Tulisan 1 : Masihkah Tersisa Saritem?

Masihkah Tersisa Saritem ? 

Karat Saritem yang berusia 2 abad, masih bersisa dalam 4 tahun keberadaan pontren 

Sepintas gang-gang kecil berukuran lebar 3,5 meter itu, tak ubahnya seperti daerah-daerah di pemukiman padat penduduk lainnya. Rapat, kumuh, dan kurang sinar matahari. Namun pandangan orang mungkin akan berubah setelah mendengar kata Saritem untuk mengidetifikasi gang tersebut.  Terlebih setelah matahari mulai naik ke sepenggalan kepala, saat kumpulan gadis cantik berdandan menor dan berpakaian seksi mulai bercanda dan tertawa centil di depan rumah-rumah berlantai dua.

 

Penduduk Bandung mana yang tak mengenal Saritem. Sebuah nama yang besar dengan gadis-gadis cantik yang bisa diajak “bermain” dengan ongkos Rp 50.000 – Rp 200.000 per jam. Sebuah kawasan strategis dekat pusat kota yang sejak abad ke-18 terkenal sebagai daerah hitam penuh pramunikmat. Sebuah daerah yang menurut Sosiolog Universitas Padjadjaran (Unpad), Budi Radjab, daerah yang paling pesat perkembangannya kala itu. Berkembang sebagai efek ikutan dari daerah jalur transportasi, stasiun kereta api, Stasiun Hall.  

Selain itu, menurut Budi, daerah Bandung yang terkenal dengan Parijs van Java-nya, juga merupakan daerah tempat wisata sinyo-sinyo Belanda yang datang dari seluruh penjuru nusantara. Tak heran, nama Saritem pun tersohor hampir di seluruh negeri. Disejajarkan dengan nama-nama besar lokasi prostitusi semisal, Kramat Tunggak Jakarta, Gang Doli Surabaya, Pasar Kembang Yogyakarta, dan Sunan Kuning Semarang.  

“Berdasarkan informasi yang saya terima, dulu saat malam tiba, Saritem seperti pasar malam. Bahu ketemu bahu,”jelas Budi menggambarkan keadaan Saritem tempo dulu.  

Bahkan, ungkap Hadi, ramainya Saritem masih terlihat sampai tahun 80-an. Mulai surut sejak krisis moneter melanda negeri ini di tahun 1997. Selain itu, dikeluarkannya surat keputusan oleh satuan polisi pamong praja yang menyatakan ditutupnya lokasi Saritem, juga menyebabkan berkurangnya tingkat keramaian Saritem. Sejak itu pula, ungkap Hadi, komplek pelacuran mulai terdesak dan menelusup ke gang-gang kecil di Saritem, berbaur dengan pemukiman warga masyarakat.

 

Perubahan citra Saritem beranjak berubah senjak berdirinya sebuah pondok pesantren (pontren) bernama Daar At Taubah, 2 Mei 2000 “Dulu ketika ada yang tahu rumah saya di Saritem, orang pasti berpikir macam-macam. Sekarang, lebih banyak yang tanya keberhasilan pesantren di lokasi pelacuran,”ucap Abdullah (63), tokoh masyarakat Saritem yang sudah tinggal di daerah tersebut sejak tahun 1956. 

Pendirian pontren, menurut penanggung jawab Daar At Taubah, KH Imam Shonhaji (65), tercetus pada tahun 1998. Ketika itu, terjadi gerakan reformasi besar-besaran di seluruh negeri, termasuk keinginan untuk mereformasi akhlak dan moral. Maklum, Saritem yang sudah berkarat usianya menjadi tertuduh utama rusaknya moralitas masyarakat Bandung. Setidaknya, kata kyai yang juga Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kota Bandung, anggapan itu muncul dari organisasi masyarakat dan lembaga-lembaga kajian ke Islaman. Mendirikan pesantren di lokasi hitam, menurut Shonhaji merupakan sebuah kebiasaan yang dicontohkan oleh Wali Songo dahulu. Sunan Ngampel di Gresik kemudian pontren Lirboyo, Tebu Ireng, bahkan pontren Sukamiskin miliknya yang dibangun tahun 1970 juga merupakan daerah bekas lokasi hitam.  

