Padang Baralek Gadang, Pesta Pun Digelar
Hari itu, Rabu, 20 Desember, ada keramaian yang tak biasa di halaman kantor Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Padang. Masyarakat tampak memadati area pelataran parkir. Sementara di pojok-pojok halaman, tampak pedagang asongan yang sibuk menangguk rizki, memanfaatkan situasi yang ada. Sebuah perhelatan akbar yang lama tak digelar, membuat semua mata tertuju ke sana.
Namanya sepintas aneh, “Alek Gadang”, pesta adat pernikahan yang hanya ada di Ranah Minangkabau. Tak banyak yang bisa menggelar “resepsi” perkawinan ala Minang ini. Bukan karena status sosial ataupun semisalnya, melainkan hanya masalah ketersediaan biaya.
Untuk menggelar prosesi ini, selain harus melalui proses yang panjang, jamuan yang disajikan pun tak sembarangan. Ada menu khusus yang harus disajikan kepada para tamu undangan, ya.. minimal sapi dan kerbau harus tersedia.
Tak hanya itu, “Alek Gadang” tak bisa hanya dilakukan sehari saja. Sedikitnya butuh 2-3 hari untuk menuntaskan syarat prosesi adatnya. Mulai dari malam bainai, babako, pernikahan, kemudian dilanjutkan dengan pesta. Soal hiburannya pun tak main-main, made in Minang, kesenian tradisional seperti Saluang, Talempong, Rabab, Randai dan lainnya siap menghibur para tamu selama beberapa hari.
Gelaran Dimulai
Sebelas pasang pengantin yang berasal dari beberapa kecamatan di Padang ini termasuk yang beruntung dapat ikut ambil bagian dalam pesta adat ini. Terlebih Walikota Padang Drs.H. Fauzi Bahar, MSi tampil menjadi ‘’orang tua’’ dari 11 anak daro (pengantin wanita) dan Wakil Walikota Padang Drs. H. Yusman Kasim menjadi “orang tua” dari 11 Marapulai (pengantin pria) yang mengakhiri masa lajangnya
“Senang, juga tegang,” ucap salah seorang peserta mengungkapkan perasaannya.
“Alek Gadang” yang baru dilakukan serentak dan beramai-beramai serta pertama kali dilakukan dengan biaya Pemerintah Kota Padang ini dimulai sehari sebelum pesta digelar, yaitu dengan pesta “malam bainai” di tempat pengantin wanita. Sedangkan para pengantin pria mengikuti prosesi ‘batagak gala’ di kediaman resmi Wakil Walikota.
Dua ekor sapi berhiaskan umbul-umbul permintaan “anak daro” serta tanda bawaan juga diantarkan dengan iring-iringan rombongan pengantin pria menuju rumah “orang tua” “anak daro”, di kediaman Walikota Padang.
Dalam prosesi “adat babako” ini juga, disiarkan kabar kepada paman dan sanak famili tentang acara pernikahan tersebut. Isi dari “kaba” tersebut, ponakan gadis mereka akan menikah dengan seorang lelaki yang dicintainya. Dalam prosesi itu juga sanak famili dapat memberikan bantuan baik kerbau, sapi, kambing atau lainnya untuk perhelatan pernikahan. Tergantung dari kemampuan masing-masing.
Esoknya, acara dimulai dengan nasehat perkawinan dari ‘angku kali’ yang dilanjutkan dengan pembacaan ijab kabul dan mohon doa restu dari kedua orang tua penganten. Tak ayal suara sedu tangisan dan deraian air mata mewarnai prosesi ini.
“Mereka selama ini di bawah naungan orang tua. Setelah pernikahan, masing-masing memulai lembaran baru, hidup mandiri, berumah tangga. Tak terpikir pernikahan dilangsungkan di rumah walikota, pemimpin kota ini. Pun biaya pernikahan ditanggung Pemko Padang” tutur salah satu orang tua pengantin.
Acara dilanjutkan dengan nasehat dari Walikota Padang. Ia menasehatkan kepada para penganten agar memperhatikan lima hal dalam hidup, yaitu melaksanakan perintah Allah, membina rumah tangga, melanjutkan keturunan, menjaga hawa nafsu dan, mempererat hubungan silaturahmi dengan manusia. Kelimanya harus dipedomani dengan baik.
Pelestarian Budaya
Sebenarnya upaya pelestarian adat budaya sudah dilakukan dengan memberikan muatan lokal bermateri Budaya Alam Minangkabau (BAM) di Sekolah Dasar (SD). Hanya saja, pengajarannya, diakui, Walikota Padang, Fauzi Bahar, masih sebatas teori.
“Jadi melalui Baralek Gadang, semua prosesi dilaksanakan, mulai dari malam ba inai, babako, pernikahan dan pesta pernikahannya. Kita lestarikan adat budaya, pernikahan Minang. Kita akan jadikan kegiatan ini sebagai kalender tahunan Dinas pariwisata dan Budaya Kota Padang. Kapan perlu kita selenggarakan dua kali setahun,” ujarnya.
Ya, semoga kelestarian budaya bangsa seperti “Alek Gadang” ini dapat terwujud di tengah globalisasi yang terus mengalir deras. (Irwan Rais-staf Humas Pemko Padang/edited by dimas@bipnewsroom.info)
Mohon dukungannya untuk project pendokumentasian secara online lirik-lirik lagu minang periode 1950-1995
Info selanjutnya silahkan klik link berikut ini
http://laguminanglamo.wordpress.com/about/
dan
http://laguminanglamo.wordpress.com/undangan-berkontribusi/
By: Fadli on July 30, 2007
at 1:10 pm
ayo kita lestarikan budaya kita sebelum dicuri orang
http://sutanmudo.co.cc
By: catra on May 14, 2008
at 1:41 pm
semoga tahun ini baralek gadang pemko padang digelar lagi, tapi kalau tahun lalu yang baralek 11 pasang, bagaimana kalau tahun ini yang di alek kan 22 pasang,,,,,
By: ade maqri lubis on May 16, 2008
at 6:17 am
Impian saya menjadi bagian dari Baralek Gadang dengan mendapatkan Marapulai yang sekarang saya rindukan nun jauh dimata.
By: Maria Ulfa on March 11, 2009
at 1:59 am