Posted by: dimasnugraha | October 4, 2007

wwc parni hadi

Direktur Utama LPP RRI 

Parni Hadi 

“Asal Diberi Kebebasan Berkreasi, Pasti Bisa Berubah” 

Khawatir, kata itulah yang paling tepat menggambarkan perasaan Parni Hadi ketika diminta menjabat Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI). Bagaimana tidak, puluhan tahun RRI menjadi corong pemerintah dalam menyiarkan kebijakan.

Pun sumber daya manusianya punya stigma negatif yang konon jauh dari kata kerja dan kreatif. “ Kalau sudah puluhan tahun menjadi organ pemerintah, saya pikir sangat sulit dirubah mentalitasnya,” kata dia yang juga wartawan senior ini serius. 

Lantas sudah seberapa jauhkan perubahan pada lembaga yang dulu kental dengan kepanjangan tangan pemerintah ini? Sudahkan menjadi lembaga penyiaran yang memihak dan memenuhi kebutuhan informasi untuk publik? Atau masih berkutat dengan masalah klasik, birokrasi?  

KomunikA berkesempatan mewawancarai mantan kepala LKBN Antara ini di ruang kerjanya di Jl. Merdeka Barat, Jakarta. Berikut petikannya :  

Sudah dua tahun LPP RRI, perubahan mendasar apa yang sudah dilakukan? 

Saya rasa produk RRI sudah banyak berubah. Orang tidak melihat status apakah RRI berupa Perjan atau LPP, tetapi melihat produk yang berupa program siarannya. Saya melihat telah terjadi perubahan besar di RRI. Saat ini RRI semakin meneguhkan dirinya bukan lagi corong pemerintah.  

Apa cirinya?  Read More…

Posted by: dimasnugraha | October 4, 2007

wwc Mohammad Nuh

Mohammad Nuh

Menteri Komunikasi dan Informatika RI 

“Tahun Kebangkitan Teknologi Informasi Indonesia” 

Orang bilang, abad 21 adalah abadnya teknologi. Abad di mana tak ada lagi batas ruang dan waktu. Semua tersambung dengan seutas serat tipis fiber optic setebal sepersekian milimeter. Dan segala penjuru dunia akan menyatu dengan teknologi.  

Indonesia mau tak mau harus mengikuti waktu yang berputar dan dunia yang berkembang. Memang masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan, mulai dari faktor budaya dan pola pikir moderen sampai kesenjangan digital yang menuntut untuk dirunut.  

Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) sebagai institusi yang salah satunya berwenang menangani masalah Teknologi Informasi (TI) atau karib disebut Information and Communication Technology (ICT) pun terus berbenah.  

”Tahun depan bersamaan dengan momen seratus tahun kebangkitan nasional, akan pula menjadi simbol kebangkitan Indonesia dibidang teknologi informasi,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika, Mohammad Nuh.  

Lantas apa yang saja yang sudah, sedang, dan akan dilakukan Depkominfo untuk mewujudkan hal tersebut? KomunikA berkesempatan mewawancarai mantan Rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS) ini di ruang kerjanya, di Jl. Merdeka Barat 9, Jakarta.  

Berikut petikan wawancaranya :  

Apa yang sedang dilakukan Depkominfo saat ini? 

Kami coba melakukan percepatan program yang tengah berjalan dan juga melakukan penataan ke dalam (set up). Departemen ini kan baru, gabungan dari eks Deppen (Departemen Penerangan –red), LIN (Lembaga Informasi Nasional), dan Postel (Ditjen Pos dan Telekomunikasi, sebelumnya di bawah Departemen Perhubungan – red).  

Karena tugas departemen ini semakin kompleks, khususnya dunia Teknologi Informasi (TI) atau dikenal Information and Communication Technology (ICT), sedang booming. Sehingga cara kerjanya pun masih perlu penghalusan.   Read More…

Posted by: dimasnugraha | October 4, 2007

wwc Jero Wacik

Wawancara Jero Wacik, DPR, setelah diksusi RUU Pariwisata, Senin, 16 Juli 2007. 17.45 WIB 

Bagaimana peluang industri MICE di Indonesia?