“Menurut fakta sejarah, pontren dapat menyembuhkan penyakit sosial masyarakat secara perlahan tapi pasti,”ujar Ketua Nahdhatul Ulama (NU) Kota Bandung itu ketika ditemui seusai memberikan sambutan pada milad ke-4 pontren Daar At Taubah yang dilaksanakan 4 Mei, beberapa waktu yang lalu.  

Keinginan memberantas penyakit Saritem, tentu saja disambut oleh Gubernur Jawa Barat kala itu, R Nuriana. Nuriana, kata sang kyai, lelah dengan ketidakberhasilan razia yang dilakukan oleh pemerintah kota (pemkot) Bandung. Sekali razia pemerintah harus mengeluarkan dana sebesar 6 juta Rupiah dengan hasil yang kurang memuaskan. PSK kembali beroperasi setelah satu minggu razia. Maklum, rumah-rumah itu bersertifikat hak milik.  

Nuriana saat itu sedang mencari sebuah solusi melalui pendekatan lain yang lebih manusiawi. Pendekatan yang hanya bisa diraih melalui pendekatan moral dan spiritual. Menelurkan sebuah program yang bertujuan menjadikan Bandung sebagai kota di bawah naungan ilahi. Menjadikan Bandung sebagai kota yang bebas dari tempat-tempat maksiat.

 

Tiga lokasi pelacuran, Nyalindung di Sumedang, Ciromed di Tanjung Sari, dan Saritem di Bandung dijadikan target utama program ini. Masjid Ciromed dan Masjid Nyalindung berdiri tegak saat ini. Menggantikan tawa-tawa centil wanita penggoda dengan lantunan ayat-ayat suci Alquran. Sementara, di Saritem, atas prakarsa Shonhaji, didirikan Pontren Daar At Taubah yang dikalangan pejabat pemerintah disingkat DT, singkatan yang sama dengan pontren pimpinan kyai karismatik, Abdullah Gymnastiar.  

Nuriana rupanya tidak main-main dengan cita-citanya. Tak kurang Rp 3 miliar digelontorkan dari kas Pemkot Bandung.. Dana itu, rencananya akan digunakan untuk membebaskan tanah seluas 2000 meter persegi di jantung lokasi pelacuran Saritem. Pos anggaran, yang menurut anggota Komisi E, Ir Endrizal Nazar, merupakan dana hibah yang tidak memerlukan evaluasi dan pertanggungjawaban khusus. “Dari Rp 450 miliar dana untuk Kota Bandung, Rp 116 milar diantaranya merupakan dana hibah. Sesuai sifatnya, hibah ini tidak perlu pertanggungjawaban khusus,”ucap anggota legislatif dari Partai Keadilan (PK) ini menuturkan.  

Pontren, menurut Endrizal direalisasikan karena pemerintah sampai saat ini belum mempunyai program yang jelas di bidang ekonomi dalam menanggulangi penyakit Saritem. Walau begitu, Endrizal menolak anggapan, pemerintah terlalu menyimplifikasikan permasalahan di Saritem. Melulu menganggap permasalahan Saritem adalah soal moral. Menurutnya, banyak aspek yang menyebabkan adanya penyakit di Saritem, moral dan ekonomi adalah salah satunya.

