Wawancara Jero Wacik, DPR, setelah diksusi RUU Pariwisata, Senin, 16 Juli 2007. 17.45 WIB
Bagaimana peluang industri MICE di Indonesia?
Jadi MICE adalah suatu industri yang akan besar sekali. Jadi kalau kita bisa bikin 1000 MICE efeknya akan luar biasa pada sektor pariwisata. Singapura sudah ada seribu event. Kita dulu pernah sampai 200 dalam setahun. Dan sekarang untuk mengejar angka 200 itu, kayaknya kita bisa. Baik yang besar, menengah, atau kecil.
Apa bedanya MICE dengan turis biasa? Kalau MICE, waktu kunjungnya sudah terjadwal. Misal harus rapat di Jogja tiga hari. Sudah di arrange dari setahun lalu, ada pertemuan anu di Jogja. Dia harus ke sana, mau dibilang ada travel warning, larangan pesawat, gak peduli. Dia musti ke sana. Kalau dilarang, pasti dia cari pesawat lain, karena ada jadwal rapat yang musti dipenuhi. Itu bedanya.
Beda dengan orang leissure, hanya piknik biasa. Begitu ada sedikit gangguan, gak jadi. Tapi kalau MICE, gak bisa gak jadi. Musti pergi.
Apa yang sudah dilakukan untuk pengembangan MICE?
Nah sekarang saya akan menyebar MICE ini ke seluruh Indonesia. Seperti Menado, Makasar, Padang, Medan, Plaembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Jogja, Solo, Surabaya, Malang, Bali. Kalau meeting untung 500 – 1000 orang, Menado dan Makasar juga bisa. Sudah ada kamar untuk sekian orang. Ada Ball Room, Convention Centre.
Kalau meeting-nya yang kelas dunia, mega, jumlahnya 5000-10.000 orang, yang bisa baru dua kota, Jakarta dan Bali. Karena mencari 5.000 kamar, susah. Bukan kerjaan gampang.
Apalagi biasanya MICE long stay. Jadi MICE sangat penting sekali bagi pariwisata, tingkat hunian akan tinggi kalau MICE di mana-mana.
Langkah-langkah apa untuk meningkatkan MICE?
Pertama, kami sudah bikin derektorat MICE. Kedua, kita sedang menginventarisasi di mana MICE yang sudah event. Jadi departemen-departemen yang sudah rencana punya rapat di Indonesia, kita inventarisir. Katiga, mendorong instansi dan asosiasi untuk menarik MICE dari seluruh dunia. Ngajak orang bikin event di sini. Biding, menawarkan.
Kalau orang lagi cari tempat, misalnya ikatan ahli mata sedunia, mau rapat. Kita tawarkan, Indonesia..Indonesia..Indonesia.
Desember ada hajatan besar, Global Climate Change?
Itu yang paling besar. 10.000. Sudah kita siapkan. Nanti September ada lagi, Patamar (?). Di Bali juga, sekitar 5000an. Yang kecil-kecil di Jogja, Makasar, minggu depan ada.
Budget anggaran yang disiapkan khusus untuk MICE?
Sekarang anggaran yang kita punya adalah untuk menyubsidi biding. Karena pemerintah kan tidak mengatakan MICE, yang mengatakan kan swasta. Pemerintah 1 atau 2 event MICE saja. Jadi untuk swasta, kita menyubsidi biding. Walau yang sebenarnya menjadi pelaku biding adalah departemen-departemen. Mereka biding kepada asosiasi. Atau asosiasi itu sendiri yang biding kepada internasional. Misal di sini ada asosiasi ahli mata se Indonesia. Mereka menawarkan kepada asosiasinya, eh tahun depan, konferensi internasionalnya di Indonesia. Mereka yang menawarkan. Nah itu saja mereka biding. Kalau kita tawarkan Jakarta dan Bali, sebenarnya pasti dapat.
Apalagi Bali tahun ini dapat award sebagai The Best Destination Island se dunia mengalahkan semua pantai, mulai dari yang namanya Puket, Langkawi, Hawaii. Jadi, obyek wisata pulau terbaik sedunia adalah Bali. Diumumkannya di Amerika Serikat.
Dari sisi infrastruktur, kita ketinggalan?
Read More…