Jadi MICE adalah suatu industri yang akan besar sekali. Jadi kalau kita bisa bikin 1000 MICE efeknya akan luar biasa pada sektor pariwisata. Singapura sudah ada seribu event. Kita dulu pernah sampai 200 dalam setahun. Dan sekarang untuk mengejar angka 200 itu, kayaknya kita bisa. Baik yang besar, menengah, atau kecil.

Apa bedanya MICE dengan turis biasa? Kalau MICE, waktu kunjungnya sudah terjadwal. Misal harus rapat di Jogja tiga hari. Sudah di arrange dari setahun lalu, ada pertemuan anu di Jogja. Dia harus ke sana, mau dibilang ada travel warning, larangan pesawat, gak peduli. Dia musti ke sana. Kalau dilarang, pasti dia cari pesawat lain, karena ada jadwal rapat yang musti dipenuhi. Itu bedanya.

 Beda dengan orang leissure, hanya piknik biasa. Begitu ada sedikit gangguan, gak jadi. Tapi kalau MICE, gak bisa gak jadi. Musti pergi. 

Apa yang sudah dilakukan untuk pengembangan MICE?

Nah sekarang saya akan menyebar MICE ini ke seluruh Indonesia. Seperti Menado, Makasar, Padang, Medan, Plaembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Jogja, Solo, Surabaya, Malang, Bali. Kalau meeting untung 500 – 1000 orang, Menado dan Makasar juga bisa. Sudah ada kamar untuk sekian orang. Ada Ball Room, Convention Centre.

 Kalau meeting-nya yang kelas dunia, mega, jumlahnya 5000-10.000 orang, yang bisa baru dua kota, Jakarta dan Bali. Karena mencari 5.000 kamar, susah. Bukan kerjaan gampang.

Apalagi biasanya MICE long stay. Jadi MICE sangat penting sekali bagi pariwisata, tingkat hunian akan tinggi kalau MICE di mana-mana.

  

Langkah-langkah apa untuk meningkatkan MICE?

Pertama, kami sudah bikin derektorat MICE. Kedua, kita sedang menginventarisasi di mana MICE yang sudah event. Jadi departemen-departemen yang sudah rencana punya rapat di Indonesia, kita inventarisir. Katiga, mendorong instansi dan asosiasi untuk menarik MICE dari seluruh dunia. Ngajak orang bikin event di sini. Biding, menawarkan.

Kalau orang lagi cari tempat, misalnya ikatan ahli mata sedunia, mau rapat. Kita tawarkan, Indonesia..Indonesia..Indonesia.

  

Desember ada hajatan besar, Global Climate Change?

Itu yang paling besar. 10.000. Sudah kita siapkan. Nanti September ada lagi, Patamar (?). Di Bali juga, sekitar 5000an. Yang kecil-kecil di Jogja, Makasar, minggu depan ada.

  

Budget anggaran yang disiapkan khusus untuk MICE?

Sekarang anggaran yang kita punya adalah untuk menyubsidi biding. Karena pemerintah kan tidak mengatakan MICE, yang mengatakan kan swasta. Pemerintah 1 atau 2 event MICE saja. Jadi untuk swasta, kita menyubsidi biding. Walau yang sebenarnya menjadi pelaku biding adalah departemen-departemen. Mereka biding kepada asosiasi. Atau asosiasi itu sendiri yang biding kepada internasional. Misal di sini ada asosiasi ahli mata se Indonesia. Mereka menawarkan kepada asosiasinya, eh tahun depan, konferensi internasionalnya di Indonesia. Mereka yang menawarkan. Nah itu saja mereka biding. Kalau kita tawarkan Jakarta dan Bali, sebenarnya pasti dapat.

Apalagi Bali tahun ini dapat award sebagai The Best Destination Island se dunia mengalahkan semua pantai, mulai dari yang namanya Puket, Langkawi, Hawaii. Jadi, obyek wisata pulau terbaik sedunia adalah Bali. Diumumkannya di Amerika Serikat.

  

Dari sisi infrastruktur, kita ketinggalan?

Read More…

Posted by: dimasnugraha | August 20, 2007

radio Rodja streaming

buat yang mau denger radio islam…langsung aja ke radio rodja di 756 AM…radio dakwah dan tilawah…walo AM suaranya oke punya..bersih..dan jangkauan siarnya lumayan jauh…bisa juga di streaming di http://rodja.sytes.net:8000/listen.pls

buat jadwal kajian klik aja di sini

« Newer Posts - Older Posts »

Categories