 

Untuk tahap pertama penyelesaian penyakit Saritem, sebuah rumah bordil seluas 226 meter tepat di jantung Saritem milik germo “lokal” dibeli dengan harga  Rp 2 juta per meter. Niat awal membebaskan tanah 2000 meter urung dilakukan, karena dengan tiba-tiba warga menaikkan harga tanah 2 kali lipat. Harga total tanah plus bangunan, kata Shonhaji, mencapai angka Rp 450 juta. Kemudian untuk rehab bangunan, menghabiskan dana Rp 100 juta. Semuanya dari anggaran pemerintah kota Bandung.  Nuriana sendiri turut menyumbang  Rp 1 miliar untuk rehab tahap kedua, membangun pontren seperti bentuk saat ini.  

Pembangunan pontren yang jor-joran menyisakan sebuah harap bagi warga sekitar, pondok tersebut dapat menyulap penyakit Saritem yang karatan menjadi sebuah daerah yang lebih Islami dan tempat “menyadarkan” para OBH (obral bujur hideung), -meminjam istilah Nuriana dalam menyebut PSK- untuk benar-benar bertobat. 

Walau pembangunan pontren tersebut terkesan manusiawi, tetap saja belum bisa menyelesaikan masalah. Seperti yang dikatakan Budi Radjab, “Masalah Saritem lebih besar dari sekedar masalah moralitas,”.  

Dosen berputra satu ini tidak menampikkan moralitas sebagai salah satu masalah yang turut bermain dalam kasus Saritem. Hanya saja, ada sebuah tahapan yang harus dilakukan sebelum beranjak pada permasalahan moral dan spiritual. 

Budi mengatakan, permasalah Saritem merupakan sebuah masalah klasik yang menimpa di seluruh tempat, yaitu permasalahan ekonomi. Seharusnya, solusi yang diberikan adalah membuka kesempatan kerja bagi masyarakat. Hanya saja pemerintah terlalu menyimplifikasikan masalah, menganggap semua permasalahan dapat diselesaikan dengan solusi moral. “Kalau masalah moral dan agama, saya yakin PSK atau pelaku kriminal itu tahu, perbuatan mereka salah. Hanya saja mereka terpaksa melakukannya,”jelas Budi dengan nada serius.

 

Permasalahan lain yang disesalkan oleh Budi adalah masih tidak konsistennya pemerintah untuk menegakkan hukum di Saritem. Pada tahun 1998, pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan keputusan untuk menutup pelacuran di Saritem. Penutupan yang bersifat politis dan terkesan dibuat-buat, karena Saritem sendiri tidak pernah dibuka atau dilokalisasikan oleh pemerintah. Penutupan yang hanya dibuat untuk mencegah dibakarnya kawasan itu oleh ormas-ormas Islam yang menentangnya.  

Bagaimanapun proses keputusan itu, menurut Budi, seharusnya pemerintah bertindak tegas. Menangkap para pelaku atau yang terlibat dengan pelacuran. Bukan dengan mencari alasan dan solusi lain, dengan membangun pontren dengan alasan melalui pendekatan manusiawi. “Kalau hukum dipandang abu-abu, masih didominasi moral dan manusiawi, tidak akan pernah tegak hukum di Indonesia,”ujar Budi kesal.  

Budi juga menyinyalir adanya pungutan retribusi ilegal sebagai biang tak tegasnya aparat dalam menyelesaikan penyakit Saritem. Dana ratusan juta rupiah, bahkan mungkin mencapai miliaran rupiah dikutip oleh oknum pemerintah dari lokasi ini. Hanya saja, Budi enggan menyebut siapa dan berapa angka pastinya. 

Entah cara tegas ataukah manusiawi yang paling tepat untuk menuntaskan penyakit Saritem. Yang pasti, selama 4 tahun keberadaan pontren DT, jumlah PSK yang ada di lokasi tersebut telah jauh berkurang dari sebelumnya. Menurut Ketua Rw 07 Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Yayan Kristian (35), jumlah PSK yang berada di dua wilayah, RW 07 dan RW 09 sekitar 350 orang, jauh berkurang dari sebelumnya yang berjumlah lebih dari 600 PSK. Sedangkan jumlah germo saat ini sejumlah 74 orang dan calo berjumlah lebih dari 140 orang.  

