Prof Dr. James Hallyward
Kepala Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Sumatera Barat
”Kerja Sama Antar Instansi, Itu Yang Penting”
Capaian sektor pariwisata Sumatera Barat (Sumbar) naik secara signifikan sejak 2007 lalu. Hingga tak salah apabila Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) menetapkannya sebagai salah satu dari lima destinasi unggulan nasional di luar Jawa, di samping Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Sulawesi Utara (Sulut). Bagaimana kiat pemerintah daerah Sumbar dalam mengelola sektor wisatanya?
Sektor pariwisata Sumbar naik signifikan, bagaimana ceritanya?
Ketika Depbudpar menetapkan lima destinasi unggulan, dua tahun lalu, kami di Sumbar sudah lebih dulu mengarahkan program pembangunan ke arah sektor pariwisata, bahkan sampai tingkat kabupaten / kota. Kami mengharapkan bahwa di setiap kabupaten / kota harus ada kawasan andalan pariwisata. Sehingga pemerintah kabupaten / kota fokus pada pembangunan kawasan andalan tersebut.
Antara gubernur dan walikota / bupati seperti ada pembagian kerja, membangun daerahnya sendiri, namun untuk kepentingan yang lebih besar. Karena sektor pariwisata kan tidak bisa main sendirian. Ia didukung oleh tidak kurang dari 18 instansi horizontal. Jadi memudahkan kami, pemerintah provinsi dalam mempromosikannya. Kalau ada orang yang bertanya tentang destinasi unggulan, unggulannya itu yang mana? Langsung terpetakan.
Lebih mudah?
Dengan rencana kerja yang sinergi tadi, memang jadi lebih mudah. Pembangunan pariwisata daerah juga akan terfokus ke kawasan andalan. Walau memang prosesnya tidak semudah kelihatannya.
Bagaimana memulainya?
Perlu diketahui, dulu, sebagian anggota masyarakat beranggapan bahwa pariwisata itu dekat dengan maksiat. Sementara, di Sumbar ini agamanya kuat. Tantangan kami adalah harus bisa membuktikan bahwa pariwisata tidak sama dengan maksiat. Tapi malah banyak manfaat daripada mudharatnya.
Masyarakat resisten?
Resistensinya kuat sejak awal. Karena mereka lihat, bagaimana orang telanjang di pantai, turis berjemur, dll. Bagi kami, orang Sumbar, itu maksiat. Tidak boleh. Lain ladang, lain belalang. Di Papua, Baduy, dan daerah lain mungkin beda. Punya budaya yang berbeda. Tapi di Sumbar hal demikian adalah terlarang. Jangan samakan dan itu sah-sah saja. Meyakinkan masyarakat memang tidak mudah, tapi memberikan bukti adalah wajib bagi kami.
Yang ingin saya katakan adalah, bangunlah konten lokal itu, ada budaya lokal. Sumbar kebetulan kaya, ada sistem matrilineal-nya juga. Bagi kami, orang Sumbar, ini semua daily living, sudah biasa. Tapi bagi wisatawan, daily living kami, akan menjadi luar biasa.
Mulai dari cara kita makan. Lihat restoran padang, dihidangkan dulu semua makanannya. Silakan anda pilih, yang anda makan itu yang dibayar. Itu sistem egaliter masyarakat Sumbar.
Tapi memang modal awal sumber pariwisata Sumatera Barat, sudah ada?
Ya memang kami bersyukur dianugerahi pemandangan yang indah, pegunungan, dan juga sekaligus menjadi kawasan gempa. Tapi perlu diingat bahwa masyarakat Sumbar hidup berjalan bersama adat istiadat. Kuat dalam memegang ”adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah”. Sangat ketat dengan peraturan keagamaan.
Pendekatannya kami lakukan dari sana, dengan pendekatan keagamaan. Bahwa Islam juga mengajarkan tentang pariwisata. Apabila kamu sudah selesai shalat shubuh maka berhamburanlah kamu ke seluruh muka bumi. Berhamburan maksudnya kan berjalan-jalan, bisa juga dikatakan pariwisata.
Lantas ?
Kami memulainya 2005. Kami sepakat, mulai dari tingkat gubernur sampai bupati / walikota bahwa kami akan bersama-sama fokus pada pariwisata. Karena mau apalagi, sumber alam kami tidak punya. Semua tertuang dalam RPJM, bahwa pariwisata adalah salah satu unggulan kami. Bersama-sama mendukung, kabupaten / kota mendukung, provinsi mendukung, pusat juga akhirnya mendukung dua tahun kemudian karena melihat kesungguhan kami. Infrastruktur dan strategi kami bangun.
Kapan titik tolaknya?
Belum, kami justru jatuh lagi. Dihajar isu. Tahun 2007 kami sempat khawatir dan terpukul karena isu tsunami. Isu itu lebih berbahaya daripada kejadian sebenarnya. Kalau isu kan tidak jelas kapan mulai dan kapan berakhirnya. Sampai dua bulan, tidak jelas keadaanya. Tidak ada wisatawan yang berani datang.
Perlahan ada titik terang. Di awal, saat hangat-hangatnya gempa, banyak peneliti Jepang yang datang, geologist dan semisalnya. Banyak mengadakan seminar internasional tentang gempa bumi. Lantas kami buat strategi, kalau orang bicara tentang pedihnya gempa, kami bicara wisata gempa. What happen after eruption. Kami punya banyak. Ada ngarai, lembah, macam-macam. Jangan lihat rusaknya saja paska gempa, tapi lihat bagaimana perubahan alamnya.
Aceh misalnya, ada kapal di tengah jalan. Itu yang kamu jual, bukan kenapa ada kapal. Tidak ada satupun di dunia ini, ada kapal di tengah jalan.
Tapi tentu kami juga tidak lupa memerhatikan hal tersebut, cuma dalam pembangunannya, memang strategi kami untuk tidak keluar di awal. Semisal kami bangun jalur evakuasi tsunami. Tapi kami bilangnya ke masyarakat, itu jalur wisata ke arah A. Padahal, persiapannya untuk evakuasi. Namun bisa meraih dua hal sekaligus.