluarnya.

e.  Pemkot. Masalah dana dulu, sekarang, dan akan datang. Pengawasan dana seperti apa, mekanise konrol, dan lainnya. Rencana pengembangan Saritem berikutnya. Kesalah apa yang terjadi sehingga Saritem tak seperti Ciromed atau Nyalindung.

f.   Pekerja Seks Komersil (PSK) baik yang mantan atau masih ‘menjabat’. Kisah seputar kehidupannya ? Masihkan seperti dulu ? Berapa pendapatannya saat ini ?

g. Antropolog, Sosiolog dan Psikolog.Fenomena pesantren di Saritem, efktifkah. Bagaimana analisis berikutnyah.      Aktivis AIDS / HIV. Apa saja kegiatannya, clash dengan pesantren apa masalahnya, apa pembelaan para aktivis  

Tulisan :1.      Tulisan utama : “Ada Telaga di Saritem”, sedikit kilas balik pesantren, yang terjadi saat ini, dana dari pemkot, pemeliharaan, kondisi fisik saritem, aturan susila pemerintah.

2.      Feature kehidupan di Saritem, PSK, warga, dan santri, berbaur menjadi satu.

3.      Feature atau wawancara sosiolog, pikolog, dan antropolog.

4.      Feature kisah PSK

5. Feature malasah di Saritem, mulai dari aktivis AIDS sampai “kecanduannya” masyarakat terhadap Saritem. Plus rumah kontrakan remang-remang.

6.      Box penggunaan dan alokasi dana awal dan subsidi bulanan  Jadwal :

·     Lima hari temukan fakta di lapangan, benarkah asumsi yang ada. Cari kondisi nyata saat ini.

·    Lima hari berurusan dengan birokrat, semuanya.

·   Dua hari wawancara pakar

·   Dua hari membuat laporan 

Biaya :

Transportasi dan komunikasi                 : Rp 75.000

“Bingkisan” untuk PSK atau warga         : Rp 50.000

Kaset, baterai, dan dokumentasi           : Rp 50.000

Dana tak terduga                               : Rp 50.000

One thought on “depth Saritem..menjawab tantangan

  1. Akhirnya ada juga yang bahas topik ini di internet. Yg nyantri di darud taubah kebanyakan anak2 muda dari daerah ya, dan hampir semua santrinya laki2. Yang lebih parah, salah satu lokalisasi tergede disitu adalah selang 3-4 rumah dipinggir pesantren tersebut. ( emang pesantrennya sengaja dibuat disitu ya ). Tapi kayaknya gak ada pengaruh sama sekali.

    kalo kata gua Solusi terbaik sih paling buat lahan kerja dengan tenaga kerja khusus harus dari saritem dengan gaji buka yang sebanding dengan penghasilan disana dan dapat asrama serta training intensif gratis.

    kalo di training sehari doang sih susah, dah terlanjur enak idup di sana.

    Efek psikologis akan dihadapi oleh anak2 kecil yg tinggal disana, mungkin mereka akan menganggap biasa dengan adanya pelacuran dan akan cenderung lebih membenarkan tindakan2 asusila tersebut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s