Pontren, menurut Yayan, secara tidak langsung telah mempersempit ruang gerak lokasi pelacuran. Kini, lokasi pelacuran terkonsentrasi di beberapa tempat, seperti di Rw 07, dari 10 Rt yang ada, hanya menyisakan 29 rumah yang tersebar di 4 Rt. Di Rt 01 ada 2 rumah, Rt 08 ada 1 rumah, Rt 09 ada 9 rumah, dan Rt 10 terdapat 10 rumah. Sedangkan untuk Rw 9, rumah prostitusi masih mendominasi hampir seluruh wilayah tersebut. Dari 48 rumah yang ada, 45 rumah diantaranya merupakan rumah bordil. 

“PSK semuanya orang luar, 85% orang Indramayu. Kalau germo, ada sekitar 20 orang yang warga sekitar. Kebanyakan pendatang, terutama warga keturunan,”ujar Yayan menjelaskan.  

Yayan mengakui, bahwa 75% warga masih memiliki ketergantungan yang akut pada komplek pelacuran. Banyak warga yang mempunyai usaha yang masih bersinggungan dengan Saritem. Warga Rw 07, imbuh Yayan, banyak yang bekreja sebagai pedagang. Dan adalah sebuah hal yang wajar, seorang pedagang mencari keramaian agar dagangannya laku.  

Ketergantungan ekonomi masyarakat pada Saritem, tidak dibiarkan begitu saja oleh para pemuda warga sekitar. Yudi (29), ketua karang taruna Rw 09 mengatakan, dirinya dan beberapa pemuda didaerah tersebut mulai merintis membangun industri sabun colek dan pembuatan kaligrafi. Walau hasilnya tak seberapa, para pemuda setempat, menurut Yudi, tak ingin bernasib sama dengan generasi orang tua mereka.  

“Kami berusaha agar tidak tergantung pada lokasi prostitusi. Biarlah orang tua kami saja, kami coba putus generasi kami,”ucap Yudi penuh harap. 

Yudi yang sudah hampir 10 tahun tinggal di daerah tersebut mengatakan, sangat sedikit pemuda masyarakat yang berinteraksi dengan para PSK. Pemuda, kata Yudi, walau rata-rata hanya tamatan SMP, banyak yang bekerja di pabrik atau daerah di luar Saritem. Kegiatan sabun colek dan kaligrafi dilakukan untuk para pemuda yang masih belum mempunyai pekerjaan. Jumlahnya, kata Yudi, mencapai 20 orang berusia 15-24 tahun. 

“Kita bisa buat 50 kantong perhari. Untuk penjualan kita tidak lakukan di wilayah prostitusi, tapi di luar wilayah tersebut. Kami tidak mau tergantung, dalam bentuk apapun,”ucap pria kelahiran Ambon yang juga bekerja di salah satu industri kimia yang ada di Bandung. 

Sementara itu, berdasarkan data Collection of Project Achievment yang dibuat oleh Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pada 2003. LSM yang aktif mengkampanyekan kesehatan reproduksi seksual dan AIDS itu, mencatat 310 orang berusia antara 14-25 tahun dengan status janda menjadi PSK di wilayah Saritem.  

Menurut Mashadi, assistant project PKBI di Saritem, di Rw 07 terdapat 151 orang pekerja seks, 29 pengusaha, dan 100 kamar sewa. Sedangkan di Rw 09, terdapat, 165 pekerja seks, 44 orang pengusaha, dan 100-an kamar sewa.  

Masalah ekonomi, menurut Hadi, masih menjadi faktor utama keberadaan Saritem. Ia sepakat dengan ide yang diungkapkan oleh Budi Radjab. Seharusnya pemerintah membuka lapangan kerja yang dapat menyerap tenaga kerja dari kalangan PSK. Mendirikan pontren, dirasa kurang cocok dan tidak menyelesaikan masalah.  

