Dulu, dua tahun lalu, gw pernah belajar tentang jurnalisme di sebuah kampus besar di Bandung. Tentang idelisme, tentang hukum dan peraturan, tentang metodologi, tentang menulis, tentang membentuk opini, dan masih banyak lagi…
tapi bukan itu yang gw ingat, gak cuma itu…. Lebih mapan akan cerita tentang sebuah harapan, sebuah angan, sebuah cita, bahkan sebuah pesan indah pernah terucap dari dosen favoritku tercinta, noor achirul layla. bu ea.
salah satu hal yang membuat gw masih bisa “hidup” sampai saat ini. masih mampu berdiri, bertahan, dan menatap dunia yg kadang terlalu “jahat” dan aneh untuk dipahami.
“menjadi seorang idealis, bisa saja menjadi orang tak berpunya. hanya sebuah kepuasan batin yang kadang sulit didapat di manapun. tapi itu adalah sebuah pilihan, dan gw mau lo berjalan dengan kepala tegak dengan apa yang lo yakini,” kata bu ea dalam sebuah kuliah di tahun 2002.
sungguh kalimat itu, terutama yg akhir. GW MAU LO BERJALAN DENGAN KEPALA TEGAK DENGAN APA YANG LO YAKINI. dah ngancurin otak gw. melabrak dengan sangat keras, dan menampar cara pandang gw tentang hidup. bahwa masih ada yang bisa dibanggakan, bisa diraih, dan itu sebuah hal yang menyenangkan….
bu ea dah lama gak ada….dah pulang, balik ke yang punya. tapi gw gak nangis kala itu. hanya mengatupkan geraham dengan sangat keras. kedua tangan mengepal padat dalam kantung celana. menatap kosong. dan berasa ada suatu cerita yang hilang.
hhhhh….
kata2 yang diucapkannya masih saja terdengar, keras. tapi gw masih kehilangan arah dan belum menemukan bentuk, bagaimana cara menggapainya.
sekarang gw gak lagi maen di dunia jurnalistik, hmmm…tepatnya dunia media massa. cetak terutama. bahkan sedang dan terus berniat akan meninggalkan dunia itu untuk selamanya. mencari jalan lain yang dirasa lebih mudah menjadi seorang diri yang mampu berjalan dengan kepala tegak.
apalagi? apa yang mau gw rasakan selain kepuasan hati dengan mampu bertahan di atas sebuah pendirian, sebuah keyakinan. gak ada!!!
sekarang, dunia gw bisa memilih, tapi masih hitam-putih. berjalan tegak atau mencium kaki orang. menjadi diri atau terbungkuk di hadapan para penjaja.
dan gw, alhamdulillah. belum tergeming dari keyakinan lama. masih mampu bertahan dari goncangan -yang gw pikir- sangat kuat. dan entah sampai kapan.
hati ini hanya menyimpan sebuah harap.
“GW HARUS BERJALAN DENGAN KEPALA TEGAK, SAMPAI MATI DAN TANPA TAPI!!!!!!”
buat bu ea,
masih bu, aku masih bisa….dan akan tetap bisa….
kepala ini masih lurus menghadap, masih menantang sebuah asa. belum hilang……
semoga Allah merahmatimu,
salam cinta……