Berdasarkan temuan PKBI dilapangan, ada sejumlah PSK di Saritem yang mempunyai cerita tragis, terperosok ke dalam lembah nista. Karena masalah ekonomi, sejumlah orang tua tega mengorbankan anak gadisnya yang masih berusia belasan tahun untuk bekerja sebagai pekerja seks. Gadis-gadis itu, dijadikan sebagai tulang punggung keluarga dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya di kampung.  

Ditambahkan Hadi, hampir 70% diantaranya hanya lulus Sekolah Dasar, bahkan tak tamat. Tak heran jika mereka sangat mudah dibodohi dan dieksploitasi oleh para germo di lokasi tersebut. Dari tarif yang berkisar antara Rp 50.000 – Rp 200.000, PSK hanya mendapat jatah sebesar 40%. Sisanya, 40% untuk germo dan 20% untuk calo. Itu pun uangnya tak bisa langsung diambil saat itu juga. Harus diendapkan beberapa waktu lamanya. Bahkan, pernah terjadi, germo berhutang jutaan rupiah pada PSK. 

“Eksploitasi besar-besaran dilakukan oleh germo, sehari rata-rata mereka (PSK-red) melayani 6-7 tamu. Libur hanya ketika menstruasi dan tanggal merah,”jelas Hadi. 

Penyakit menular seksual (PMS) pun rentan menghampiri para PSK. Saat ini, tercatat 60% PSK terkena penyakit seksual semacam gonorhea (GO), klamidia, sipilis, herpes, dan kutil kelamin. Untuk HIV, kata Mashadi, walau tidak menutup kemungkinan, belum pernah ditemukan di lokasi Saritem. 

Alasan kesehatan, itulah yang digunakan oleh PKBI untuk mengampanyekan gerakan penggunaan kondom, bahkan terkadang membagikannya secara gratis atau dengan harga murah kepada para PSK. Hal ini, kata Hadi, mengingat Jawa Barat pada akhir Maret 2004 naik peringkat ke urutan ketiga dalam jumlah penderita HIV / AIDS, sejumlah 848. Padahal, pada Desember 2003, masih berada di urutan keempat dengan 723 penderita HIV / AIDS. 

“Gila, 3 bulan naik 100 lebih penderita. Kampanye kondom merupakan solusi. Kalau perlu, buat perda untuk itu,”lanjut relawan PBB itu dengan mimik serius. 

Bagaimana perkembangan Saritem selanjutnya, hanya waktu yang akan menjawabnya.tapi yang pasti, saat ini bukan lagi saatnya berdebat mengenai telur ataukah ayam yang muncul pertama kali. Saatnya untuk mulai bergandengan tangan dalam menyelesaikan sebuah masalah. Walau fenomena gontok-gontokan itu perlu, cukuplah dijadikan sebagai sebuah bumbu penyemangat saja. ***(mas)

5 thoughts on “Tulisan 1 : Masihkah Tersisa Saritem?

  1. Gila benerrrrrrternyata harga cew itu murah banget sama dengan harga sandal,,,Haruskah dunia ini dihiasi dengan wanita2 semacam ini,,,,????

  2. Informasi yang juragan tanya ada di dalam pages en atau di dalam group

    Jika juragan berminat silahkan baca informasi lanjutannya di:

    Profile

    http://www.facebook.com/profile.php?id=100001900477159

    Pages:Saritem Bandung

    http://www.facebook.com/pages/Bandung-Indonesia/Saritem-Bandung/166557740043780?v=app_4949752878

    Dan bergabung di group
    Sayangi Lala

    http://www.facebook.com/home.php?sk=group_170835889604074&view=members

    *No. HP, peta lokasi semua lengkap di pages dan di dalam group

    Salam Hormat,
    ^_^

    ###
    (Pesan ini harus dibuka menggunakan komputer or warnet.kalo ga ngerti bisa minta tolong op warnet untuk membantu)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s